SUARAMALANG.COM, Kota Batu – Rentetan kecelakaan akibat rem blong di Jalur Klemuk, Kota Batu, mendorong pemerintah setempat menyiapkan langkah penanganan yang lebih serius. Tak sekadar penutupan sementara, Pemkot Batu kini mengkaji penataan ulang jalan dengan konsep trase berkelok untuk menurunkan tingkat risiko kecelakaan.
Jalur alternatif yang berada di Jalan Rajekwesi, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, selama ini dikenal sebagai rute favorit pengendara menuju Pujon, Kabupaten Malang. Waktu tempuh yang lebih singkat dibanding jalur utama membuat jalur ini ramai dilintasi kendaraan, terutama roda empat dan angkutan barang.
Namun kondisi medan yang ekstrem justru menjadi ancaman. Jalan menurun tajam dengan kontur curam memaksa pengendara melakukan pengereman panjang sejak titik awal. Situasi inilah yang kerap berujung kegagalan sistem rem.
Menanggapi kerawanan tersebut, Pemkot Batu menutup Jalur Klemuk hingga 31 Januari 2026. Penutupan dilakukan sembari menunggu hasil evaluasi teknis dan kajian keselamatan.
“Penutupan ini bukan tanpa alasan. Jalur Klemuk memiliki tingkat kerawanan tinggi. Kami tidak ingin menunggu sampai terjadi peristiwa yang lebih besar,” tegas Wali Kota Batu, Nurochman.
Kajian Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Batu mengungkap sumber persoalan utama berada pada desain vertikal jalan yang terlalu curam. Kondisi ini menyebabkan beban pengereman kendaraan meningkat drastis, terutama pada jalur satu arah menurun.
Sebagai upaya jangka menengah hingga panjang, DPUPR mengusulkan pembangunan trase jalan berkelok. Skema ini dirancang untuk memecah kemiringan jalan agar tidak terlalu ekstrem, sekaligus memberi ruang bagi kendaraan mengatur kecepatan secara bertahap.
“Dengan trase berkelok, kemiringan jalan bisa dikurangi. Pengendara tidak perlu lagi melakukan pengereman panjang atau terus-menerus,” jelas Cak Nur.
Trase berkelok merupakan desain jalan yang menyesuaikan kontur alam dengan membuat jalur berliku. Selain meningkatkan faktor keselamatan, konsep ini dinilai mampu memberi kenyamanan lebih bagi pengendara, terutama pada jalur turunan panjang seperti Klemuk.
Menurut Cak Nur, langkah penataan ulang ini bersifat mendesak mengingat pola kecelakaan yang selama ini terjadi cenderung seragam.
“Selama ini kecelakaan di Jalur Klemuk didominasi kasus rem blong. Itu terjadi karena pengereman yang dilakukan terus-menerus dari atas. Maka solusinya bukan hanya rambu atau imbauan, tapi penataan ulang trase jalan,” tegasnya.
Dalam tahap awal, DPUPR Kota Batu mulai berkoordinasi dengan Perhutani selaku pengelola kawasan hutan di sekitar Jalur Klemuk. Koordinasi diperlukan lantaran rencana penataan infrastruktur bersinggungan dengan wilayah berstatus kawasan hutan.
Ke depan, penanganan Jalur Klemuk tak hanya mengandalkan trase berkelok. Pemkot Batu juga mempertimbangkan penyesuaian menyeluruh pada desain vertikal dan horizontal jalan untuk menekan tingkat kecuraman dan meningkatkan standar keselamatan.
Meski begitu, Nurochman mengingatkan bahwa pembenahan infrastruktur harus dibarengi dengan kedisiplinan pengguna jalan.
“Infrastruktur kami benahi, tapi kesadaran masyarakat juga harus berjalan seiring. Tertib berlalu lintas tetap kunci utama keselamatan,” pungkas Cak Nur.
Sumber: Malang Post
