SUARAMALANG.COM, Kota Batu – Banjir lumpur Bumiaji yang menerjang sejumlah titik permukiman dan ruas jalan di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, pada Minggu (4/1/2026) mengungkap persoalan yang lebih mendasar. Hasil pengambilan foto udara oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Batu menunjukkan indikasi kuat adanya alih fungsi lahan di kawasan hulu Sungai Kali Paron, yang dinilai berkontribusi terhadap meningkatnya risiko luapan air bercampur material lumpur.
Temuan tersebut diperoleh setelah DPUPR melakukan pemetaan udara pada Selasa (6/1/2026) untuk menelusuri pola aliran sungai pascabanjir. Dari hasil sementara, luapan air yang masuk ke rumah warga dan badan jalan tidak semata dipicu curah hujan, melainkan oleh tersumbatnya aliran sungai dan saluran pengendali debit.
Sumbatan Material Jadi Pemicu Utama
DPUPR mencatat, aliran Kali Paron tersumbat material berat berupa gelondongan kayu, sampah pertanian, rumpun bambu, lumpur, kerikil, hingga pasir. Material tersebut menutup sodetan dan bypass channel yang selama ini berfungsi memecah dan mengendalikan debit air dari kawasan hulu.
Kepala DPUPR Kota Batu, Alfi Nurhidayat, menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa dipisahkan dari tata kelola ruang di wilayah hulu sungai.
“Kami bersama seluruh leading sektor terkait, terkait dengan perizinan dan penataan ruang mengupayakan untuk menjaga dan tidak melakukan alih fungsi lahan karena akan berakibat krusial dan dampaknya sistemik serta jangka panjang,” ujar Alfi, Rabu (7/1/2026).
Menurutnya, alih fungsi lahan berpotensi merusak daya dukung lingkungan dan memicu bencana berulang yang dampaknya tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga oleh generasi mendatang.
Sinergi Pemerintah dan Masyarakat Jadi Kunci
Alfi menambahkan, upaya pencegahan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Kesadaran dan keterlibatan masyarakat, khususnya di kawasan hulu, menjadi faktor penentu dalam menjaga ekosistem Kota Batu yang dikenal sebagai kota wisata dan pertanian.
Hasil pemetaan udara tersebut selanjutnya akan diserahkan kepada Wali Kota Batu sebagai dasar perumusan solusi permanen. Pemerintah daerah berharap, data spasial ini dapat menjadi pijakan kebijakan yang lebih tepat sasaran, mulai dari penataan ruang hingga pengendalian aliran sungai.
“Saya kira perlu ada kesepahaman semua pihak, bahwa mari sama-sama menjaga alam dan lingkungan kita agar lingkungan juga menjaga kita,” pungkas Alfi.
Tiga Titik Banjir Luapan di Bumiaji
Sebelumnya, banjir luapan air bercampur lumpur terjadi di tiga lokasi di Kecamatan Bumiaji, yakni Jalan Purwosenjoto Desa Bulukerto, Jalan Banaran Desa Bumiaji, serta Jalan Raya Sumbergondo Desa Sumbergondo. Seluruh kejadian dipicu aliran sungai yang tidak mampu menampung debit air hujan akibat tersumbat sampah dan material berat, sehingga air meluber ke jalan dan permukiman warga.
Pasca kejadian tersebut, Wali Kota Batu Nurochman langsung menginstruksikan DPUPR melakukan pemetaan udara kawasan terdampak. Ia menilai data visual dari udara penting untuk memetakan sungai dan kanal banjir eksisting, sekaligus merancang intervensi kebijakan, termasuk kemungkinan penambahan kanal atau sudetan baru.
Nurochman juga menyoroti pentingnya komitmen bersama dalam menjaga kawasan hulu. Menurutnya, upaya mitigasi di hilir akan sia-sia jika perilaku alih fungsi lahan dan pembuangan sampah ke sungai terus terjadi. Pemerintah, kata dia, telah melakukan langkah mitigasi melalui BPBD, namun aliran air yang membawa lumpur dan material berat tetap menjadi tantangan utama.
Isu banjir lumpur Bumiaji ini menambah daftar pekerjaan rumah penataan lingkungan di Kota Batu, yang sebelumnya juga disorot suaramalang.com dalam laporan terkait banjir dan pengelolaan daerah aliran sungai. Secara nasional, pentingnya menjaga kawasan hulu juga sejalan dengan kebijakan perlindungan DAS yang ditekankan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana hidrometeorologi.





















