SUARAMALANG.COM, Jakarta – Penjarahan rumah anggota DPR Ahmad Sahroni di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (29/8/2025) menyingkap fakta mencengangkan mengenai barang-barang koleksi mewah yang turut raib dibawa massa.
Dalam rekaman video yang beredar, sejumlah warga terlihat mengangkat sebuah replika mobil balap Ferrari berwarna merah yang kemudian teridentifikasi sebagai miniatur Ferrari F1-2000 skala 1:8 produksi Amalgam Collection.
Produk tersebut diketahui dijual secara resmi di situs internasional Amalgam Collection dengan harga US$11.495 atau setara Rp175 juta per unit, menjadikannya salah satu miniatur langka yang biasa diburu kolektor dunia.
Selain miniatur Ferrari tersebut, sejumlah barang mewah lain juga dijarah, termasuk piano, perangkat elektronik, hingga patung koleksi yang ditaksir bernilai ratusan juta rupiah.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa tindakan penjarahan merupakan tindak kriminal murni dan para pelaku akan ditindak sesuai hukum yang berlaku.
Namun, peristiwa ini tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan politik yang mendahuluinya, terutama ucapan provokatif Ahmad Sahroni yang viral di media sosial beberapa hari sebelumnya.
Pada Rabu (27/8/2025), Sahroni secara terbuka menyampaikan pernyataan keras menanggapi desakan publik terkait pembubaran DPR.
“Menurut saya, orang yang ingin DPR bubar itu orang tolol, paling tolol sedunia,” ujar Sahroni saat diwawancarai awak media di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta.
Pernyataan tersebut segera memicu gelombang kritik luas di media sosial dan memantik kemarahan sejumlah kelompok masyarakat yang merasa dilecehkan oleh wakil rakyatnya sendiri.
Kemarahan publik semakin membesar ketika fakta mengenai besarnya gaji dan tunjangan anggota DPR kembali mencuat ke ruang publik.
Berdasarkan data resmi, anggota DPR menerima gaji pokok, tunjangan, dan fasilitas lain yang totalnya dapat mencapai lebih dari Rp100 juta per bulan.
Nominal fantastis itu kerap menuai kritik, terutama di tengah situasi ekonomi yang sulit dan harga kebutuhan pokok yang terus meningkat bagi masyarakat.
Ketimpangan gaya hidup mewah anggota DPR dengan kondisi riil rakyat kecil menambah persepsi negatif terhadap lembaga legislatif.
Pengamat politik menilai ucapan provokatif Sahroni menjadi katalis yang mempercepat ledakan kemarahan publik, yang pada akhirnya berujung pada penyerangan rumah pribadinya di Tanjung Priok.
Meski penjarahan jelas merupakan perbuatan melawan hukum, peristiwa ini sekaligus menjadi gambaran nyata betapa rapuhnya legitimasi DPR di mata rakyat ketika ucapan dan gaya hidup anggotanya dinilai jauh dari empati terhadap penderitaan masyarakat.
Peristiwa Tanjung Priok kini menjadi simbol benturan antara kemewahan elit politik dan rasa sakit hati rakyat, sekaligus peringatan bagi wakil rakyat bahwa provokasi dan arogansi bisa berbalik menjadi bumerang yang menghancurkan kepercayaan publik.
Pewarta : M.Nur