Jam Tangan Rp11,7 Miliar Sahroni Dijarah, Dari Ucapan Provokatif hingga Perampasan Aset oleh Rakyat

SUARAMALANG.COM, Jakarta – Rumah Wakil Ketua Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni di Tanjung Priok, Jakarta Utara, digeruduk massa pada Sabtu (30/8/2025).

Dalam aksi yang berujung penjarahan itu, salah satu barang paling mencolok yang raib adalah jam tangan Richard Mille RM 40-01 Automatic Tourbillon McLaren Speedtail dengan nilai mencapai Rp11,7 miliar.

Jam tangan supermewah ini didesain terbatas dengan inspirasi mobil McLaren Speedtail yang mampu menembus kecepatan 402 km/jam. Menggunakan material titanium kelas 5 dan Carbon TPT, serta tali karet asimetris dengan aksen oranye ikonik McLaren, arloji tersebut menjadi simbol eksklusivitas di kalangan ultra-kaya.

Peristiwa ini tidak hanya dilihat sebagai aksi kriminal semata, tetapi juga memunculkan tafsir sosial: sebuah bentuk “perampasan aset oleh rakyat” yang sakit hati atas gaya hidup pejabat.

Kemarahan publik sebelumnya sudah terpicu ketika Sahroni melontarkan ucapan provokatif terkait demonstrasi menolak DPR.

“Yang mau DPR bubar itu orang paling tolol sedunia,” kata Ahmad Sahroni pada Rabu (27/8/2025).

Ucapan itu memperuncing ketidakpuasan masyarakat, terutama saat dihadapkan dengan fakta bahwa anggota DPR menerima gaji dan tunjangan resmi lebih dari Rp100 juta per bulan.

Sejumlah pengamat menyebut, kontradiksi antara kesejahteraan pejabat dan penderitaan rakyat menciptakan “jurang sosial” yang semakin dalam.

“Penjarahan tetaplah tindak pidana. Tetapi kita tidak bisa menutup mata bahwa peristiwa ini adalah ekspresi kemarahan rakyat terhadap simbol ketidakadilan,” ujar seorang analis politik, Minggu (31/8/2025).

Kasus hilangnya jam tangan Rp11,7 miliar itu kini bukan hanya perkara hukum. Ia menjelma sebagai simbol bagaimana kemewahan elit politik bisa berbalik menjadi pemicu amarah massa, hingga melahirkan fenomena perampasan aset oleh rakyat.

Polisi masih memburu pelaku penjarahan. Namun, perdebatan tentang legitimasi moral DPR kembali mencuat: apakah wakil rakyat benar-benar hidup untuk rakyat, atau justru hidup jauh dari realitas rakyatnya sendiri.

Pewarta : M.Nur

Exit mobile version