SUARAMALANG.COM, Kabupaten Malang – Puluhan siswa Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Gondanglegi mengikuti pembelajaran berbasis praktik di Sentra Batik Sukun. Kegiatan ini menghubungkan teori ekonomi dengan pelestarian budaya lokal.
Sebanyak 20 siswa bersama empat guru terlibat langsung dalam kunjungan edukatif tersebut. Mereka mempelajari proses membatik sekaligus memahami dinamika ekonomi kreatif.
Belajar Ekonomi dari Praktik Nyata
Guru ekonomi, Fitri Hadayani, memandu siswa mengaitkan praktik membatik dengan konsep ekonomi. Ia menekankan pentingnya memahami teori melalui pengalaman langsung.
Menurut Fitri, kegiatan ini menggambarkan Teori Persaingan Monopolistik dalam kehidupan nyata. Setiap perajin memiliki ciri khas produk yang membedakannya di pasar.
“Setiap batik punya motif unik dan nilai seni tinggi. Kondisi ini menciptakan ‘mini-monopoli’ bagi perajin,” ujar Fitri.
Ia menilai pendekatan ini membantu siswa memahami ekonomi secara lebih kontekstual. Siswa juga melihat bahwa nilai budaya berperan dalam pembentukan harga dan permintaan.
Membatik Sekaligus Melestarikan Budaya
Para siswa tidak hanya mengamati, tetapi juga mencoba langsung proses membatik. Mereka menggambar motif khas Malangan, termasuk unsur topeng tradisional.
Kegiatan ini memperkenalkan batik sebagai bagian identitas lokal. Siswa belajar bahwa ekonomi kreatif tidak terlepas dari warisan budaya.
Pengalaman tersebut mendorong pemahaman bahwa ekonomi tidak sekadar angka. Kreativitas dan nilai tradisi turut menentukan daya saing produk.
Sentra Batik Sukun Perluas Edukasi
Ketua Sentra Batik Sukun, Nena Bachtian, menjelaskan bahwa pihaknya terus mengembangkan program edukasi. Sentra ini rutin menerima kunjungan dari berbagai kalangan pelajar.
Ia menyebut mayoritas perajin merupakan ibu rumah tangga yang aktif berkarya. Produksi harian tetap berjalan seiring kegiatan edukatif.
“Kami juga mengadakan Festival Batik Sukun setiap tahun. Program kunjungan edukasi akan kami jadikan agenda rutin,” jelas Nena.
Dukungan untuk Generasi Muda
Ketua Asosiasi Perajin Batik Kota Malang, Ki Demang, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia menyampaikan apresiasi terhadap antusiasme siswa.
Ia menilai keterlibatan generasi muda penting untuk menjaga keberlanjutan batik. Interaksi langsung dengan proses kreatif dinilai efektif membangun ketertarikan.
Menurutnya, pengenalan sejak dini akan memperkuat kecintaan terhadap budaya lokal. Hal ini juga membuka peluang regenerasi perajin batik.
Strategi Pengembangan ke Depan
Sentra Batik Sukun terus berperan sebagai pusat edukasi dan promosi batik Malangan. Berbagai kegiatan digelar untuk memperluas jangkauan pasar.
Penguatan pendampingan bagi perajin menjadi salah satu fokus utama. Selain itu, digitalisasi dinilai penting untuk meningkatkan daya saing.
Langkah tersebut diharapkan mampu membawa batik Sukun ke pasar yang lebih luas. Upaya ini tetap menjaga nilai tradisi dan kearifan lokal.
