SUARAMALANG.COM, Jember – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 1 Umbulsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, menuai sorotan setelah ratusan siswa dan belasan guru diduga mengalami keracunan usai menyantap makanan yang dibagikan pada Rabu (4/2/2026). Hingga Jumat (6/2/2026), sebanyak 112 orang tercatat mengalami gejala gangguan pencernaan, dengan tiga siswa masih menjalani perawatan di Puskesmas Umbulsari.
Gejala yang muncul dialami secara bertahap. Sebagian besar siswa mengeluhkan mual, sakit perut, dan diare yang baru terasa pada malam hari setelah konsumsi MBG di sekolah. Kondisi tersebut terungkap keesokan harinya, ketika banyak siswa tampak mengantre di kamar mandi sekolah dan mengeluhkan keluhan serupa.
Salah satu siswa kelas VIII C, Nadia Agustin Triani, mengaku mulai merasakan mual setelah pulang sekolah. Menu MBG yang ia santap terdiri dari ayam bakar, sambal lalapan, dan susu kemasan. Ia mengungkapkan bahwa kondisi makanan sempat menimbulkan keraguan. “Saya lihat di ayamnya ada darahnya gitu, cuma tidak banyak. Akhirnya saya makan sampai habis,” ujar Nadia pada Jumat (6/2/2026).
Malam harinya, keluhan yang dialami semakin parah. Ia mengalami diare hingga tidak bisa tidur, meski tetap memaksakan diri berangkat ke sekolah pada Kamis (5/2/2026). Setibanya di sekolah, Nadia mendapati banyak teman sekelas dan lintas jenjang mengalami keluhan serupa dengan intensitas berbeda-beda.
Dugaan Keracunan MBG dan Penanganan Medis
Kepala SMPN 1 Umbulsari, Mamik Sasmiati, menjelaskan bahwa kejadian tersebut baru teridentifikasi secara pasti pada Kamis sekitar pukul 11.00 WIB. Saat itu, pihak sekolah mencurigai kondisi tidak wajar karena jumlah siswa yang mengeluh sakit perut terus bertambah. Pendataan internal menunjukkan hampir seluruh kelas terdampak, mulai dari kelas VII hingga IX.
Mamik menduga kuat sumber gangguan kesehatan tersebut berasal dari MBG yang dibagikan sehari sebelumnya. Ia kemudian menghubungi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Umbulsari dan meminta penanganan medis segera. “Karena hampir ratusan anak kan, kalau gejala biasa tidak mungkin. Setelah kami data, terus saya langsung ngebel pihak SPPG,” ujarnya.
Petugas Puskesmas Umbulsari diterjunkan untuk memberikan penanganan di lokasi. Para siswa yang mengalami diare dan mual mendapatkan obat pereda gejala, seperti obat sakit perut dan mual. Berdasarkan data puskesmas, dari total 112 korban, 99 di antaranya adalah siswa dan 13 guru. Sebagian besar dapat ditangani secara rawat jalan, sementara tiga siswa masih dalam observasi hingga Jumat.
Kepala Puskesmas Umbulsari, dr. Nur Ahmad Santoso, menyatakan seluruh korban telah mendapatkan penanganan dan kondisinya berangsur membaik setelah terapi obat diberikan. Pihaknya memastikan pemantauan ketat dilakukan untuk mencegah komplikasi lanjutan.
Insiden ini mendorong pihak sekolah menghentikan sementara pembagian MBG pada hari berikutnya. Hingga berita ini disusun, pihak SPPG Umbulsari yang berada di bawah naungan Yayasan Baitul Huda Amanah belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan makanan tidak matang dalam menu MBG tersebut.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap kualitas dan keamanan pangan dalam program MBG, terutama karena menyasar kelompok rentan seperti pelajar. Evaluasi menyeluruh dinilai krusial agar tujuan pemenuhan gizi tidak justru berujung pada risiko kesehatan.





















