SUARAMALANG.COM – Nasi pecel selama ini dikenal sebagai makanan sederhana yang mudah ditemukan di berbagai daerah di Pulau Jawa. Namun di balik kesederhanaannya, kuliner berbahan sayuran rebus dan bumbu kacang tersebut ternyata menyimpan sejarah panjang yang diperkirakan telah berlangsung lebih dari seribu tahun.
Berbagai catatan sejarah menunjukkan bahwa pecel bukan sekadar makanan rakyat biasa. Hidangan ini bahkan disebut dalam sejumlah prasasti dan naskah kuno yang berasal dari era Kerajaan Mataram Kuno hingga masa perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.
Jejak Pecel dalam Prasasti Kuno
Sejumlah peneliti menyebut keberadaan pecel tercatat dalam Prasasti Taji yang ditemukan di wilayah Ponorogo dan berasal dari tahun 901 Masehi. Selain itu, hidangan serupa juga muncul dalam Prasasti Siman dari Kediri yang berasal dari tahun 943 Masehi.
Tak hanya dalam prasasti, pecel juga disebut dalam beberapa karya sastra Jawa kuno seperti Kakawin Ramayana, Babad Tanah Jawi, hingga Serat Centhini. Kehadiran nama pecel dalam berbagai sumber tersebut menunjukkan bahwa makanan ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa lintas zaman.
Dalam kajian yang diterbitkan Journal of Ethnic Foods tahun 2026, peneliti Puji Rahmadi dan Ratih Pangestuti menuliskan bahwa referensi mengenai pecel dapat ditemukan dalam sejumlah sumber klasik Jawa sejak abad ke-9. Kajian tersebut menempatkan pecel sebagai bagian penting dari warisan kuliner dan pengetahuan ekologis masyarakat Jawa.
Awalnya Bukan Nama Makanan
Menariknya, beberapa sumber menyebut kata “pecel” pada masa lampau tidak selalu merujuk pada nama hidangan seperti yang dikenal sekarang.
Laporan TIMES Indonesia yang mengulas sejarah pecel menyebut istilah tersebut pernah merujuk pada teknik pengolahan makanan. Dalam beberapa penafsiran bahasa Jawa kuno, pecel berkaitan dengan proses menumbuk, meremas, atau mencampur bahan makanan hingga menyatu dengan bumbu.
Sementara dalam kajian ilmiah Journal of Ethnic Foods, istilah pecel disebut berasal dari frasa Jawa “dipun pecel” yang berarti ditekan atau diremas setelah direbus. Proses itu dilakukan untuk mengurangi kandungan air pada sayuran sebelum disajikan bersama bumbu.
Dari Ladang Petani hingga Meja Makan Kota
Para peneliti menilai kemunculan pecel sangat erat dengan budaya agraris masyarakat Jawa. Hidangan ini lahir dari ketersediaan bahan yang mudah ditemukan di sekitar permukiman, mulai dari kacang panjang, kangkung, kecambah, daun singkong hingga aneka tanaman liar yang dapat dikonsumsi.
Karena menggunakan bahan sederhana dan murah, pecel berkembang sebagai makanan rakyat yang mampu menjangkau hampir semua lapisan masyarakat. Dalam perkembangannya, pecel kemudian dipadukan dengan nasi sehingga lahirlah sajian yang kini dikenal sebagai nasi pecel atau sego pecel.
Kajian ilmiah tersebut juga mencatat bahwa pecel kerap menjadi bekal petani saat bekerja di sawah. Kehadirannya mencerminkan hubungan erat antara pola makan masyarakat Jawa dengan aktivitas pertanian dan siklus alam.
Pengaruh Perdagangan Dunia terhadap Pecel
Meski kini identik dengan bumbu kacang, ternyata bahan utama sambal pecel tidak selalu menggunakan kacang tanah.
Penelitian Journal of Ethnic Foods menyebut kacang tanah baru masuk ke Nusantara sekitar abad ke-16 hingga ke-17 melalui jalur perdagangan global yang melibatkan bangsa Portugis dan Spanyol. Sebelum itu, masyarakat diduga menggunakan bahan lain seperti wijen atau kacang lokal sebagai dasar bumbu.
Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana kuliner tradisional mampu beradaptasi terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas utamanya.
Madiun dan Identitas Kota Pecel
Jika ada satu daerah yang paling lekat dengan nasi pecel, maka jawabannya adalah Madiun. Kota ini bahkan dikenal luas dengan julukan “Kota Pecel”.
Ciri khas pecel Madiun terletak pada penggunaan sambal kacang yang lebih pekat dan cenderung pedas. Beberapa warung juga menambahkan bunga turi, daun pepaya, atau petai cina sebagai pelengkap. Peyek kacang hampir selalu hadir sebagai pasangan wajib dalam satu porsi nasi pecel.
Popularitas pecel Madiun bahkan begitu kuat hingga kerap muncul dalam percakapan publik dan budaya populer. Berbagai diskusi pecinta kuliner di Reddit menunjukkan bagaimana nasi pecel identik dengan Madiun, Kediri, hingga wilayah Tapal Kuda Jawa Timur yang memiliki karakter sambal berbeda-beda.
Lebih dari Sekadar Makanan
Di balik rasa gurih dan pedasnya, nasi pecel menyimpan nilai budaya yang besar. Peneliti Journal of Ethnic Foods menyebut pecel tidak hanya berfungsi sebagai makanan sehari-hari, tetapi juga menjadi simbol hubungan manusia dengan alam, pertanian, dan tradisi sosial masyarakat Jawa.
Pecel bahkan kerap hadir dalam tradisi sedekah bumi, bersih desa, hingga berbagai kegiatan komunal masyarakat pedesaan. Dalam konteks tersebut, pecel bukan hanya santapan, melainkan bagian dari ekspresi syukur atas hasil panen dan keberlangsungan hidup masyarakat agraris.
Setelah lebih dari seribu tahun, nasi pecel tetap bertahan di tengah gempuran makanan modern. Kesederhanaan bahan, kekayaan rasa, dan kuatnya akar budaya membuat kuliner ini terus hidup dari generasi ke generasi, sekaligus menjadi salah satu simbol kuliner paling autentik yang dimiliki masyarakat Jawa.
