Bukan Sekadar Hewan Peliharaan, Monyet Pernah Jadi Simbol Kemewahan Kaum Bangsawan

SUARAMALANG.COM – Jauh sebelum kucing dan anjing menjadi hewan peliharaan populer, monyet dan kera sudah menarik perhatian manusia. Bahkan, pada sejumlah peradaban kuno, primata pernah menjadi simbol kemewahan dan prestise kalangan elite.

Kepemilikan hewan ini bukan sekadar urusan kesenangan. Bagi bangsawan, penguasa, dan pejabat tinggi, memiliki monyet dari negeri jauh menunjukkan kekayaan, jaringan perdagangan, serta kedudukan sosial.

Jejak kebiasaan tersebut dapat ditelusuri sejak Mesir Kuno, Yunani, Romawi, hingga Eropa pada Abad Pertengahan.

Monyet Sudah Dipelihara Sejak Peradaban Kuno

Sejarah hubungan manusia dengan primata ternyata berlangsung sangat panjang. Masyarakat Mesir Kuno termasuk salah satu peradaban yang mengenal primata sebagai hewan peliharaan.

Mereka mendatangkan sejumlah spesies monyet dari wilayah Afrika. Selain menjadi bagian dari koleksi pribadi, primata juga muncul dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Mesir.

Kebiasaan serupa berkembang di Yunani Kuno. Sejumlah keluarga kaya memelihara monyet sebagai hewan pendamping. Bahkan, perdagangan satwa eksotis membawa berbagai spesies primata dari Afrika dan India menuju kawasan Mediterania.

Memasuki era Romawi, kepemilikan monyet semakin lekat dengan gaya hidup kalangan berada. Catatan sastra Romawi menggambarkan monyet sebagai hewan yang menghibur pemiliknya di lingkungan rumah.

Penelitian arkeologi terbaru juga memperkuat catatan tersebut. Para peneliti menemukan puluhan makam monyet di Berenike, sebuah pelabuhan perdagangan Romawi di pesisir Laut Merah, Mesir.

Penelitian yang terbit dalam Journal of Roman Archaeology pada 2025 mengidentifikasi sekitar 35 makam primata. Temuan itu mencakup monyet makaka yang berasal dari India.

Menariknya, sejumlah makam memiliki benda-benda khusus. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pemiliknya memperlakukan monyet sebagai hewan pendamping istimewa.

Para peneliti menduga kepemilikan primata eksotis juga menjadi penanda status sosial kalangan elite Romawi. Jarak perdagangan yang jauh membuat hewan tersebut semakin eksklusif.

Abad Pertengahan: Monyet Menjadi Simbol Status Bangsawan

Memasuki Abad Pertengahan, kebiasaan memelihara monyet terus berkembang di Eropa. Hewan ini banyak ditemukan di lingkungan istana, rumah bangsawan, dan kediaman pejabat gereja.

Salah satu jenis yang populer adalah makaka Barbary atau Barbary macaque. Primata asal Afrika Utara tersebut masuk ke Eropa melalui jalur perdagangan Mediterania.

Pada masa itu, kucing dan anjing sudah menjadi hewan pendamping masyarakat. Namun, monyet menawarkan sesuatu yang berbeda karena berasal dari wilayah jauh dan membutuhkan biaya besar untuk mendatangkannya.

Karena itu, monyet memiliki nilai sosial tersendiri. Bangsawan memeliharanya untuk menunjukkan kekayaan sekaligus menarik perhatian orang di sekitarnya.

Sejarawan juga mencatat kebiasaan para bangsawan membawa monyet dalam lingkungan istana. Beberapa monyet bahkan menemani pemiliknya dalam aktivitas sehari-hari.

Selain sebagai hewan peliharaan, primata juga menjadi bagian dari pertunjukan hiburan. Para penghibur keliling melatih monyet melakukan berbagai atraksi di hadapan masyarakat.

