Hari Pers Nasional 2026_970 x 250 px

Asal-Usul hingga Keunikan Bantengan Lereng Semeru dan Kolok Goblok yang Jadi WBTb

Iklan

SUARAMALANG.COM, Kabupaten Malang – Nama Bantengan Lereng Semeru dan Kolok Goblok kini resmi tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Dua warisan asli Kabupaten Malang itu menerima sertifikat pengakuan dari pemerintah pusat pada Minggu (22/2/2026) malam.

Sertifikat diserahkan langsung Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa kepada Bupati Malang Sanusi dalam agenda Apresiasi Seniman dan Penyerahan WBTb di Taman Krida Budaya.

Iklan

Namun, apa sebenarnya Bantengan Lereng Semeru dan Kolok Goblok yang kini menyandang status WBTb?

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Firmando Hasiholan Matondang, menjelaskan bahwa pengajuan kedua budaya ini sudah dilakukan sejak lama ke Kementerian Kebudayaan RI melalui proses kajian sejarah.

“Kita mengajukan dalam bentuk semacam proposal ke kementerian istilahnya itu diuji kesejarahannya untuk memperkuat khasanah budaya kita yang memang sudah ada. Kemudia sudah ditetapkan,” kata Firmando, dikutip Tribunjatim, Senin (23/2/2026).

Bantengan sendiri merupakan seni pertunjukan rakyat khas Jawa Timur yang berkembang di sejumlah wilayah seperti Malang, Batu, hingga Mojokerto. Meski sama-sama bantengan, tiap daerah memiliki karakter unik.

Di lereng Gunung Semeru, bantengan memiliki identitas berbeda dibanding wilayah lain seperti Gunung Kawi atau Arjuno.

“Ciri khas dari Bantengan Lereng Semeru ini dari peralatannya ada caplokan-caplokan sebagai figurnya. Jadi nggak seperti bantengan umumnya yang hanya ada macan dan kera. Dari musiknya pun juga beda dengan yang lainn,” jelasnya.

Jenis bantengan ini tumbuh dan bertahan secara turun-temurun di Desa Dadapan, Kecamatan Wajak. Hingga kini, kesenian tersebut masih rutin dipentaskan dalam berbagai agenda adat dan hajatan warga.

Tak hanya seni pertunjukan, kuliner tradisional Kolok Goblok juga mendapat pengakuan nasional. Makanan khas Desa Poncokusumo ini dibuat dari labu kuning utuh yang bagian atasnya dilubangi, lalu diisi gula merah dan santan sebelum dimasak di atas tungku kayu.

Bagi warga setempat, Kolok Goblok bukan sekadar hidangan biasa. Ada nilai ritual yang melekat di dalamnya.

“Ini (Kolok Goblok) asli dari Desa Poncokusumo asli. Merupakan tradisi tolak balak dalam arti sengkolo itu di musnahkan dengan cara dimakan dan dimasak,” urainya.

Makanan ini diyakini sebagai bagian dari tradisi doa dan permohonan perlindungan kepada Tuhan. Biasanya dihadirkan dalam momen-momen tertentu yang sarat makna spiritual.

Dengan status WBTb yang kini disandang, Pemkab Malang berencana memperluas promosi kedua warisan budaya tersebut.

Menurut Firmando, Kolok Goblok sudah mulai diperkenalkan melalui paket wisata kuliner khas Kabupaten Malang. Sementara Bantengan Lereng Semeru akan terus dipromosikan lewat event budaya agar semakin dikenal publik luas.

Iklan
Iklan
Iklan