SUARAMALANG.COM, Kabupaten Malang – Hujan deras yang mengguyur wilayah Malang Barat sejak Rabu (21/1/2026) sore memicu serangkaian bencana di Kecamatan Pujon dan Kasembon. Selain banjir yang merendam permukiman, tanah longsor juga terjadi di sejumlah titik dan sempat menutup jalur strategis Malang–Kediri.
Salah satu dampak paling parah adalah banjir sampah yang menggenangi Desa Pujon Lor dan Desa Ngroto. Tumpukan sampah hanyut bersama luapan air sungai hingga memenuhi badan jalan utama Malang–Kediri–Jombang sekitar pukul 19.00 WIB. Arus lalu lintas pun tersendat, sementara warga merekam kondisi tersebut dan menyebarkannya di media sosial.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang memastikan banjir sampah tersebut bukan semata akibat curah hujan tinggi, melainkan dipicu jebolnya Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di Desa Pandesari.
Kepastian itu disampaikan setelah BPBD melakukan peninjauan lapangan dan koordinasi lintas sektor pada Kamis (22/1/2026) pagi.
“Ini tadi saya sudah pastikan, banjir sampah di Desa Pujon Lor maupun Ngroto yang terjadi tadi malam penyebab utamanya karena ada penumpukan sampah di aliran sungai. Dan ini tadi saya koordinasi dengan Polsek, Koramil, serta perangkat Desa Ngroto dan Pujon, sampai akhirnya dipastikan berasal dari jebolnya TPST yang ada di Desa Pandesari,” tegas Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono.
Menurut Sadono, jebolnya TPST menyebabkan material sampah dalam jumlah besar masuk ke aliran sungai. Debit air yang meningkat drastis membuat sampah terbawa arus, menyumbat beberapa titik aliran, termasuk anak Sungai Konto, sebelum akhirnya meluap ke jalan raya dan permukiman.
Tak hanya banjir, hujan berintensitas tinggi sejak sore juga memicu tanah longsor di enam titik wilayah Pujon. Longsor pertama terjadi sekitar pukul 18.30 WIB.
Lokasi longsor tersebar di Dusun Talasan, Desa Sukomulyo; Jalan Raya Mantung; Dusun Cukal, Desa Bendosari; Jalan Raya Bendosari; Desa Wiyurejo; serta Dusun Bara’an, Desa Pait. Rata-rata tebing yang runtuh memiliki tinggi sekitar 30 meter dengan lebar 10 meter.
Material longsor dengan ketebalan mencapai tiga meter menutup total jalur provinsi Malang–Kediri, sehingga kendaraan sempat tidak bisa melintas.
Longsor susulan juga terjadi sekitar pukul 19.00 WIB di Dusun Slatri, Desa Pait, Kecamatan Kasembon. Tebing setinggi tujuh meter dengan panjang 10 meter runtuh dan menimpa rumah warga.
“Rumah milik Nanang Ari Sahono yang dihuni empat orang mengalami kerusakan di bagian irigasi hingga air membanjiri rumahnya,” ujar Sadono.
Selain longsor, BPBD mencatat banjir mulai terjadi sejak pukul 17.30 WIB di Desa Ngroto dan Desa Pujon Lor. Sungai Baloh meluap akibat hujan deras yang turun tanpa jeda.
Puluhan rumah dilaporkan terendam. Meski demikian, sebagian besar warga bergerak cepat melakukan pembersihan secara swadaya sejak malam kejadian.
“Warga sejak tadi malam sudah bergerak secara swadaya melakukan pembersihan awal. Kami dari Pos 8 Ngantang juga langsung turun ke lokasi. Untuk sampah di jalan besar, penanganannya dibantu teman-teman dari DLH menggunakan dump truck,” jelas Sadono.
Ia menambahkan, secara umum dampak kerusakan di permukiman tergolong ringan. Genangan air sempat masuk ke dapur salah satu rumah warga yang berada di tepi sungai, namun tidak menimbulkan kerusakan berat.
Pasca kejadian, BPBD Kabupaten Malang terus berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk mengkaji dampak jebolnya TPST terhadap alur sungai serta merumuskan langkah pencegahan ke depan.
Sadono mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada mengingat potensi hujan masih tinggi dalam beberapa hari ke depan. Evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan TPST dan sistem pengamanan aliran sungai juga dinilai mendesak agar kejadian serupa tidak kembali terulang.



















