Pedagang Uang Baru Marak di Jalan Kertanegara Malang Jelang Lebaran

Iklan

SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Menjelang bulan Ramadan hingga Lebaran, sejumlah warga memanfaatkan tradisi penukaran uang pecahan baru dengan berjualan di pinggir jalan. Salah satunya terlihat di kawasan Jalan Kertanegara, Kota Malang pada Minggu (8/3/2026), di mana beberapa pedagang menawarkan berbagai pecahan uang baru kepada pengendara yang melintas.

Di tepi jalan tersebut, papan berukuran sekitar dua meter dipajang berisi deretan pecahan uang mulai dari Rp2.000, Rp5.000, Rp10.000, hingga Rp20.000. Di balik papan itu, seorang pedagang bernama M Effendy tampak berjaga di atas sepeda motornya sambil memperhatikan kendaraan yang melintas, berharap ada pembeli yang berhenti untuk menukarkan uang.

Iklan

Tradisi Jualan Uang Baru Keluarga

Effendy mengaku sudah lama menjalankan usaha penukaran uang baru bersama anggota keluarganya di Kota Malang. Tradisi tersebut bahkan telah berlangsung turun-temurun setiap menjelang Lebaran.

Menurutnya, pasokan uang pecahan baru diperoleh dari tengkulak yang berada di Surabaya atau Sidoarjo karena sulit mendapatkan langsung dari bank.

“Kalau dari Kota Malang tidak ada. Kami ambil yang sekarang ini dari Surabaya,” ujarnya.

Ia mengaku membeli uang pecahan baru senilai Rp13 juta dengan harga sekitar Rp13,5 juta dari pemasok. Setelah itu, uang tersebut dijual kembali dalam bentuk paket pecahan kepada pembeli di Kota Malang.

Sebagian uang sudah dikemas dalam paket tertentu, misalnya Rp1 juta untuk pecahan Rp10.000, Rp500.000 untuk pecahan Rp5.000, hingga Rp2 juta untuk pecahan Rp2.000.

Harga Jual Lebih Tinggi dari Nilai Nominal

Sebagai penyedia jasa penukaran uang baru, para pedagang mengambil selisih harga sebagai keuntungan. Misalnya, paket pecahan Rp500.000 dijual sekitar Rp575.000, sementara paket Rp1 juta dijual sekitar Rp1,1 juta.

Effendy memastikan uang yang ia jual merupakan uang asli karena sebelum mengambil pasokan dari pemasok, ia selalu memeriksa keasliannya terlebih dahulu.

“Kami sudah bertahun-tahun berlangganan dari Surabaya, jadi kami pastikan juga uangnya asli. Jadi pasti aman kalau saya jualan uang baru,” katanya.

Pengalaman Pedagang Membaca Ciri Uang Asli

Pedagang lain, Tutik, juga mengaku mendapatkan pasokan uang baru dari pemasok di Surabaya. Ia bahkan telah berjualan uang pecahan baru sejak puluhan tahun lalu, jauh sebelum anaknya lahir.

Pengalaman panjang tersebut membuatnya cukup memahami perbedaan uang asli dan uang palsu. Ia menjelaskan bahwa uang palsu biasanya memiliki tekstur lebih halus dibandingkan uang asli yang terasa lebih kasar saat diraba.

Selain itu, warna uang palsu cenderung lebih pudar, sedangkan uang asli memiliki warna yang lebih cerah dan detail gambar yang jelas.

Selama menjalankan usaha penukaran uang, Tutik mengaku belum pernah menemukan uang palsu dalam transaksi yang ia lakukan.

Harap Berjualan Tetap Aman

Bagi Tutik, menjaga kepercayaan pelanggan menjadi hal paling penting karena usaha ini merupakan layanan yang ia jalankan setiap tahun menjelang Lebaran.

Ia berharap aktivitas penjualan uang baru di pinggir jalan tetap berjalan aman dan tidak menimbulkan masalah bagi pedagang kecil seperti dirinya.

Menurutnya, kekhawatiran terbesar bukan pada persaingan antar pedagang, melainkan kemungkinan adanya penertiban dari petugas Satuan Polisi Pamong Praja yang bisa sewaktu-waktu terjadi di kawasan tersebut.

Tradisi penukaran uang baru sendiri masih menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat Indonesia menjelang Lebaran, terutama untuk kebutuhan berbagi uang kepada anak-anak dan keluarga saat hari raya.

Iklan
Iklan
Iklan