Mantan Masinis Korban Tragedi Bintaro Soroti Insiden Bekasi, Minta Jangan Ada Lagi Tumbal Sistem

Insiden Bekasi Kembali Buka Luka Lama

SUARAMALANG.COM, Nasional – Insiden kereta api di Bekasi kembali memunculkan perhatian publik terhadap sistem keselamatan transportasi rel di Indonesia. Peristiwa itu juga membuka luka lama bagi Slamet Suradio, mantan masinis tragedi Bintaro 1987.

Kisahnya tersebut diceritakan dan diunggah melalui sosial media facebook pada akun Group Tittle Pending. Unggahan itupun berhasil menyita banyak perhatian netizen.

Pada unggahan tersebu diceritakan bahwa Slamet mengaku selalu terpukul setiap mendengar kabar kecelakaan kereta api. Baginya, tragedi di jalur rel bukan hanya soal korban, tetapi juga risiko kesalahan penanganan setelah kejadian.

“Jantung saya seperti berhenti setiap mendengar ada tabrakan kereta. Saya takut ada lagi orang kecil dijadikan pihak paling bersalah,” ujar Slamet.

Ia menilai evaluasi sistem harus menjadi prioritas utama dalam setiap insiden transportasi. Menurutnya, petugas lapangan sering menjadi pihak pertama yang menerima tekanan.

Kronologi Tragedi Bintaro 1987

Slamet menceritakan tragedi yang mengubah hidupnya bermula pada 19 Oktober 1987. Saat itu, terjadi perubahan lokasi persilangan kereta secara mendadak akibat kondisi Stasiun Sudimara penuh.

Perubahan persilangan dialihkan menuju Stasiun Kebayoran. Slamet menyebut koordinasi saat itu berjalan kurang maksimal.

Ia mengaku tetap menjalankan kereta karena telah menerima Surat P.T.P atau izin jalan resmi. Selain itu, semboyan keamanan perjalanan juga telah diberikan.

Namun nahas, dua kereta bertemu di satu jalur di kawasan tikungan Bintaro. Tabrakan besar pun tidak dapat dihindari.

“Waktu itu saya berusaha melakukan pengereman sampai detik terakhir,” kata Slamet.

Merasa Dijadikan Pihak Paling Bersalah

Setelah tragedi terjadi, Slamet mengaku menghadapi tekanan besar dalam proses hukum. Ia merasa sejumlah bukti yang dimilikinya tidak dipertimbangkan secara utuh.

Slamet menyebut dirinya akhirnya menjadi pihak yang paling disalahkan dalam tragedi tersebut. Sementara, menurutnya, banyak aspek sistem yang seharusnya ikut dievaluasi.

Akibat kasus itu, ia kehilangan pekerjaan dan mengalami tekanan sosial berat. Slamet bahkan sempat menjalani hidup berpindah-pindah sebelum akhirnya bertahan dengan berjualan rokok eceran di Kutoarjo.

“Cap sebagai pembunuh membuat hidup saya hancur saat itu,” ungkapnya.

Minta Evaluasi Sistem Keselamatan

Insiden terbaru di Bekasi membuat Slamet berharap evaluasi menyeluruh dilakukan terhadap sistem operasional kereta api. Ia meminta kejadian serupa tidak kembali memunculkan korban maupun polemik penanganan.

Menurut Slamet, perkembangan teknologi harus diikuti koordinasi dan pengawasan yang baik di lapangan. Ia menilai keselamatan perjalanan kereta tidak boleh hanya bergantung pada individu petugas.

“Saya hanya berharap jangan ada lagi orang yang mengalami penderitaan seperti saya selama puluhan tahun,” tuturnya.

Slamet berharap setiap insiden transportasi dijadikan pelajaran untuk memperbaiki sistem keselamatan nasional. Ia juga meminta keadilan dan perlindungan bagi petugas lapangan tetap diperhatikan.

Exit mobile version