UMM Olah 92 Persen Sampah Organik Menjadi Pupuk dan Eko-Enzim Kampus

SUARAMALANG.COM, Kota MalangUniversitas Muhammadiyah Malang memperkuat komitmen lingkungan melalui pengelolaan sampah organik berbasis ekonomi sirkular. Kampus tersebut berhasil mengolah sisa makanan menjadi pupuk dan eko-enzim untuk mendukung ruang terbuka hijau di lingkungan kampus.

Ketua Tim GreenMetric UMM, Sandi Wahyudiono, menjelaskan bahwa program tersebut mampu mengurangi sampah organik sekaligus memenuhi kebutuhan pupuk secara mandiri. Karena itu, UMM terus mengembangkan sistem pengelolaan limbah berkelanjutan.

UMM Terapkan Sistem Pengolahan Sampah Berkelanjutan

UMM mencatat total sampah organik mencapai 438 ton sepanjang 2025. Namun, kampus berhasil mengolah 402,9 ton atau sekitar 92 persen melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kampus III.

Menurut Sandi, program vermikompos menjadi inti pengelolaan sampah organik di lingkungan kampus. Melalui sistem tersebut, UMM mengubah limbah makanan menjadi pupuk bernutrisi tinggi.

“Melalui program ini, UMM tidak hanya memangkas drastis jumlah sampah organik yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga memperkuat komitmen nyata terhadap kelestarian lingkungan,” ujar Sandi Wahyudiono.

Sampah Kantin Diolah Menjadi Vermikompos

Proses pengolahan dimulai dari pemilahan sampah organik di kantin, taman, dan kebun edukasi. Petugas kemudian mencacah sisa makanan, sayur, dan buah hingga berukuran kecil.

Selanjutnya, petugas mencampur material tersebut dengan sekam padi dan mengatur tingkat kelembapan. Setelah itu, tim melakukan fermentasi selama 7 hingga 14 hari di dalam reaktor tertutup.

Hasil fermentasi kemudian masuk ke unit modular vermikompos. Pada tahap ini, cacing tanah jenis Eisenia fetida mengurai material organik hingga berubah menjadi pupuk kaya nutrisi.

Teknologi Kampus Dukung Pengolahan Sampah Organik

UMM menggunakan berbagai mesin pengolahan hasil pengembangan internal kampus. Fasilitas tersebut meliputi mesin pencacah berkapasitas 200 kilogram per jam, saringan kompos, dan granulator.

Selain itu, staf profesional mengelola seluruh proses pengolahan di TPST Kampus III. Setelah 40 hingga 60 hari, kompos organik siap digunakan untuk taman kampus, kebun edukasi, dan lahan pertanian mitra.

UMM Produksi Eko-Enzim dari Limbah Sayur

UMM juga mengolah kulit sayur dan buah menjadi cairan eko-enzim. Kampus memproduksi lebih dari lima liter eko-enzim setiap hari melalui program edukasi di UMM Edupark.

Program tersebut memperkuat langkah UMM dalam membangun kampus hijau berkelanjutan. Selain itu, sistem pengolahan mandiri ini juga menjadi contoh pengelolaan sampah ramah lingkungan bagi institusi pendidikan lain.

Keberhasilan mengolah 92 persen sampah organik menegaskan posisi UMM dalam aksi lingkungan dan keberlanjutan. Melalui inovasi tersebut, UMM ingin membangun model pengelolaan kampus hijau yang dapat diterapkan lebih luas di Indonesia.

Exit mobile version