SUARAMALANG.COM, Jawa Timur – Aktivitas kegempaan di Jawa Timur sepanjang 2025 terpantau cukup intens. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Malang mencatat ribuan gempa bumi terjadi dalam setahun terakhir, dengan sebagian besar merupakan gempa dangkal.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ma’muri, mengungkapkan berdasarkan analisis instrumental, sepanjang 2025 terdapat 7.562 kejadian gempa bumi di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya.
“Dari jumlah tersebut, mayoritas merupakan gempa dangkal dengan kedalaman kurang dari 60 kilometer,” ujar Ma’muri, dilansir RRI Malang, Senin (5/1/2026).
BMKG merinci, dari total gempa tersebut, sebanyak 6.120 kejadian termasuk gempa dangkal. Sementara itu, gempa dengan kedalaman menengah, yakni antara 60 hingga kurang dari 300 kilometer, tercatat sebanyak 1.426 kejadian. Adapun gempa dalam dengan kedalaman lebih dari 300 kilometer berjumlah 16 kejadian.
Jika ditinjau dari persebaran episenter, mayoritas gempa terjadi di kawasan laut selatan Pulau Jawa. Wilayah ini dikenal sebagai zona aktif akibat pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Sementara gempa dangkal yang terjadi di daratan Jawa Timur umumnya dipicu oleh aktivitas patahan lokal.
“Gempa menengah dan dalam umumnya berkaitan dengan aktivitas subduksi, sedangkan gempa dangkal di darat disebabkan oleh patahan lokal,” jelas Ma’muri.
BMKG juga mencatat variasi frekuensi gempa sepanjang tahun. Aktivitas gempa tertinggi terjadi pada Juli 2025 dengan total 763 kejadian. Sebaliknya, jumlah gempa paling sedikit tercatat pada Februari 2025, yakni sebanyak 503 kejadian.
Meski sebagian besar gempa tidak dirasakan, BMKG mencatat ada 41 kejadian gempa bumi yang dirasakan masyarakat di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya selama 2025.
Melihat tingginya aktivitas tektonik tersebut, Ma’muri mengingatkan pentingnya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana gempa bumi, mengingat Jawa Timur termasuk wilayah yang aktif secara geologis.
“Pemahaman terhadap potensi gempa serta kesiapsiagaan masyarakat menjadi kunci dalam meminimalkan risiko bencana,” tutup Ma’muri.





