Kisah Uskup Durham dan Dua Monyet yang Dimanjakan

Salah satu kisah menarik datang dari Inggris pada abad ke-13. Seorang Uskup Durham diketahui memelihara dua ekor monyet.

Kisah tersebut tercatat dalam Lanercost Chronicle, yang ditulis oleh Richard dari Durham. Ia menggambarkan bagaimana sang uskup memperlakukan kedua hewan tersebut dengan sangat istimewa.

Monyet-monyet itu mendapatkan kacang almond yang sudah dikupas. Bahkan, makanan tersebut disajikan menggunakan sendok perak.

Perlakuan tersebut menggambarkan kemewahan yang melekat pada kepemilikan primata kala itu. Monyet diperlakukan layaknya anggota keluarga dari kalangan terhormat.

Fenomena ini juga memperlihatkan bahwa kebiasaan memelihara satwa eksotis tidak terbatas pada raja dan bangsawan. Kalangan elite gereja pun mengikuti tradisi serupa.

Dari Istana hingga Rumah Orang Kaya

Popularitas monyet sebagai hewan peliharaan kemudian meluas ke berbagai kelompok masyarakat berada.

Di Prancis, perdagangan monyet bahkan berkembang cukup besar. Hewan tersebut menjadi komoditas eksotis yang didatangkan melalui jalur perdagangan internasional.

Catatan sejarah menyebut Paris pernah mengenakan pajak terhadap monyet yang masuk untuk diperdagangkan. Hal ini memperlihatkan bahwa perdagangan primata memiliki nilai ekonomi tersendiri.

Tradisi mengoleksi primata juga terlihat dalam lingkungan kerajaan. Istana Versailles pada masa pemerintahan Louis XIV memiliki koleksi berbagai satwa eksotis, termasuk monyet.

Kehadiran hewan-hewan tersebut memperkuat citra istana sebagai pusat kemewahan dan kekuasaan. Selain menjadi hiburan, koleksi satwa juga memperlihatkan luasnya jaringan perdagangan kerajaan.

Mengapa Monyet Begitu Istimewa bagi Bangsawan?

Ada beberapa alasan yang membuat monyet memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan elite pada masa lalu.

Pertama, faktor kelangkaan. Tidak semua orang mampu mendatangkan satwa dari Afrika atau India. Perjalanan panjang dan perdagangan lintas wilayah membuat harganya mahal.

Kedua, kemiripan dengan manusia. Gerakan, ekspresi wajah, dan kemampuan menggunakan tangan membuat primata terlihat berbeda dari hewan peliharaan lainnya.

Ketiga, faktor prestise. Memiliki hewan eksotis menjadi cara untuk memperlihatkan kekayaan dan kedudukan sosial kepada masyarakat.

Namun, hubungan manusia dengan primata tidak selalu berlangsung harmonis. Beberapa catatan sejarah juga menggambarkan monyet sebagai hewan yang sulit dikendalikan dan membutuhkan pengawasan khusus.

Tradisi yang Berubah Seiring Perkembangan Zaman

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, pandangan manusia terhadap primata mulai berubah. Monyet dan kera tidak lagi sekadar dipandang sebagai koleksi eksotis atau simbol kekayaan.

Para peneliti semakin memahami perilaku, kecerdasan, kebutuhan sosial, serta habitat alami primata. Kesadaran terhadap kesejahteraan satwa juga mendorong perubahan dalam praktik pemeliharaan.

Kini, banyak spesies primata menghadapi ancaman kehilangan habitat dan perdagangan satwa ilegal. Sejumlah jenis bahkan masuk kategori satwa dilindungi.

Sejarah monyet sebagai peliharaan bangsawan akhirnya memperlihatkan sisi lain hubungan manusia dengan satwa. Sesuatu yang dahulu dianggap simbol kemewahan kini menjadi pengingat pentingnya menjaga kehidupan satwa liar di habitat aslinya.

Exit mobile version