SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Penantian panjang Sheila Gank di Kota Malang akhirnya terbayar. Setelah sekitar tujuh tahun tak menyapa kota ini, Sheila On 7 dipastikan bakal kembali naik panggung.
Band asal Yogyakarta itu akan tampil dalam gelaran POLIPONI Si Paling Konser yang digagas Letralive. Konser dijadwalkan berlangsung pada 20 Juni 2026 di Lapangan Rampal.
Momen ini diprediksi menjadi ajang reuni bagi para penggemar bersama Duta, Eross, dan Adam.
Di tengah euforia kabar tersebut, Adam memastikan penampilan kali ini tak akan biasa. Ia menyebut Sheila On 7 menyiapkan konsep khusus untuk Malang.
“Kami berusaha memilih katalog lagu yang paling pas. Dan pastinya ada yang berbeda karena kami hanya main bertiga di Malang,” tandasnya.
Format bertiga itu dipastikan memberi warna tersendiri. Penggemar pun dibuat penasaran, lagu apa saja yang bakal dibawakan dari deretan hits seperti ‘Dan’, ‘Sephia’, hingga ‘Hari Bersamanya’.
Co-Founder Letralive, Erwin Wibowo, menjelaskan POLIPONI dirancang sebagai panggung lintas generasi dengan keberagaman warna musik dalam satu harmoni.
“POLIPONI berarti banyak suara dalam satu harmoni. Kami ingin menghadirkan panggung kolaboratif yang merayakan keberagaman musikal,” ujar Erwin.
Tak hanya menghadirkan line-up kuat, panitia juga menjanjikan kualitas produksi maksimal.
“Kami akan memastikan peralatan pendukung konser Poliponi ini memuaskan para penggemar musik di Malang,” tegasnya.
Creative Director POLIPONI, Ari Wulu, menambahkan tata suara presisi dan pertunjukan visual akan menjadi daya tarik utama konser ini.
Selain Sheila On 7 sebagai headliner, sejumlah nama besar juga sudah dikonfirmasi tampil. Ada Barasuara yang akan membawakan lagu “Terbuang Dalam Waktu”, original soundtrack film Sore.
Kemudian Fiersa Besari siap menyapa penggemarnya setelah sempat hiatus, serta Coldiac, band kebanggaan Malang yang ikut memeriahkan panggung.
“Kehadiran para musisi ini mencerminkan semangat polifoni. Beragam warna, energi, dan pendekatan musikal menyatu dalam satu panggung harmoni,” lanjut Erwin.
Panitia juga memberi sinyal masih ada nama besar lain yang akan diumumkan dalam waktu dekat.
Pemilihan Malang bukan tanpa alasan. Kota ini dikenal memiliki basis penikmat musik yang kuat serta ekosistem kreatif yang hidup.
“Poliponi kami harapkan menjadi momentum penting bagi pergerakan industri pertunjukan musik di Jawa Timur pada pertengahan 2026,” ujarnya.
