Halal Lifestyle Gen Z Meluas, dari Skincare hingga Cara Mengatur Keuangan

Generasi muda memilih produk perawatan diri dan fesyen dengan mempertimbangkan informasi produk serta kebutuhan sehari-hari. Halal lifestyle kini mencakup berbagai aspek, termasuk konsumsi dan pengelolaan keuangan. (Foto: Ilustrasi)

SUARAMALANG.COM – Gaya hidup halal semakin dekat dengan keseharian generasi Z. Pilihan yang sebelumnya identik dengan makanan dan minuman kini meluas ke produk perawatan diri, fesyen, hingga pengelolaan keuangan. Di tengah banyaknya pilihan di media sosial, memahami informasi produk menjadi bagian penting agar gaya hidup ini tidak berhenti sebagai tren.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa halal lifestyle tidak lagi terbatas pada apa yang dikonsumsi, tetapi juga berkaitan dengan pertimbangan sebelum membeli produk atau menggunakan layanan tertentu.

Dalam artikel yang diterbitkan pada 20 Oktober 2026, IDN Times menyoroti lima aspek halal lifestyle yang dekat dengan Gen Z, mulai dari fesyen muslim, skincare dan kosmetik, kuliner halal, hingga pengenalan keuangan syariah. Pembahasan itu juga mengacu pada perkembangan sektor fesyen muslim dan ekonomi syariah di Indonesia.

Bukan Cuma Memilih Makanan

Bagi generasi muda, pilihan gaya hidup semakin beragam. Ketika membeli makanan, misalnya, konsumen tidak hanya mempertimbangkan rasa dan harga, tetapi juga informasi mengenai kehalalan produk.

Pertimbangan serupa dapat muncul ketika memilih kosmetik, produk perawatan kulit, maupun barang yang digunakan sehari-hari. Informasi komposisi, keterangan produsen, dan status sertifikasi dapat menjadi bahan pertimbangan sebelum berbelanja.

Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) juga mendorong generasi muda menjadikan halal sebagai bagian dari gaya hidup. Dalam keterangannya, BPJPH menekankan peran anak muda dalam meningkatkan literasi halal melalui aktivitas sehari-hari dan pemanfaatan media digital.

Informasi mengenai program dan layanan sertifikasi dapat ditelusuri melalui situs resmi BPJPH.

Meski demikian, konsumen tetap perlu membedakan antara klaim promosi dan informasi yang dapat diperiksa. Label atau istilah yang digunakan dalam pemasaran sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai bukti bahwa suatu produk telah memenuhi persyaratan sertifikasi.

Skincare dan Fesyen Ikut Membentuk Pilihan

Produk perawatan diri menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam pembahasan halal lifestyle. Pilihan skincare dan kosmetik tidak cukup hanya didasarkan pada popularitas merek atau rekomendasi kreator konten.

Konsumen perlu membaca komposisi, mengikuti petunjuk penggunaan, serta memeriksa informasi resmi mengenai produk. Status halal juga merupakan pertimbangan tersendiri yang tidak otomatis menjamin suatu produk cocok untuk semua jenis kulit.

Di bidang fesyen, pilihan busana muslim kini dapat menyesuaikan kebutuhan sehari-hari, mulai dari aktivitas kuliah, bekerja, hingga menghadiri acara formal. Model yang beragam memberi ruang bagi anak muda untuk memadukan kenyamanan, identitas personal, dan prinsip berpakaian yang diyakini.

Dalam artikel IDN Times tersebut, Indonesia disebut menempati peringkat pertama sektor modest fashion global berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy 2025/2026. Capaian ini menjadi salah satu gambaran posisi Indonesia dalam perkembangan industri fesyen muslim dunia.

Bagi konsumen, perkembangan tersebut juga membuka lebih banyak pilihan. Namun, keputusan membeli tetap perlu mempertimbangkan kebutuhan, kualitas, dan kemampuan anggaran, bukan semata-mata karena produk sedang ramai dibicarakan.

Keuangan Syariah dan Tantangan Memahami Produk Finansial

Halal lifestyle juga menyentuh cara seseorang mengelola uang. Ketika mulai memperoleh penghasilan sendiri, sebagian anak muda berhadapan dengan berbagai pilihan tabungan, investasi, dan layanan keuangan, termasuk yang menggunakan prinsip syariah.

Namun, mengenal istilah keuangan syariah tidak cukup untuk mengambil keputusan finansial. Calon pengguna perlu memahami mekanisme produk, biaya, risiko, ketentuan transaksi, serta legalitas penyedia layanan.

Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dikutip IDN Times mencatat tingkat literasi keuangan syariah sebesar 43,07 persen, sedangkan tingkat inklusinya mencapai 13,24 persen.

Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa pemahaman mengenai keuangan syariah dan pemanfaatan layanannya merupakan dua hal yang berbeda. Karena itu, edukasi keuangan tetap dibutuhkan agar masyarakat dapat menilai produk berdasarkan informasi yang memadai.

Prinsip ini penting bagi Gen Z yang semakin mudah menemukan penawaran keuangan melalui aplikasi dan media sosial. Sebelum menggunakan suatu layanan, calon pengguna sebaiknya memeriksa informasi resmi dan memahami seluruh ketentuannya.

Jangan Sampai Hanya Mengikuti Tren

Media sosial membuat informasi mengenai fesyen, kecantikan, kuliner, dan keuangan menyebar dengan cepat. Rekomendasi kreator konten dapat membantu konsumen menemukan pilihan baru, tetapi popularitas sebuah produk tidak selalu berarti produk tersebut sesuai dengan kebutuhan setiap orang.

Karena itu, menerapkan halal lifestyle dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: memeriksa informasi produk, mencari sumber yang tepercaya, membandingkan pilihan, dan mempertimbangkan kemampuan finansial sebelum membeli.

Bagi mahasiswa dan anak muda di Malang Raya, kebiasaan tersebut dapat diterapkan ketika memilih makanan, berbelanja produk perawatan diri, mencari pakaian untuk kuliah, maupun mulai mengatur uang saku. Tidak harus selalu membeli produk baru atau mengikuti semua tren yang muncul.

Pada akhirnya, halal lifestyle bukan sekadar persoalan mengikuti gaya hidup yang sedang populer. Pilihan yang lebih sadar dan terinformasi membantu konsumen menyesuaikan keputusan sehari-hari dengan kebutuhan, nilai yang diyakini, serta kemampuan masing-masing.

Exit mobile version