Oleh: Nurudin
Saya tidak tumbuh dengan pemahaman yang dekat tentang Iran. Di sekolah, narasi Islam yang saya kenal hampir sepenuhnya datang dari arus Sunni. Iran identik dengan Syiah yang kuat. Tokoh yang saya bayangkan hanya sebatas Ali bin Abi Thalib RA (khalifah ke 4). Dangkal sekali.
Baru ketika kuliah, saya mulai melihat Iran dari sudut yang berbeda. Bukan sekadar negara agama, tetapi juga negeri para pemikir dan simbol keberanian politik. Itu juga karena soal pergaulan. Juga buku-buku di perpustakaan yang beragam. Sangat berbeda sekali dengan saat saya sekolah.
Saya juga mengenal Iran lewat buku. Di Indonesia, beberapa karya yang membahas Iran cukup dikenal, salah satunya Revolusi Iran (karya Nasir Tamara). Buku yang terbit awal tahun 1980 itu sangat populer. Awalnya saya enggan membaca buku-buku itu. Saya takut pikiran saya “keracunan”. Tapi karena niat untuk menambah pengetahuan, akhirnya saya baca juga. Meskipun tidak saya tamatkan membaca buku tersebut. Dari sana, saya mulai melihat Iran bukan sekadar negara, tapi narasi perlawanan.
Iran bukan hanya soal ideologi juga. Ia adalah peradaban panjang yang melahirkan banyak cendekiawan besar. Kita bisa menyebut Al-Farabi (872-950 M), Ibnu Sina (980-1037 M), Al-Ghazali (1058-1111 M), hingga tokoh modern seperti Ali Shariati (1933-1977 M)dan Murtadha Muthahhari (1920-1979 M). Mereka bukan hanya milik Iran, tetapi milik dunia Islam. Bahkan milik dunia secara luas.
Berani Melawan Tekanan Global
Nama Iran semakin kuat terdengar ketika terjadi Perang Iran-Irak. Perang ini berlangsung selama 8 tahun (1980-1988). Konflik tersebut menjadi salah satu perang paling berdarah di abad ke-20.
Irak, di bawah kepemimpinan Saddam Hussein, mendapat dukungan luas dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Uni Soviet, Inggris, dan Perancis. Juga dukungan finansial dari Arab Saudi dan Kuwait. Di sisi lain negara Iran relatif sendirian.
Korban perang Iran-Irak sangat besar. Diperkirakan sekitar 500.000-1 juta orang tewas dari kedua belah pihak. Iran sendiri kehilangan sekitar 200.000–300.000 orang. Kerugian ekonomi mencapai lebih dari 1 triliun dolar AS jika dihitung dari dampak jangka panjang.
Namun yang menarik bagi saya bukan hanya angka. Tapi bagaimana Iran tetap bertahan. Di tengah embargo, isolasi, dan tekanan militer, negara itu tidak runtuh. Justru dari situ, Iran membangun fondasi ketahanan nasionalnya.
Ketika saya mendengar Iran, saya selalu teringat satu kata, yakni “berani”. Sejak krisis sandera Iran 1979, hubungan Iran dengan Amerika Serikat sangat buruk. Sejak saat itu pula, Iran menghadapi berbagai sanksi ekonomi. Bahkan hingga 2020-an, Iran masih berada di bawah embargo berat, terutama terkait program nuklirnya.
Data menunjukkan bahwa sejak 2010-2023, ekonomi Iran mengalami tekanan besar. Inflasi sempat menyentuh lebih dari 40%. Nilai mata uang rial anjlok drastis. Namun, Iran tetap bertahan. Produk Domestik Bruto (PDB) Iran masih berada di kisaran 350–400 miliar dolar AS. Data itu menjadikannya salah satu ekonomi terbesar di Timur Tengah.
Iran juga menghadapi tekanan dari banyak negara di kawasan. Rivalitas dengan Arab Saudi, konflik tidak langsung dengan Israel, dan ketegangan dengan Amerika Serikat menjadi bagian dari keseharian geopolitiknya.
Kemandirian sebagai Kunci Kekuatan
Dalam dinamika terbaru hingga 2026, ketegangan baru muncul. Amerika-Israel dan Iran berkonflik terbuka. Perang resmi meletus 28 Fabruari 2026 melalui serangan udara oleh Amerika dan Israel terhadap target strategis di Iran. Iran kemudian membalas dengan menyerang Israel.
Ketegangan tetap tinggi. Iran menunjukkan keberanian melalui berbagai cara. Negara itu siap peran. Mengapa? Selama ini telah melakukan penguatan militer, pengembangan teknologi rudal, serta dukungan terhadap kelompok-kelompok sekutu di kawasan seperti di Lebanon dan Palestina.
Iran juga beberapa kali menunjukkan respons tegas terhadap serangan atau tekanan. Misalnya menolak gencatan senjata yang diusulkan donal Trump karena tidak adil. Iran bahkan berani mengancam akan menghancurkan infratruktur enerji Amerika. Ia juga memblokasi selat Hormuz. Jalur ini menjadi lalu lintas viital pengiriman minyak dunia. Ini menunjukkan satu hal. Iran tidak memilih diam.
Keberanian ini bukan tanpa dasar. Iran memiliki anggaran militer sekitar 10–15 miliar dolar per tahun. Fokus pada pertahanan asimetris. Strategi asimetris adalah strategi non konvensional dalam melawan musuh kuat dengan rudal balistik, drone dan serangan siber. Mereka tidak menyaingi kekuatan Barat secara langsung, tetapi membangun strategi yang efektif.
Bagi saya sendiri, pelajaran terbesar dari Iran adalah soal kemandirian. Di tengah embargo, Iran mengembangkan industri dalam negeri. Sekitar 90% kebutuhan militernya kini diproduksi sendiri. Di sektor energi, Iran tetap menjadi salah satu produsen minyak terbesar dunia. Cadangan minyaknya mencapai sekitar 10% dari total cadangan global.
Di bidang sains, Iran juga menunjukkan kemajuan. Menurut data UNESCO, Iran termasuk dalam 15 besar dunia dalam jumlah publikasi ilmiah. Di bidang teknologi nuklir, meski kontroversial, Iran berhasil mengembangkan kemampuan pengayaan uranium secara mandiri. Kemandirian ini tidak lahir dalam semalam. Ia dibentuk oleh tekanan. Dipaksa oleh keadaan. Dan dipertahankan oleh keyakinan.
Saya melihat di sini ada pelajaran besar untuk Indonesia. Kita adalah negara kaya. Sumber daya melimpah. Penduduknya juga berjumlah besar. Tetapi sering kali kita masih bergantung pada pihak luar. Daya tawar kita belum maksimal.
Iran menunjukkan bahwa kemandirian bukan pilihan mudah. Ia mahal dan penuh risiko. Tetapi ia memberi satu hal yang tidak bisa dibeli yakni martabat.
Saya melihat Iran bukan sebagai negara yang sempurna. Banyak kritik dan tantangan di dalamnya. Tetapi satu hal yang tidak bisa diabaikan adalah keberaniannya. Berani bertahan. Berani melawan tekanan dan bisa mandiri.
Dari Iran, saya belajar bahwa kekuatan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam atau jumlah penduduk, tetapi oleh keberanian untuk berdiri di atas kaki sendiri. Indonesia punya semua modal itu. Tinggal satu yang perlu diperkuat yakni keberanian untuk benar-benar mandiri. Itu semua harus dimulai dan ditunjukkan oleh para pemimpinnya.
Nurudin, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang. Penulis bisa dihubungi di IG/tiktok/tread/X: nurudinwriter._























