Hari Pers Nasional 2026_970 x 250 px

HPN 2026 dan HUT ke-80 PWI Malang Raya Berlangsung Hangat dan Sederhana, Dihadiri Kapolresta hingga Wali Kota

Iklan

SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Potong tumpeng di markas PWI Malang Raya, Ruko Istana Gajayana Dinoyo, Minggu (15/2/2026), menjadi pembuka suasana hangat peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 dan HUT ke-80 PWI. Acara yang digelar sederhana itu justru menghadirkan dialog mendalam, mulai dari peran pers, stabilitas kota, hingga refleksi pahit tragedi Kanjuruhan.

Di hadapan wartawan dan tamu undangan, Kapolresta Malang Kota Kombes Putu Kholis Aryana berbicara terbuka soal pengalaman terberat dalam kariernya. Ia tak menghindar saat menyinggung tragedi di Stadion Kanjuruhan.

Iklan

“Kepolisiannya siapa? Ya lebih spesifik lagi ya Polres Malang yang bertanggungjawab atas pengamanan pertandingan malam hari itu saat terjadinya tragedi,” kata Putu, dikutip Times Indonesia, Minggu (15/2/2026).

Menurut Putu, dampak tragedi itu bukan hanya tekanan publik, tetapi juga menghantam mental internal kepolisian. “Di intern polri di Polres Malang saya menghadapi kehancuran. Anggota mentalnya drop, morilnya hancur, psikisnya tertekan. Waktu itu, saat saya menjadi Kapolres Malang pelayaan publik terganggu bahkan terhenti,” katanya.

Ia menggambarkan situasi yang tak mudah. Ada anggota yang enggan mengenakan seragam. Bahkan keluarga aparat ikut terdampak.

“Anak-anak polisi oleh pak Bupati juga diliburkan dari kewajiban sekolah karena menjadi target bullying. Istri polisi juga tidak berani ke pasar,” ujar Putu Kholis.

Saat hendak menemui keluarga korban, ia sempat dicegah karena situasi belum kondusif. Namun ia memilih tetap datang.

“Kalau terus begitu lha kapan selesainya. Akhirnya saya bismillah saja, saya punya keuntungan karena sosok baru sebagai Kapolres Malang sehingga mungkin bisa sedikit diterima saat harus mengunjungi keluarga mereka,” ujarnya.

Upaya pendekatan dilakukan bertahap, melibatkan kepala desa hingga tokoh daerah. Ia bahkan memasang target pribadi satu tahun untuk memulihkan kondisi, apalagi saat itu tahapan Pilpres mulai bergulir.

“Itu sebenarnya yang ingin saya cegah kala itu. Alhamdulillah dengan seluruh pimpinan parpol waktu itu sangat membantu mengkondisikan hal itu sehingga semuanya berjalan sesuai tatanan,” tuturnya.

“Alhamdulilah saya pelan-pelan bisa membangun kembali kepercayaan itu,” tambahnya.

Dalam dialog yang berlangsung gayeng, Putu juga menjelaskan perkembangan perkara saling lapor antara Kiai Min dan Sahara yang menyita perhatian publik Malang.

Ia menegaskan laporan dugaan pelecehan dan pornografi diproses lebih dulu dibanding laporan pencemaran nama baik.

“Karena peristiwanya sudah terjadi sebelum Kiai Min melaporkan pencemaran nama baik. Prosesnya memang harus sama-sama berjalan, equal, ya betul. Tapi, yang harus didahulukan adalah laporan Sahara soal pelecehan dan pornografi,” paparnya.

Terkait laporan balik, ia memastikan tetap berjalan sesuai prosedur. “Lalu apakah laporan pencemaran nama baik tidak diproses? Oh itu tetap diproses. Tapi alangkah adil dan bijaknya Polresta Malang Kota apabila perkara pencemaran nama baik ini akan ditindaklanjuti nanti dengan gelar perkara setelah ada kepastian hukum soal pelecehan dan pornografi dengan tersangka Kiai Min,” tegas Putu Kholis.

Ia menekankan keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan rasa keadilan. “Maka alangkah baiknya perkara ini ada putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. yang nantinya keputusan berkekuatan tetap itu akan kami gunakan sebagai pertimbangan apakah laporan pencemaran nama baik itu layak dilanjutkan atau tidak,” lanjut Putu Kholis.

Tak hanya refleksi kepolisian, peringatan HPN 2026 ini juga menjadi panggung penguatan sinergi antara pemerintah dan media. Wali Kota Malang Wahyu Hidayat hadir bersama jajaran Forkopimda, DPRD, hingga berbagai elemen masyarakat.

Dalam sambutannya, Wahyu menegaskan pentingnya peran pers dalam menjaga stabilitas kota sekaligus mendorong pembangunan.

“Pers adalah mitra strategis pemerintah. Pemberitaan yang akurat dan konstruktif membantu menjaga stabilitas sekaligus mempercepat capaian pembangunan,” ujarnya.

Menurutnya, tanpa dukungan media yang profesional dan wartawan yang kompeten, program pemerintah sulit tersampaikan optimal kepada masyarakat.

Ia juga mengajak insan pers bersama-sama menangkal arus informasi yang belum jelas kebenarannya di media sosial.
.
“Berita yang kurang baik harus kita tangkal bersama. Pekerjaan rumah kita bersama adalah media sosial yang tidak jelas, maka kita berantas bersama,” katanya.

Di momen yang sama, Wahyu menyampaikan rasa syukur atas diraihnya Trofi Abyakta Anugerah Kebudayaan dari PWI Pusat dalam puncak HPN 2026 di Banten.

“Atas nama Pemerintah Kota Malang, saya juga mengucapkan selamat ulang tahun kepada PWI Malang Raya,” katanya.

Penghargaan itu dinilai sebagai bentuk pengakuan atas komitmen Kota Malang dalam memajukan kebudayaan, termasuk lewat pengembangan ekonomi kreatif dan berbagai event daerah.

Di sela dialog, Putu juga mengenang awal penugasannya 21 tahun lalu di Polda Jatim. Malang menjadi kota pertama yang ia kunjungi di luar Surabaya.

“Alhamdulillah kini Kota Malang telah ;mengimpor’ pejabat dari Kabupaten Malang. Wali Kotanya mentan Sekda Kabupaten Malang dan Kapolrestanya juga mantan Kapolres Malang,” kata Putu Kholis.

Ia menilai tantangan aparat saat ini jauh lebih kompleks dibanding masa lalu. “Era yang betul-betul tidak terbayangkan yang harus kita hadapi saat ini. Namun ditengah kendala dan tantagan, Allah SWT selalu memberikan kesempatan untuk kita bertransformasi, bisa berkarya lebih baik lagi,” katanya.

Ia pun mengingatkan peran jurnalis dalam setiap perubahan zaman. “Jurnalis adalah pengawal peradaban yang selalu ada di era perubahan jaman,’ kata dia.

Syukuran HPN dan HUT ke-80 PWI Malang Raya memang digelar tanpa kemewahan. Namun dari forum kecil itu, lahir pesan besar, kolaborasi pemerintah, kepolisian, dan pers menjadi fondasi penting menjaga Kota Malang tetap kondusif di tengah dinamika zaman.

Iklan
Iklan
Iklan