Trofeo Tribute 100 Tahun Stadion Gajayana, Momentum Kebangkitan Sepak Bola dan Pelestarian Heritage Kota Malang

SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Stadion Gajayana Kota Malang kembali menjadi saksi sejarah melalui gelaran Trofeo Tribute to 100 Tahun Stadion Gajayana, sebuah pertandingan persahabatan bertema perdamaian yang mempertemukan Barta FC, Satria Veteran 2000, dan Persema Reborn.

Kegiatan yang berlangsung terbuka gratis untuk masyarakat umum dan menjadi bagian dari rangkaian peringatan satu abad stadion legendaris kebanggaan warga Malang.

Acara ini tidak sekadar pertandingan sepak bola, melainkan juga ajang silaturahmi lintas generasi serta simbol kebangkitan semangat olahraga di Kota Malang. Stadion Gajayana, yang diresmikan pada era kolonial dan telah melahirkan banyak pesepak bola nasional, dinilai memiliki nilai sejarah tinggi yang layak dijaga sebagai warisan kota.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Prof. Dr. Ir. Muhammad Bisri, M.S., tokoh akademisi sekaligus pemerhati pembangunan dan olahraga, menyampaikan bahwa peringatan satu abad Stadion Gajayana merupakan momen penting untuk merefleksikan kembali peran stadion dalam perjalanan sejarah Kota Malang.

“Kegiatan peringatan satu abad Stadion Gajayana ini adalah momen yang sangat bagus untuk membangun kembali semangat sepak bola di Kota Malang yang sempat kurang maksimal. Salah satu bentuknya adalah dengan mengadakan trofeo persahabatan seperti hari ini,” ujarnya.

Menurut Prof. Bisri, olahraga, khususnya sepak bola, merupakan aktivitas yang sangat dekat dengan masyarakat dari berbagai lapisan. Oleh karena itu, kegiatan seperti ini diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni semata, tetapi dapat berlanjut secara rutin sebagai tradisi olahraga yang sehat, menyenangkan, dan mempererat persaudaraan.

“Harapannya ke depan kegiatan seperti ini bisa berlanjut secara rutin. Olahraga harus dijalani dengan semangat sehat dan menyenangkan. Tradisi trofeo persahabatan ini penting untuk silaturahmi dan mempererat kebersamaan,” tambahnya.

Ia juga menekankan pentingnya melibatkan generasi muda agar mereka dapat mengenal para legenda sepak bola yang pernah mengharumkan nama Kota Malang dan bangsa Indonesia.

“Suatu saat anak-anak muda perlu diundang untuk datang dan melihat langsung para legenda sepak bola. Ini bisa menjadi motivasi agar mereka mencintai olahraga, ikut klub, SSB, dan menghidupkan kembali kejayaan Persema,” jelasnya.

Lebih jauh, Prof. Bisri menyoroti posisi Stadion Gajayana yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana olahraga, tetapi juga memiliki nilai historis sebagai bagian dari perjalanan perjuangan bangsa.

“Stadion Gajayana ini luar biasa. Bukan hanya tempat olahraga, tetapi juga tempat sejarah dan perjuangan. Informasinya, sebelum peristiwa besar menuju Surabaya, banyak yang berkumpul di sini. Ini harus dirawat sebagai heritage Kota Malang,” tegasnya.

Ia mendorong Pemerintah Kota Malang dan DPRD untuk memberikan perhatian lebih serius, termasuk dukungan anggaran yang memadai, agar Stadion Gajayana dapat ditetapkan dan dikelola sebagai heritage olahraga dan destinasi wisata sejarah.

“Sudah selayaknya pemerintah kota memberi perhatian lebih, baik dari sisi anggaran maupun kebijakan. Stadion Gajayana harus dijaga sebagai sejarah dan sumber motivasi bagi generasi mendatang,” katanya.

Trofeo Tribute 100 Tahun Stadion Gajayana mengusung tema “Menyebarkan Semangat Perdamaian, Kemanusiaan, dan Cinta Tanah Air”, sejalan dengan semangat olahraga sebagai pemersatu. Dukungan berbagai komunitas, legenda sepak bola, media lokal, serta antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa Stadion Gajayana masih hidup dalam ingatan dan kecintaan warga Malang.

Peringatan satu abad ini diharapkan menjadi titik awal kebangkitan Persema dan sepak bola Malang Raya, sekaligus penguat komitmen bersama untuk merawat Stadion Gajayana sebagai ikon sejarah dan kebanggaan Kota Malang.

Pewarta: *Ali Nopan

Exit mobile version