SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Keterbatasan galeri seni formal di Malang ternyata tidak selalu menjadi penghalang bagi para seniman untuk berkarya. Justru, kondisi itu memunculkan ruang-ruang baru yang tak terduga, salah satunya kafe yang kini banyak beralih fungsi menjadi tempat pameran seni.
Fenomena menarik ini menjadi fokus penelitian Kayla Rachma Novalia, S.Sn., lulusan terbaik Program Studi Seni Rupa, Fakultas Ilmu Kebudayaan Universitas Brawijaya. Dengan capaian IPK 3,96, Kayla mengangkat transformasi kafe menjadi ruang pameran seni dalam tesisnya.
Penelitian tersebut bermula dari keresahan yang sering dirasakan para seniman lokal. Banyak dari mereka mengeluhkan sulitnya akses ke galeri konvensional yang dinilai memiliki aturan ketat dan ruang yang terbatas.
Dari situ, Kayla mulai mengamati bagaimana kafe-kafe di Malang perlahan berubah peran. Tidak hanya menjadi tempat nongkrong atau konsumsi, tetapi juga ruang publik yang menghadirkan pengalaman artistik.
“Penelitian saya berfokus pada komodifikasi ruang publik. Kafe tidak lagi hanya berfungsi sebagai ruang konsumsi tetapi juga berfungsi sebagai ruang seni, dan apakah fasilitas dan pengalaman yang ditawarkan dapat dibandingkan dengan galeri seni,” kata Kayla.
Kayla menilai, keberadaan kafe sebagai ruang pameran alternatif menunjukkan kreativitas seniman sekaligus adaptasi masyarakat urban terhadap ruang-ruang baru. Ia melihat kafe menjadi tempat yang lebih fleksibel dan mudah diakses dibanding galeri formal.
Proses penelitian ini pun tidak singkat. Kayla menghabiskan waktu sekitar dua tahun sejak akhir 2023, dimulai ketika ia mengikuti mata kuliah Metode Penelitian Seni.
Dalam kajiannya, ia menggunakan teori Fenomenologi Alfred Schutz, yang membedah motif-tujuan dan motif-penyebab di balik munculnya ruang pameran alternatif tersebut.
Hasilnya, Kayla menemukan bahwa penggunaan kafe sebagai ruang seni sangat dipengaruhi latar belakang pemilik usaha. Ada yang memiliki visi budaya, ada pula yang melihatnya sebagai strategi bisnis, namun tetap berupaya menjaga esensi artistik ruang tersebut.
“Keberlanjutan ruang pameran alternatif di kafe sangat bergantung pada sinergi antara pemilik bisnis, seniman, komunitas, dan penonton,” kata Kayla.
Tak hanya unggul secara akademis, Kayla juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan seni selama kuliah, mulai dari Festival Seni Rupa hingga pameran lintas ruang yang memperluas jejaring komunitas kreatif di Malang.
Kini, setelah meraih gelar sarjana, Kayla melanjutkan kontribusinya di dunia seni dengan menjadi guru seni di sebuah lembaga pelatihan kreatif.
Di sana, ia menerapkan ilmu yang didapat selama studi, bukan hanya dalam aspek teknis berkarya, tetapi juga dalam membangun pemahaman kontekstual tentang seni rupa dan ruang publik.
Penelitian Kayla menjadi gambaran bahwa keterbatasan ruang formal tidak selalu mematikan kreativitas. Di tangan komunitas seni, bahkan kafe pun bisa menjadi galeri baru yang hidup dan dekat dengan masyarakat.
