SUARAMALANG.COM, Malang – Batuk yang tak kunjung reda, tenggorokan terasa perih, hingga sesak napas menjadi keluhan yang perlu diwaspadai ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap. Paparan partikel halus dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat mengganggu saluran pernapasan, terutama pada kelompok yang rentan.
Kewaspadaan terhadap gangguan pernapasan meningkat di sejumlah wilayah Indonesia. Dinas Kesehatan Kota Palembang mencatat 10.975 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga minggu ketiga Oktober 2026. Meski jumlah kasus mingguan mulai menurun, layanan kesehatan tetap disiagakan untuk mengantisipasi kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan memperkuat perlindungan warga terdampak kabut asap di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, melalui penambahan pasokan masker N95 dan penguatan layanan fasilitas kesehatan. Kemenkes juga mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara masih buruk.
ISPA sendiri merupakan kelompok penyakit yang menyerang saluran pernapasan dan umumnya disebabkan oleh infeksi virus, meski bakteri juga dapat menjadi penyebabnya. Paparan polusi dan asap dapat mengiritasi saluran pernapasan atau memperburuk kondisi pernapasan yang sudah ada. Karena itu, keluhan setelah terpapar asap perlu diperhatikan, tetapi tidak otomatis berarti seseorang mengalami ISPA.
Batuk dan Sesak Napas, Kenali Tanda Bahayanya
Gejala ISPA dapat berupa batuk, pilek, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, demam, sakit kepala, hingga tubuh terasa lemas. Gejala dapat muncul secara bertahap maupun tiba-tiba, dengan tingkat keparahan yang berbeda pada setiap orang.
Masyarakat perlu lebih waspada apabila keluhan disertai sesak napas, napas menjadi cepat, nyeri dada, atau bibir tampak kebiruan. Tanda-tanda tersebut dapat menunjukkan gangguan yang lebih serius dan memerlukan pertolongan medis segera.
Jangan menunggu gejala semakin berat untuk mencari bantuan. Jika mengalami kesulitan bernapas, segera menuju fasilitas kesehatan. Pada kondisi berat, tenaga medis dapat menentukan apakah pasien memerlukan penanganan lanjutan di rumah sakit.
Bayi dan balita, ibu hamil, lanjut usia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau kondisi kesehatan tertentu perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk. Kelompok tersebut sebaiknya mengurangi paparan asap dan tidak memaksakan aktivitas di luar ruangan.
Cara Mengurangi Paparan Kabut Asap
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membantu melindungi kesehatan saat udara tercemar asap.
Pertama, kurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk, terutama olahraga atau pekerjaan fisik yang membuat napas lebih cepat. Jika harus keluar, gunakan masker N95 yang terpasang rapat sesuai petunjuk pemakaian. Masker harus menutup hidung dan mulut tanpa celah besar di sisi wajah.
Kedua, pantau informasi kualitas udara dari sumber resmi sebelum beraktivitas. Jika polusi meningkat, pertimbangkan untuk menunda kegiatan luar ruang atau memindahkannya ke tempat dengan udara yang lebih bersih.
Ketiga, tutup pintu dan jendela ketika asap masuk ke lingkungan rumah. Apabila tersedia, gunakan pembersih udara dengan penyaring partikel yang sesuai. Hindari menambah polusi di dalam ruangan, misalnya dari asap rokok atau pembakaran.
Keempat, cukup minum, beristirahat, dan perhatikan perkembangan gejala. Langkah tersebut membantu menjaga kondisi tubuh, tetapi bukan pengganti pemeriksaan medis jika keluhan memburuk.
Bagi masyarakat Malang Raya, langkah pencegahan tetap relevan ketika kualitas udara setempat memburuk, baik akibat asap maupun sumber polusi lainnya. Namun, kondisi udara Malang perlu diperiksa melalui data pemantauan terbaru sebelum disimpulkan berada pada kategori tidak sehat.
Kabut asap bukan sekadar persoalan jarak pandang. Dengan membatasi paparan, mengenali gejala sejak awal, dan segera mencari pertolongan saat muncul tanda bahaya, masyarakat dapat mengambil langkah lebih tepat untuk menjaga kesehatan pernapasan.












