SUARAMALANG.COM, Kabupaten Malang – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat di Kabupaten Malang.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mencatat sebanyak 86.385 kasus ISPA hingga September 2026.
Meski turun 62,3 persen dibandingkan sepanjang 2025, masyarakat tetap diminta waspada terhadap risiko penularan, terutama di lingkungan keluarga.
Berdasarkan data Dinkes Kabupaten Malang, jumlah kasus ISPA pada 2025 mencapai 229.199 kasus, meningkat dibandingkan 2024 yang tercatat sebanyak 188.685 kasus. Sementara itu, angka hingga September 2026 mencapai 86.385 kasus.
Kelompok dewasa menjadi penyumbang kasus terbanyak pada 2026, yakni 32.617 kasus atau 34,71 persen.
Posisi berikutnya ditempati balita sebanyak 24.607 kasus (26,19 persen), anak-anak 14.013 kasus (14,91 persen), remaja 11.827 kasus (12,59 persen), serta lansia 10.906 kasus (11,61 persen).
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Malang, dr Titis Ari Respatilatsih, mengatakan ISPA masih banyak ditemukan di masyarakat. Karena penyebab dan faktor risikonya beragam, upaya pencegahan perlu dilakukan sebelum seseorang jatuh sakit.
“ISPA ini memang masih menjadi salah satu penyakit yang banyak ditemukan di masyarakat. Karena penyebabnya beragam, pencegahannya tidak cukup hanya ketika sudah sakit, tetapi juga perlu memperhatikan lingkungan, terutama sirkulasi udara dan paparan asap rokok di dalam rumah,” ujar Titis.
Dari pemetaan wilayah, kasus ISPA paling banyak ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Turen, dengan 8.126 kasus hingga September 2026.
Balita Perlu Mendapat Perhatian Khusus
Meski kelompok dewasa mencatat kasus terbanyak, balita tetap menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian.
Sistem kekebalan tubuh anak yang masih berkembang membuat mereka lebih rentan mengalami gangguan saluran pernapasan.
Titis mengingatkan orang tua agar tidak mengabaikan gejala yang mengarah pada kondisi berat.
Napas cepat, sesak, tarikan dinding dada ke dalam, sulit minum atau menyusu, hingga tubuh terlihat sangat lemas merupakan tanda bahaya yang membutuhkan penanganan medis segera.
“Kalau anak sudah menunjukkan napas cepat, sesak, tarikan dinding dada ke dalam, sulit minum atau terlihat sangat lemas, sebaiknya segera dibawa ke fasilitas kesehatan. Jangan menunggu kondisi semakin berat,” tegasnya.
ISPA sendiri merupakan infeksi yang menyerang saluran pernapasan bagian atas maupun bawah.
Gejalanya dapat berupa batuk, pilek, dan demam. Pada kondisi tertentu, penderita juga dapat mengalami sesak napas.
Penularan dapat terjadi melalui percikan cairan saluran pernapasan ketika seseorang batuk, bersin, atau berbicara.
Risiko penularan meningkat di ruangan tertutup, padat, dan memiliki sirkulasi udara yang buruk. Kuman juga dapat berpindah melalui tangan maupun permukaan benda yang terkontaminasi, kemudian masuk ke tubuh saat seseorang menyentuh hidung, mulut, atau mata.
Selain polusi udara, hunian padat, dan ventilasi yang buruk, paparan asap rokok menjadi faktor yang perlu diwaspadai.
Risiko pada anak juga dapat meningkat akibat gizi kurang, berat badan lahir rendah, pemberian ASI yang tidak adekuat, imunisasi tidak lengkap, maupun kekurangan vitamin A.
“Rumah sebaiknya menjadi lingkungan yang aman bagi anak. Salah satunya dengan tidak merokok di dalam rumah, karena paparan asap rokok dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan,” kata Titis.
Orang Dewasa Menjadi Sumber Penularan
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang (UM), dr Andreas Budi Wijaya, menilai ISPA bukan penyakit yang hanya mengancam anak-anak. Kelompok dewasa justru dapat memiliki risiko paparan tinggi karena aktivitas dan mobilitas sehari-hari, sedangkan balita dan anak-anak lebih rentan karena sistem pertahanan tubuh serta saluran pernapasannya masih berkembang.
Menurut Andreas, penanganan ISPA tidak boleh hanya berfokus pada pengobatan setelah gejala muncul. Pencegahan harus diperkuat untuk memutus rantai penularan, terutama di lingkungan keluarga.
“Yang perlu diperbaiki bukan hanya bagaimana mengobati ISPA, tetapi bagaimana memutus rantai penularannya,” ujar Andreas.
Ia mengimbau masyarakat membiasakan diri mencuci tangan menggunakan sabun, menerapkan etika batuk dan bersin, serta memakai masker ketika mengalami gangguan pernapasan.
Saat batuk atau bersin, masyarakat dianjurkan menutup mulut dan hidung menggunakan tisu atau bagian dalam siku agar percikan tidak mudah menyebar melalui tangan.
Andreas juga mendorong pemerintah daerah memperkuat surveilans untuk memetakan wilayah dan kelompok masyarakat dengan beban kasus tinggi.
Pemetaan tersebut penting sebagai dasar menentukan langkah intervensi yang tepat, sekaligus perlu diikuti promosi dan edukasi kesehatan secara lebih masif.
“ISPA bukan hanya masalah anak. Data ini justru menunjukkan bahwa orang dewasa adalah kelompok terbesar. Artinya, melindungi anak dari ISPA juga dimulai dari orang dewasa. Ketika kita sakit, kita harus mencegah agar tidak menjadi sumber penularan bagi anak di rumah,” ujarnya lagi.
Masyarakat juga diminta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami tanda bahaya, seperti sesak napas berat, napas cepat, nyeri dada, bibir membiru, penurunan kesadaran, atau kesulitan makan dan minum.
Khusus pada anak, kejang dan sulit dibangunkan menjadi kondisi yang membutuhkan penanganan segera.
Penurunan jumlah kasus hingga September 2026 menjadi perkembangan yang perlu dicermati melalui pemantauan berkelanjutan.
Namun, pencegahan tetap menjadi kunci, mulai dari menjaga kebersihan tangan, memperbaiki ventilasi rumah, menghindari asap rokok, hingga mencegah orang yang sedang sakit menularkan infeksi kepada anggota keluarga lainnya.
Pewarta: *Deni Robi












