banner iklan

Gus Fahrur : NU Harus Kembali ke Pesantren

  • Bagikan
KH.Dr.Ahmad Fahrur Rozi, Wakil Ketua PWNU Jatim

Diakhir pembicaraan, Gus Fahrur memandang, para ulama ingin menjaga kemurnian akidah aswaja dan tidak ingin NU disusupi oknum berfaham Liberal ataupun radikal. Terlebih pasca muktamar ke 31 di solo tahun 2005, pihaknya ikut mengantar almarhum RKH Idris Marzuqi (Lirboyo) bersama rombongan para kyai sepuh diantaranya KH Warson munawwir (Krapyak Jogja ), KH zainuddin Djazuli (Ploso), KH Muhammad Soebadar (Pasuruan) untuk sowan kepada KH Sahal Mahfudz, Rois Aam terpilih di Muktamar Solo ketika itu, agar beliau menolak masuknya kader liberal kedalam struktur kepengurusan PBNU.

“Tentu saja kepengurusan mendatang juga harus di isi kaum intelektual dan pemikir visioner. Namun mereka harus memiliki sanad keilmuan yang jelas. Pernah menuntut ilmu di pesantren dan mengalami lelaku akhlaq spritual pesantren. Atau bersekolah dan mempunyai gelar akademik asli, bukan sekedar gelar bayaran,” ucapnya.

banner 720x90

Masih kata Gus Fahrur yang pernah menjabat Wakil Ketua PP RMI PBNU 2005-2015 tersebut, para profesional ini perlu di akomodir di dalam lembaga dan banom strategis NU.

BACA :  Ada 21 Daerah Angka Kematian Harian Nol, Khofifah Klaim Penanganan Covid-19 di Jatim Terkendali

“Namun untuk menjadi pengurus harian PBNU, diperlukan jenjang meritokrasi atau sistem yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memimpin berdasarkan kemampuan, prestasi dan rekam jejak pengabdian di NU. Bukan sekedar aktifis dan makelar yang karena masuk kepengurusan PBNU mendadak bergelar kyai,” Gus Fahrur mengakhiri. (*)

banner ads
  • Bagikan