SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Isu pembangunan negara berkembang dikupas tuntas dalam Kuliah Tamu Awal Tahun Magister Sosiologi UMM. Bertempat di GKB IV, Universitas Muhammadiyah Malang, Sabtu lalu ( 10/01/2026).
Acara yang menggandeng praktisi kebijakan Kota Malang dan mahasiswa internasional serta guru-guru Sosiologi yang tergabung dalam MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Sosiologi Kabupaten Malang dan MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) Kota Batu ini berhasil jembatani analisis akademis dengan realitas yang sesungguhnya.
Sebagai pemantik diskusi, Rachmad K. Dwi Susilo, Ph.D, Ketua Program Studi Magister Sosiologi UMM membuka diskusi dengan pertanyaan langsung menohok. “Bicara pembangunan jangan terjebak pada pembangunan fisik saja.
Pembangunan sosial dan komunitas juga tidak kalah penting. Apa artinya fisik dibangun tetapi tidak ada yang memanfaatkan atau merawat? Kemudian, pertanyaan sosiologisnya: siapa yang sebenarnya diuntungkan dari pembangunan itu? Ini soal kuasa dan distribusi manfaat,” tegasnya.
Selanjutnya, Rachmad menjelaskan penelusuran teori-teori pembangunan mulai teori modernisasi sampai teori sustainable development goals (SDGs) memberikan peta kritis untuk membaca program-program pembangunan di sekitar kita.
Sementara itu, sebagai pemateri pertama, Kepala Bagian Pemerintahan Setda Kota Malang, Yuyun Nanik E., S.STP., M.Si., memaparkan terobosan Program RT Berkelas sebagai salah satu Program Unggulan Kota Malang.
“Dana Rp50 juta per RT ini adalah instrumen untuk membalik logika perencanaan. Dari warga, oleh warga. Ini benar-benar pendekatan bottom up,” paparnya.
Namun, ia mengaku perlu ‘perjuangan’ untuk mengarahkan usulan warga. Ia menunjukkan data dari “kamus usulan”
“Awalnya, 20% usulan adalah pengadaan tenda dan kursi. Kami harus ingatkan, ini untuk menyelesaikan banjir dan kemiskinan, bukan untuk bisnis sewa tenda RT,” candanya serius.
Sedangkan pemateri 2, Jacqueline Makolo, mahasiswa Magister Sosiologi UMM asal Tanzania, membawa analisis segar. “Having a female president does not automatically eliminate patriarchal structures. Women’s participation often remains symbolic without real power in decision-making,” yang diartikan ke dalam bahasa Indonesia,
“Memiliki presiden perempuan tidak serta-merta menghapus struktur patriarki. Partisipasi perempuan seringkali hanya simbolis tanpa kekuatan nyata dalam pengambilan keputusan,” ungkapnya. Presentasinya mengingatkan bahwa pemberdayaan harus substantif, bukan sekadar memenuhi kuota.
Dalam sesi diskusi, Hari, seorang guru sosiologi asal Kabupaten Malang memberi komentar dirinya belum sepenuhnya percaya pada komitmen pemerintah, adanya surat edaran dalam pemberdayaan itu jelas menunjukkan kepentingan negara yang masih mengatur-atur.
Yuyun Nanik dengan santai meyakinkan bahwa pemerintah kota selalu berupaya mencari jalan keluar agar pembangunan di Kota Malang tetap berjalan dengan baik.
Selain itu terus diupayakan agar tujuan dan harapan program benar-benar berhasil untuk menyejahterakan rakyat. Sementara, Rachmad menyatakan bila sosiolog harus memberi masukan dan analisis kritis. Kritik bersifat membanguin sepanjang memberi perbaikan kepada program-program pembangunan.
“Di sinilah sosiologi kebijakan penting: untuk menganalisa regulasi agar benar-benar berpihak kepada masyarakat sebagai penerima manfaat kebijakan. Seperti dalam Perwali Nomor 18 tahun 2025 yang mengatur RT Berkelas ini hanya diatur evaluasi monitoring pada internal pemerintah atau birokrasi. Belum diatur evaluasi dari perguruan tinggi. Padahal sosiologi matang dalam penelitian evaluasi kebijakan dan program, “tegasnya
Kuliah tamu ini ditutup dengan pesan kuat: ilmuwan sosial harus turun dari menara gading. “Sosiolog tidak boleh puas hanya dengan teori abstrak. Harus masuk ke ruang kebijakan, memahami regulasi, dan mendampingi proses agar pembangunan benar-benar membumi dan memberdayakan,” pungkas Rachmad.
Sebagai bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah, Rachmad menegaskan, Magister Sosiologi UMM terus berkomitmen mencetak lulusan yang bukan hanya piawai analisis, tetapi juga siap terjun dalam gelanggang model-model pembangunan yang kompleks.
Pewarta: *M.Hanan





















