Iklan

Harga Cabai dan Emas Melesat, Inflasi Kota Malang Desember Sentuh 0,56%

Iklan

SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Lonjakan harga kebutuhan pokok kembali terasa di penghujung tahun. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat inflasi sebesar 0,56 persen secara month-to-month (mtm) pada Desember 2025. Kenaikan ini terutama dipengaruhi gejolak harga cabai rawit dan emas perhiasan yang terus menanjak.

Kepala BPS Kota Malang, Umar Sjaifudin, menyebut kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 0,36 persen. Salah satu komoditas yang paling dominan mendorong kenaikan harga adalah cabai rawit.

Iklan

“Komoditas utama penyumbang inflasi adalah cabai rawit,” ucap Umar Sjaifudin, dikutip Bisniscom, Selasa (6/1/2026).

Selain cabai rawit, inflasi Desember juga dipengaruhi pergerakan harga sejumlah komoditas lain seperti emas perhiasan, daging ayam ras, bawang merah, dan bensin. Tekanan harga tersebut membuat inflasi Kota Malang secara year-on-year (yoy) dan year-to-date (ytd) sama-sama berada di angka 2,81 persen.

Secara tahunan, Umar menjelaskan inflasi lebih banyak dipicu oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, dengan kontribusi mencapai 1,04 persen. Dalam kelompok ini, emas perhiasan menjadi komoditas dengan pengaruh paling signifikan.

Fenomena naik-turunnya harga pangan juga tercermin dari dinamika komoditas hortikultura. Pada Desember 2025, harga cabai rawit, bawang merah, dan tomat tercatat mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, harga cabai merah justru cenderung turun.

Tak hanya hortikultura, beberapa bahan pangan lain juga ikut terdorong naik. Harga beras, telur ayam ras, minyak goreng, dan gula pasir mengalami peningkatan secara bulanan. Kondisi ini tak lepas dari faktor cuaca yang kurang bersahabat.

BPS mencatat curah hujan yang relatif tinggi sepanjang Desember 2025 turut mengganggu produksi dan distribusi sejumlah komoditas pangan. Penurunan produksi di tengah meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) ikut memperbesar tekanan inflasi.

Di sisi lain, tren kenaikan harga emas masih berlanjut hingga akhir tahun. Sepanjang Desember 2025, harga emas tercatat lebih tinggi dibandingkan November, sehingga berdampak langsung pada harga emas perhiasan di pasaran.

Ekonom Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Joko Budi Santoso, menilai inflasi emas menjadi salah satu faktor penting yang mewarnai inflasi sepanjang 2025. Ia menilai lonjakan harga logam mulia dipicu situasi global dan domestik yang sarat ketidakpastian.

Menurutnya, tingginya permintaan emas sebagai instrumen investasi membuat harga emas melonjak tajam, bahkan naik sekitar 60 persen dibandingkan akhir 2024. Kondisi ini, kata dia, berada di luar kendali otoritas pengendali inflasi.

Selain emas, tantangan pengendalian inflasi juga datang dari faktor alam. Cuaca ekstrem dan potensi bencana dinilai berpengaruh terhadap produksi serta distribusi pangan, yang berpotensi berlanjut pada awal 2026.

Tekanan inflasi juga diperkirakan masih akan terasa pada Januari 2026. Selain faktor cuaca, gejolak harga minyak mentah dunia turut menjadi perhatian seiring memanasnya konflik geopolitik di Amerika Latin, yang disebut-sebut berkaitan dengan kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Venezuela.

Kondisi tersebut dinilai perlu dimitigasi secara serius oleh para pemangku kebijakan, baik di tingkat pusat maupun daerah, melalui koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Nasional (TPIN) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) agar stabilitas harga di Kota Malang tetap terjaga.

Iklan
Iklan
Iklan