Iklan

Drainase Dicekik Bangunan, Banjir Setinggi Dada Jadi Teror Tahunan Warga Lowokwaru

Iklan

SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Setiap awan gelap menggantung di langit Kota Malang, kecemasan warga RW 4 Kelurahan Lowokwaru kembali hidup. Hujan tak lagi dimaknai sebagai berkah, melainkan ancaman banjir yang sewaktu-waktu menerjang permukiman mereka.

Bagi warga di kawasan ini, banjir bukan peristiwa insidental. Ia datang berulang, nyaris menjadi rutinitas tahunan. Air meluap tanpa ampun, bahkan kerap meninggi hingga lebih dari satu meter, setara dada orang dewasa hingga menyusup ke rumah-rumah warga.

Iklan

Saat air akhirnya surut, penderitaan belum berakhir. Kasur basah, perabot lapuk, hingga barang elektronik rusak menjadi pemandangan yang terus berulang. Kerugian materi seakan menjadi “pajak” tak resmi yang harus dibayar warga setiap kali hujan deras turun.

Ironisnya, sumber masalah telah lama diketahui. Drainase yang seharusnya menjadi jalur penyelamat justru dicekik oleh bangunan. Sejumlah rumah dan bangunan lain berdiri menjorok, bahkan menutup sebagian saluran air.

“Dulu lebarnya sekitar 1,5 meter. Sekarang di beberapa titik tinggal 70 sentimeter,” ujar Rizal, warga setempat, sambil menunjuk saluran drainase yang nyaris tak lagi berfungsi.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Malang, Dito Arief Nurakhmadi, bersama Pemangku Warga RW 4 Lowokwaru menindaklanjuti laporan warga terkait persoalan drainase di RW 4 Lowokwaru. Jumat (6/10/2025).(foto:suaramalang.com/nan)

Masalah tak berhenti di situ. Beberapa ruas jalan lingkungan dibangun tepat di atas drainase. Bak kontrol dan lubang resapan air yang ada tak lebih dari simbol atas ketidakmampuan menahan derasnya aliran air saat hujan ekstrem datang.

“Drainasenya sudah nggak sanggup nampung air. Akibatnya meluap. Yang lebih bahaya, plengsengannya sudah mulai tergerus. Kalau terus dibiarkan dan drainase tetap tertutup, risikonya longsor,” tegas Rizal.

Yang paling memprihatinkan, kondisi ini bukan cerita baru. Masalah drainase di RW 4 Lowokwaru telah berlangsung bertahun-tahun, melewati lebih dari satu periode kepemimpinan wali kota tanpa solusi nyata.

“Dulu sudah pernah ditinjau Abah Anton, lalu Pak Sutiaji. Tapi sampai sekarang tidak ada realisasi. Kami cuma jadi penonton janji,” ujar Rizal dengan nada kecewa.

Setiap kali banjir datang, sedikitnya 10 rumah menjadi korban langganan. Bahkan, salah satu rumah masih menyisakan bekas banjir yang membandel meninggalkan jejak bisu dari bencana yang terus diabaikan.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Malang, Dito Arief Nurakhmadi, mengakui kondisi di RW 4 Lowokwaru mencerminkan persoalan klasik kota: pembiaran bangunan yang melanggar fungsi drainase.

“Ini contoh nyata dampak buruk bangunan yang berdiri menjorok, bahkan di atas drainase. Solusinya jelas, fungsi drainase harus dikembalikan,” ujar Dito saat meninjau lokasi.

Ia menegaskan akan meneruskan laporan warga ke Dinas PUPRPKP Kota Malang. Namun di tengah keterbatasan anggaran, ia menekankan pentingnya keberanian pemerintah menertibkan bangunan yang jelas-jelas bermasalah.

“Anggaran memang terbatas. Tapi masalah seperti ini harus dituntaskan. Kuncinya satu, kembalikan fungsi drainase, tertibkan bangunan yang salah,” pungkasnya.

Sementara hujan terus datang tanpa kompromi, warga Lowokwaru masih menunggu: apakah kali ini negara benar-benar hadir, atau banjir kembali dibiarkan menjadi takdir tahunan.

Iklan
Iklan
Iklan