Cabai Rawit Meroket Sebelum Ramadan, Pemkot Malang Siapkan Intervensi Pasar

SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Kenaikan harga cabai rawit di Kota Malang menjelang Ramadan bikin waswas. Dalam hitungan hari, harga komoditas pedas ini melesat tajam bahkan di sejumlah pasar sudah mendekati Rp90 ribu per kilogram.

Situasi ini mendorong Pemerintah Kota Malang menyiapkan langkah cepat agar lonjakan tak makin membebani masyarakat.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat memastikan pihaknya akan mengaktifkan kembali Warung Tekan Inflasi (WTI) sebagai salah satu instrumen pengendalian harga.

“Kami akan berdiskusi dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk membuka kembali Warung Tekan Inflasi di pasar supaya harganya kembali normal,” kata Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, dikutip Antara, Sabtu (14/2/2026).

Berdasarkan data dari laman siskaperbapo.jatimprov.go.id menunjukkan tren kenaikan terjadi hampir setiap hari dalam sepekan terakhir.

Selasa (10/2/2026), rata-rata harga cabai rawit di seluruh pasar Kota Malang tercatat Rp70.333 per kilogram. Sehari kemudian naik 2,37 persen menjadi Rp72 ribu per kilogram.

Kamis (12/2) harga kembali terkerek 5,79 persen hingga Rp76.166 per kilogram. Pada Jumat, harga bertambah lagi 1,09 persen menjadi Rp77 ribu per kilogram.

Namun di lapangan, salah satunya di Pasar Oro-Oro Dowo, harga bahkan telah menyentuh Rp90 ribu per kilogram.
Lonjakan tersebut turut mendapat sorotan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas).

Menariknya, cabai rawit sebelumnya justru menjadi komoditas yang menekan inflasi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, pada Januari 2026 terjadi deflasi month to month sebesar 0,10 persen.

Penurunan harga cabai rawit saat itu mencapai 23,85 persen dan memberi andil 0,07 persen terhadap deflasi. Faktor utamanya adalah peningkatan produksi akibat panen raya.

Kini situasi berbalik. Permintaan meningkat menjelang Ramadan, sementara pasokan belum sepenuhnya mampu mengimbangi kebutuhan pasar.

Wahyu menyebut ketidakseimbangan antara ketersediaan dan permintaan menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga tersebut.

Selain menghidupkan kembali Warung Tekan Inflasi, Pemkot Malang juga akan memperkuat kerja sama antardaerah dengan wilayah sentra produksi cabai.
Daerah seperti Kabupaten Malang, Lumajang, Jember, dan Probolinggo menjadi target kolaborasi untuk memastikan suplai tetap terjaga.

“Supaya kami bisa mendapatkan harga yang murah, mudah-mudahan harga cabai rawit nanti sudah bisa melandai sebelum memasuki Ramadhan sehingga tidak memberatkan masyarakat. Karena memang drastis (peningkatannya),” ujarnya.

Dengan pola distribusi yang lebih terintegrasi, pemerintah berharap harga bisa kembali stabil sebelum Ramadan benar-benar tiba.

Sambil mematangkan rencana reaktivasi WTI, Pemkot juga menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) di 20 titik berbeda secara bergantian.

Program ini melibatkan Perum Bulog, ID FOOD, hingga Perumda Tugu Tirta. Pelaksanaan perdana sudah dimulai di wilayah Arjowinangun, Kecamatan Kedungkandang.

Exit mobile version