SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Kota Malang bakal menjadi pusat perhatian ribuan jemaah Nahdlatul Ulama (NU) pada awal Februari mendatang. Puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 NU dijadwalkan berlangsung pada 8 Februari 2026 melalui agenda Mujahadat Kubra yang diprediksi menyedot puluhan ribu peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Skala kegiatan yang besar membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Malang tak ingin setengah-setengah dalam melakukan persiapan. Sejumlah langkah antisipatif telah disiapkan, mulai dari pengamanan, rekayasa lalu lintas, hingga layanan kesehatan dan kebersihan kota.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyebut seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) sudah digerakkan untuk memastikan kegiatan berjalan lancar dan kondusif. Pemkot, kata Wahyu, berposisi sebagai fasilitator agar kegiatan keagamaan ini dapat berlangsung dengan aman dan nyaman, baik bagi jemaah maupun masyarakat umum.
“Fokus utama kami adalah pada kesiapan pengamanan, kebersihan kota, pengaturan lalu lintas, layanan kesehatan, serta pelayanan publik bagi para jemaah yang hadir,” terang Wahyu.
Tak hanya mengandalkan kekuatan internal, Pemkot Malang juga membangun kolaborasi lintas sektor. Sejumlah perguruan tinggi, unsur TNI-Polri, perbankan, hingga pelaku dunia usaha turut dilibatkan guna mendukung kelancaran acara. Sinergi tersebut dinilai krusial mengingat mobilitas massa yang besar dan durasi kegiatan yang berlangsung dari malam hingga pagi hari.
“Sinergi antara pemerintah dan masyarakat inilah yang dibutuhkan dan menjadi kekuatan dalam menjalankan setiap program kegiatan,” sambungnya.
Di sisi lain, perhelatan Mujahadat Kubra juga diproyeksikan membawa efek domino bagi perekonomian daerah. Kehadiran puluhan ribu jemaah diyakini akan mendorong perputaran ekonomi lokal, mulai dari UMKM, tingkat hunian hotel, hingga sektor kuliner dan pariwisata.
“Ini sejalan dengan program unggulan 1.000 Event dan diharapkan memberikan dampak sosial serta spiritual bagi masyarakat. Mujahadat Kubra dipandang sebagai ikhtiar bersama untuk memperkuat nilai-nilai keagamaan, mempererat ukhuwah, dan membawa keberkahan bagi Kota Malang,” tuturnya.
Sementara itu, dari kalangan Nahdlatul Ulama, penunjukan Kota Malang sebagai tuan rumah Mujahadat Kubra disebut bukan tanpa alasan. Ketua PCNU Kota Malang, KH Isroqunnajah Masduqi, mengungkapkan bahwa faktor historis menjadi salah satu pertimbangan utama para kiai.
“Malang Raya memiliki Pahlawan Nasional KH. Masykur yang berjuang bersama hizbullah. Karena itu, kami memiliki dua monumen masjid, yakni Masjid Sabilillah dan Masjid Hizbullah. Saya kira, alasan-alasan historis inilah yang menjadi pertimbangan para kiai memilih Kota Malang,” terang KH Isroqunnajah.
Selain nilai sejarah, kondisi geografis Kota Malang yang relatif sejuk juga dinilai mendukung pelaksanaan mujahadat. Suasana yang adem diharapkan mampu menghadirkan kekhusyukan, terlebih zikir dan doa akan dilantunkan sejak malam hingga menjelang pagi.
“Malang ini relatif adem sehingga bisa mendinginkan suasana. Apalagi saat lantunan zikir, kekhusukan di malam hari sampai pagi. Harapannya cuaca ikut mendukung, sehingga mujahadat ini menjadi luar biasa dan Malang menjadi media mujahadat yang bisa diterima Allah SWT,” tutup Gus Is-sapaan akrab KH Isroqunnajah.





















