Iklan

Tengsoe Tjahjono: Puisi sebagai Jeritan Bangsa

Iklan

SUARAMALANG.COM, MALANG – Tengsoe Tjahjono (67), sastrawan nasional asal Jember, kembali menyuarakan kepedulian sosial dan politiknya melalui puisi. Sepanjang kiprahnya, Tengsoe dikenal sebagai penyair yang tajam menyoroti realitas bangsa, tak hanya melalui estetika bahasa, tetapi juga lewat kritik yang menggugah nurani.

Pria kelahiran Jember ini telah menorehkan banyak prestasi di dunia sastra. Pada 2012, Tengsoe menerima penghargaan di bidang sastra dari Gubernur Jawa Timur sebagai bentuk pengakuan atas konsistensinya. Namun, bagi Tengsoe, penghargaan bukanlah tujuan utama. Yang terpenting adalah bagaimana karya sastra dapat berbicara lantang terhadap peristiwa yang menyentuh hati masyarakat.

Iklan

Melalui puisinya, Tengsoe mengekspresikan keprihatinan sekaligus kemarahan atas berbagai peristiwa yang belakangan terjadi di tanah air. Puisi menjadi medium perlawanan sunyi yang ia pilih, sarana untuk mengabarkan derita rakyat sekaligus menggugat kekuasaan.

Dalam puisi berjudul “Dia Masih Sangat Muda”, Tengsoe menuliskan kisah getir seorang pemuda yang harus kehilangan hidupnya di jalanan.

 

Dia Masih Sangat Muda

 

Tubuh hijau terkulai di aspal basah

Helm pecah jadi saksi bisu

Sirene menyalakan pesta maut

 

Dua puluh empat tahun hancur seketika

Mimpi ditabrak logam negara

Nafas terakhir terselip di knalpot kota

 

Ia belum sempat membeli rumah

Belum sempat menua bersama cinta

Negeri lebih dulu merenggutnya

 

29 Agustus 2025

 

Puisi ini menggambarkan betapa mimpi dan masa depan generasi muda bisa hancur seketika akibat tragedi yang sarat dengan simbol kekerasan negara, “Tubuh hijau terkulai di aspal basah / Helm pecah jadi saksi bisu / Sirene menyalakan pesta maut…”

Sementara dalam puisi lain berjudul “Tak Sampai Aku Menjerit”, Tengsoe kembali menegaskan kritiknya terhadap situasi bangsa:

 

Tak Sampai Aku Menjerit

 

Aspal basah menjilat lututku

Besi raksasa menari di atas doa

Negara berpesta di tengah reruntuhan

 

Hijau punggungku jadi karpet murah

Dipajang bagai martir diskon jalanan

Sambil sirene tertawa di langit ambyar

 

Sejarah menulis dengan ban baja

Rakyat cuma catatan kaki

Ditindas—bahkan jerit pun dikenai tarif.

 

2025

 

“Sejarah menulis dengan ban baja / Rakyat cuma catatan kaki / Ditindas—bahkan jerit pun dikenai tarif.”

Kedua puisi itu seakan menjadi cermin keresahan yang tidak bisa ia diamkan. “Mungkin puisi ini sudah amat jelas pesannya. Prihatin dan marah atas peristiwa hari-hari ini,” tutur Tengsoe singkat kepada suaramalang.com, Jum’at (29/8).

Dengan usia yang sudah menginjak 67 tahun, Tengsoe tetap konsisten menghadirkan suara kritis. Puisinya bukan sekadar karya sastra, melainkan juga jeritan nurani rakyat yang tak mampu lagi bersuara.

 

 

Pewarta: Slamet

 

Iklan
Iklan
Iklan