SUARAMALANG.COM – MotoGP Mandalika bukan sekadar kompetisi adu cepat di lintasan. Gelaran balap motor kelas dunia ini juga menjadi momentum untuk memperkenalkan pariwisata Indonesia, menggerakkan ekonomi lokal, dan memperkuat posisi Mandalika sebagai destinasi sport tourism.
MotoGP Mandalika 2026 berlangsung pada 9–11 Oktober 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kehadiran pembalap, tim, dan penonton dari berbagai negara membuka peluang bagi sektor pariwisata dan usaha lokal untuk ikut merasakan dampak penyelenggaraan event internasional.
Ada lima alasan mengapa MotoGP Mandalika memiliki arti lebih luas daripada persaingan para pembalap untuk merebut podium.
1. Memperkenalkan Indonesia ke Panggung Dunia
Perhatian terhadap MotoGP Mandalika tidak hanya tertuju pada aksi pembalap di lintasan. Pemberitaan internasional, siaran balapan, dan konten media sosial turut memperkenalkan Mandalika serta Lombok kepada audiens yang lebih luas.
Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk menunjukkan bahwa Indonesia memiliki destinasi wisata dengan kekayaan alam dan budaya yang beragam. Dengan demikian, promosi melalui olahraga dapat menjadi pintu masuk untuk menarik minat wisatawan mengunjungi Indonesia.
2. Mendorong Pergerakan Wisatawan
Ajang balap internasional dapat menjadi alasan bagi wisatawan untuk datang ke Lombok. Sebagian pengunjung berpeluang memperpanjang perjalanan dengan menjelajahi pantai, desa wisata, destinasi alam, hingga pusat kuliner di sekitar Mandalika.
Perjalanan yang melampaui agenda balapan berpotensi memperluas aktivitas pariwisata di daerah setempat. Semakin banyak destinasi yang dikunjungi, semakin besar pula peluang pengeluaran wisatawan menjangkau berbagai layanan wisata.
3. Membuka Peluang Ekonomi bagi Masyarakat Lokal
Kedatangan wisatawan dapat meningkatkan permintaan terhadap penginapan, restoran, transportasi, jasa perjalanan, produk UMKM, dan berbagai layanan ekonomi kreatif. Peluang tersebut membuat dampak MotoGP berpotensi menjangkau masyarakat di luar kawasan sirkuit.
Berdasarkan kajian Bappenas bersama ITDC dan MGPA yang disebut dalam bahan sumber, penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2025 diperkirakan memberikan dampak ekonomi sekitar Rp2,7 triliun hingga Rp4,7 triliun.
Angka tersebut menggambarkan besarnya potensi perputaran ekonomi yang berkaitan dengan penyelenggaraan event. Namun, dampak yang dirasakan setiap pelaku usaha dapat berbeda, bergantung pada lokasi, jenis usaha, dan keterlibatan mereka dalam aktivitas pariwisata selama acara berlangsung.
4. Memperkuat Mandalika sebagai Destinasi Sport Tourism
Mandalika memiliki daya tarik karena menggabungkan kegiatan olahraga dengan potensi wisata alam Lombok. Sirkuit menjadi pusat penyelenggaraan balapan, sedangkan pantai dan destinasi di sekitarnya menawarkan pengalaman tambahan bagi pengunjung.
Kombinasi tersebut menjadi modal untuk mengembangkan sport tourism atau pariwisata berbasis olahraga. Konsep ini menempatkan sebuah event sebagai daya tarik perjalanan, sekaligus memberi kesempatan kepada wisatawan untuk menikmati destinasi di luar agenda utama.
Keberlanjutan manfaatnya bergantung pada kemampuan pengelola dan pemangku kepentingan daerah dalam menghubungkan event olahraga dengan layanan wisata yang berkualitas.
5. Membawa Pulang Cerita tentang Indonesia
Pengalaman wisatawan selama berada di Mandalika dapat menjadi bagian penting dari promosi destinasi. Selain balapan, mereka bisa membawa pulang cerita mengenai kuliner, pemandangan alam, budaya lokal, dan interaksi dengan masyarakat setempat.
Pengalaman tersebut berpotensi dibagikan kepada keluarga, teman, maupun pengikut di media sosial. Cerita yang muncul dari pengalaman langsung dapat memperluas pengenalan terhadap Lombok dan Indonesia di luar jangkauan promosi resmi.
Pada akhirnya, MotoGP Mandalika mempertemukan olahraga, pariwisata, promosi destinasi, dan peluang ekonomi dalam satu penyelenggaraan. Tantangan berikutnya adalah memastikan manfaat tersebut tidak berhenti ketika balapan selesai, tetapi berlanjut melalui pertumbuhan usaha lokal dan pengembangan pariwisata yang berkelanjutan.












