Opini  

LEBARAN 2026 DALAM SATU FRAME : KETUPAT, TAWA, DAN VIDEO KELUARGA LINTAS GENERASI

Oleh: Dr. Fidela Dzatadini Wahyudi, S.Sosio, M.Sos
Dosen Prodi Ilmu Hukum Universitas Cipta Wacana Malang

Jalanan kembali padat, rumah dipenuhi pelukan hangat, aroma ketupat, dan tawa keluarga yang lama tak bersua. Lebaran 2026 kali ini menghadirkan suasana yang akrab sekaligus menarik untuk direnungkan. Di tengah kehadiran fisik yang kembali utuh pascapandemi dan mobilitas yang semakin tinggi, muncul satu pertanyaan penting: apakah kebersamaan hari ini masih dimaknai secara utuh, atau justru hanya hadir secara fisik tanpa kedalaman interaksi?

Lebaran tahun ini menunjukkan bahwa kehadiran fisik saja tidak lagi cukup untuk membangun kedekatan yang bermakna. Di sisi lain, teknologi digital—yang kini semakin melekat dalam kehidupan sehari-hari—justru membuka peluang baru untuk memperluas pengalaman kebersamaan lintas generasi. Dengan penetrasi internet Indonesia yang telah melampaui 78% pada 2025 menurut APJII, serta lebih dari 60% pengguna aktif bermedia sosial setiap hari berdasarkan laporan We Are Social, dalam realitanya, ruang digital kini bukan lagi pelengkap, melainkan bagian integral dari kehidupan sosial, termasuk dalam tradisi lebaran.

SILATURAHMI FISIK: FONDASI YANG TAK TERGANTIKAN

Tradisi mudik dan open house tetap menjadi inti dari perayaan lebaran. Pelukan hangat, percakapan santai, dan hidangan khas seperti ketupat dan opor ayam membentuk pengalaman sosial yang autentik. Interaksi langsung ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bagian dari struktur sosial yang memperkuat hubungan keluarga.

Dalam perspektif Pierre Bourdieu, praktik ini dapat dipahami sebagai habitus—pola kebiasaan sosial yang diwariskan dan membentuk cara individu berinteraksi. Lebaran menjadi ruang di mana nilai-nilai penghormatan, kebersamaan, dan kekeluargaan direproduksi dari generasi ke generasi. Anak-anak belajar menghormati yang lebih tua, sementara orang tua menegaskan kembali peran mereka dalam menjaga kohesi keluarga.

Namun, di tengah semua itu, tidak sedikit momen kebersamaan yang justru berlalu begitu saja tanpa benar-benar dimaknai. Percakapan yang terputus oleh distraksi gawai atau interaksi yang bersifat formalitas menunjukkan bahwa kehadiran fisik belum tentu sejalan dengan kehadiran emosional. Di sinilah teknologi, jika dimanfaatkan secara tepat, dapat menjadi jembatan yang memperkaya pengalaman tersebut.

VIDEO LINTAS GENERASI: DARI DOKUMENTASI KE KOLABORASI

Salah satu fenomena menarik lebaran 2026 adalah maraknya video keluarga lintas generasi di platform seperti TikTok. Anak-anak, orang tua, hingga kakek-nenek tampil bersama dalam satu frame, mengikuti tren musik, gerakan, atau narasi tertentu. Aktivitas ini bukan sekadar dokumentasi, melainkan proses kolaboratif yang menciptakan interaksi baru dalam keluarga.

Proses pembuatan video—dari memilih lagu, mengatur gerakan, hingga pengambilan gambar—menjadi ruang interaksi yang hidup. Generasi muda berperan sebagai fasilitator teknologi, sementara generasi yang lebih tua ikut terlibat secara aktif, bahkan menikmati pengalaman yang sebelumnya terasa asing. Tawa karena kesalahan gerakan, diskusi spontan, hingga improvisasi sederhana justru menjadi inti dari kebersamaan tersebut.

Fenomena ini mencerminkan transformasi halus dalam dinamika keluarga. Peran tidak lagi kaku; semua anggota keluarga, tanpa memandang usia atau gender, terlibat dalam satu aktivitas kreatif yang setara. Ini bukan sekadar hiburan, tetapi bentuk baru dari silaturahmi yang lebih partisipatif.

Dalam kerangka Jean Baudrillard, fenomena ini dapat dibaca melalui konsep simulacra, di mana representasi digital tidak hanya meniru realitas, tetapi juga memperkuat dan bahkan membentuk makna baru. Video keluarga lintas generasi tidak menggantikan kebersamaan nyata, melainkan memperpanjang dan memperluasnya ke ruang digital. Bahkan, dalam beberapa kasus, momen digital ini justru lebih diingat karena direkam, dibagikan, dan dikenang kembali.

Lebih dari itu, video lintas generasi juga membuka ruang ekspresi kreatif. Setiap keluarga dapat menafsirkan lebaran dengan cara yang unik—menggunakan music tren, humor khas keluarga, atau cerita ringan yang merefleksikan identitas mereka. Di sinilah teknologi tidak sekadar menjadi alat, tetapi medium ekspresi sosial.

MAKNA YANG TETAP HIDUP DI TENGAH PERUBAHAN

Lebaran selalu mengalami adaptasi seiring perubahan zaman. Dari tradisi lisan, foto keluarga, hingga kini video digital, esensi kebersamaan terus menemukan bentuk barunya. Namun, perubahan ini tidak menghilangkan makna dasar lebaran sebagai momentum saling memaafkan dan mempererat hubungan.

Kehadiran fisik tetap menjadi fondasi yang tidak tergantikan, tetapi kehadiran digital memberikan dimensi tambahan yang memperluas pengalaman tersebut. Bagi anggota keluarga yang tidak dapat hadir secara langsung, video dan media sosial menjadi jembatan yang menjaga keterhubungan.

Lebaran 2026 memperlihatkan bahwa tradisi tidak harus bertahan dalam bentuk yang sama untuk tetap bermakna. Justru, ketika tradisi mampu beradaptasi dengan konteks sosial dan teknologi, ia menjadi lebih relevan dan inklusif.

Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah seberapa viral video keluarga yang dihasilkan atau seberapa sempurna hidangan yang tersaji. Yang menentukan makna lebaran adalah kualitas kehadiran itu sendiri—apakah kita benar-benar hadir, terlibat, dan merasakan setiap momen bersama orang-orang terdekat.

Di antara ketupat yang tersaji, tawa yang mengalir, dan satu frame yang mempertemukan lintas generasi, lebaran kini hidup dalam dua ruang: nyata dan digital. Bukan sekadar hadir dan berkumpul, tetapi tentang bagaimana setiap momen benar-benar dirasakan—bukan hanya direkam di layar, melainkan dihidupkan bersama dalam hati.

*) Penulis : Dr. Fidela Dzatadini Wahyudi, S.Sosio, M.Sos, Dosen Prodi Ilmu Hukum Universitas Cipta Wacana Malang

*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis

Exit mobile version