#065.1.10.04.2026.HUMITS
SUARAMALANG.COM, Surabaya–Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus memperluas kontribusi akademiknya dalam pelestarian lingkungan serta pengembangan teknologi dan inovasi tepat guna.
Salah satunya ditunjukkan oleh jajaran pimpinan ITS bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya yang melakukan peninjauan strategis terkait inisiasi laboratorium hidup atau living laboratory di Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya, Jumat (10/4/2026)
Membentang seluas 34 hektare di sisi timur Kota Pahlawan, KRM merupakan kawasan konservasi pesisir pertama di Indonesia yang mengintegrasikan fungsi edukasi, riset, dan wisata dalam satu ekosistem. Menjadi rumah bagi puluhan jenis tumbuhan mangrove dan berbagai spesies burung migran, membuat kawasan ini sebagai lokasi potensial sebagai pusat riset dan inovasi.
Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MSc Eng PhD menyampaikan, peninjauan kali ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara ITS dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. ITS membidik KRM Surabaya sebagai laboratorium hidup bagi berbagai disiplin ilmu, mulai dari biologi hingga teknologi maritim.
Bambang mengungkapkan bahwa sivitas akademika ITS sebagai akademisi melihat potensi pengembangan mangrove di sini sangat besar. “Saat ini, beberapa petak lahan sudah digunakan oleh peneliti ITS untuk menguji sensor IoT (Internet of Things), serta mencari benih padi yang adaptif bagi lahan mangrove,” terang Rektor ke-13 ITS ini.
Lebih lanjut, Guru Besar Departemen Teknik Mesin ITS itu menekankan bahwa keterlibatan mahasiswa sangat besar dalam proyek ini. Departemen Biologi, Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), serta Departemen Arsitektur menjadi salah satu bidang ilmu yang memiliki peluang besar untuk berkontribusi terhadap pengembangan kawasan KRM.
Bambang menyampaikan, bila Departemen Biologi memiliki peluang yang sangat besar untuk meneliti biodiversitas dan pelestarian spesies langka di Kawasan mangsrove ini. “Selain itu, Departemen PWK dan Arsitektur juga diharapkan dapat memberikan sumbangsih ide dalam menata kawasan agar lebih menarik bagi wisatawan,” ujarnya.
Salah satu inovasi konkret lainnya yang diusulkan oleh Rektor ITS ialah modernisasi transportasi sungai. Bambang menyoroti penggunaan kapal bermesin diesel yang cenderung menimbulkan polusi suara dan udara, sehingga mengganggu habitat burung. “Ke depan, kita bisa kembangkan kapal bertenaga surya (solar panel) dan motor listrik agar lebih senyap dan ramah lingkungan,” tambah Bambang.
Sejalan dengan hal tersebut, Kepala BRIDA Kota Surabaya Dr Agus Imam Sonhaji ST MMT menyambut baik sinergi tersebut. Agus berharap keandalan ITS di bidang teknologi, maritim, ataupun energi baru terbarukan (EBT), serta pemberdayaan masyarakat pesisir melalui metode silvofishery (wanamina) dapat segera diimplementasikan.
Melalui penandatanganan kerja sama antara ITS, BRIDA Kota Surabaya, dan KRM ini diharapkan nantinya seluruh potensi resources yang ada di ITS dapat membaktikan ilmunya di sini. “Nantinya bisa menjadikannya wahana edukasi unggulan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat pesisir,” imbuhnya berharap.
Melalui kolaborasi ini, ITS dan BRIDA Kota Surabaya optimis dapat mewujudkan pengelolaan kawasan konservasi yang berbasis teknologi. Dengan demikian, diharapkan ke depannya dapat memberikan dampak nyata bagi pembangunan berkelanjutan untuk Kota Surabaya.
Proyek kerja sama ini juga menunjukkan komitmen ITS dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya pada poin ke- 7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau, poin ke-14 tentang Ekosistem Laut, serta poin ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Pewarta: *Riyanto























