SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Gema tepuk tangan memenuhi area Malang City Point (MCP), Sabtu (14/2/2026). Ajang Malang Fashion Fest (MFF) 2026 resmi dibuka dan menguatkan Kota Malang yang ingin terus berdiri di garis depan industri fesyen dan ekonomi kreatif.
Tahun ini menjadi edisi keempat penyelenggaraan MFF. Mengusung tema ‘Dimension’, gelaran ini menonjolkan keberagaman ide, karakter desain, hingga kolaborasi lintas komunitas yang kian solid.
Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menegaskan, MFF bukan sekadar parade busana tahunan. Lebih dari itu, ajang ini diposisikan sebagai instrumen penggerak ekonomi kreatif.
“Malang Fashion Fest ini menjadi salah satu barometer ekonomi kreatif, khususnya subsektor fesyen. Kita ingin menunjukkan bahwa karya desainer dan UMKM Kota Malang sangat bisa diandalkan dan mampu bersaing,” ujarnya.
Menurut Wahyu, MFF menjadi bagian dari strategi besar mendorong produk lokal naik kelas. Kegiatan ini selaras dengan program Dasa Bakti Unggulan ‘Ngalam Laris’ yang bertujuan memperluas pasar produk UMKM Kota Malang.
Ia menyebut, geliat fesyen dan kriya dari Malang tak lagi bermain di level lokal. Sejumlah produk sudah merambah pasar nasional bahkan internasional.
“Kegiatan ini menjadi wadah untuk memfasilitasi UMKM, khususnya di bidang fesyen. Kita ingin produk-produk Kota Malang semakin naik kelas dan memiliki daya saing tinggi,” harapnya.
Tak hanya soal panggung catwalk, dampak ekonomi juga terasa di sektor lain. Perhelatan seperti ini, kata Wahyu, ikut menggerakkan kuliner, perhotelan, hingga pariwisata.
“Orang datang tidak hanya menikmati keindahan karya fesyen, tetapi juga menikmati kuliner, mengunjungi destinasi wisata, dan membeli produk UMKM. Inilah dampak ekonomi yang kita harapkan,” jelas Wahyu.
Dalam sambutannya, orang nomor satu di Pemkot Malang itu juga menyinggung status Kota Malang yang telah disejajarkan dengan 58 kota dunia, termasuk Paris dan Seoul, sebagai kota kreatif dunia. Predikat itu, tegasnya, tak boleh berhenti di atas kertas.
“Status kota kreatif dunia ini harus kita jawab dengan karya nyata. Salah satunya melalui Malang Fashion Fest. Dengan tema ‘Dimension’ ini, kita ingin merangkul semua lapisan masyarakat dalam berbagai dimensi kreativitas,” ucapnya.
Tema Dimension sendiri diartikan sebagai ruang bertemunya berbagai perspektif desain, dari desainer muda, pelaku UMKM, hingga kolaborator lintas daerah.
Menariknya, peserta MFF 2026 tak hanya berasal dari Kota Malang. Sejumlah desainer dari luar daerah turut ambil bagian. Hal ini dinilai menjadi bukti bahwa Malang kini diperhitungkan sebagai referensi fesyen.
“Ini membuktikan bahwa Kota Malang menjadi tujuan dan referensi. Desainer dari luar daerah datang dan berkolaborasi di sini. Artinya, Malang sudah menjadi pusat perhatian dalam pengembangan fesyen,” jelasnnya.
Wahyu juga memberikan apresiasi khusus kepada para desainer muda yang dinilai mampu menghadirkan warna baru di industri fesyen lokal.
“Anak-anak muda kita luar biasa. Kreativitas mereka harus terus kita dukung. Pemerintah hadir untuk memberikan ruang, kesempatan, dan panggung seperti ini,” katanya.
Adapun Malang Fashion Fest menjadi salah satu agenda dalam program 1.000 event yang digagas Pemkot Malang. Program ini dirancang untuk memperkuat ekosistem kreatif sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Dalam kesempatan yang sama, panitia juga menyerahkan penghargaan kepada para pemenang Ilustrasi Fashion Design Competition. Ajang ini menjadi ruang apresiasi bagi talenta muda di bidang desain fesyen.
“Kita ingin ekosistem kreatif di Kota Malang semakin kuat. Ajang seperti ini adalah ruang kolaborasi dan eksplorasi kreativitas untuk meningkatkan daya saing,” tutup Wahyu.
