Tekno  

Video AI Makin Sulit Dibedakan dari Aslinya, Ini Cara Mengenali Konten Deepfake

Penggunaan kecerdasan buatan untuk menghasilkan konten digital. Video dan suara hasil rekayasa AI semakin realistis sehingga masyarakat perlu memeriksa keaslian informasi sebelum membagikannya. (Foto: Ilustrasi)

SUARAMALANG.COM – Pernah melihat video seseorang berbicara di media sosial, tetapi ternyata ucapan atau kejadian dalam video tersebut tidak pernah benar-benar terjadi? Perkembangan kecerdasan buatan atau *artificial intelligence* (AI) membuat gambar, video, dan suara palsu semakin mudah dibuat dengan tampilan yang menyerupai kenyataan.

Teknologi ini dikenal sebagai deepfake, yakni konten digital yang dimanipulasi atau dibuat menggunakan AI sehingga wajah, suara, maupun gerakan seseorang dapat terlihat atau terdengar meyakinkan.

Di satu sisi, teknologi tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan kreatif, seperti produksi film, hiburan, dan pembuatan konten. Namun, jika disalahgunakan, deepfake juga berpotensi menjadi sarana penipuan dan penyebaran informasi palsu.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengingatkan bahwa kemajuan AI membuat batas antara konten asli dan hasil rekayasa semakin sulit dikenali. Pemerintah pun tengah mengkaji aturan pelabelan konten yang dihasilkan AI untuk membantu masyarakat mengetahui keaslian materi digital.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyampaikan hal tersebut dalam Konvensi Humas Indonesia 2026 di Surakarta pada 17 Oktober 2026. Salah satu perhatian pemerintah adalah pengembangan penanda yang dapat membantu pengguna menelusuri asal-usul konten digital.

Informasi tersebut disampaikan melalui siaran pers resmi Komdigi.

Bukan Cuma Video, Suara Juga Bisa Dipalsukan

Risiko penyalahgunaan AI tidak hanya muncul dalam bentuk video dengan wajah yang dimanipulasi. Teknologi ini juga dapat digunakan untuk meniru suara seseorang, membuat identitas palsu, hingga menyusun pesan yang tampak meyakinkan.

Pada 29 Oktober 2026, Komdigi kembali mengingatkan masyarakat mengenai ancaman penipuan berbasis AI yang dapat meniru suara dan identitas. Pelaku bisa memanfaatkan teknologi tersebut untuk menyamar sebagai anggota keluarga, rekan kerja, atau pihak lain yang dipercaya korban.

Kondisi ini membuat masyarakat perlu lebih berhati-hati ketika menerima panggilan atau pesan yang meminta uang, data pribadi, maupun tindakan mendesak.

Misalnya, seseorang menerima panggilan dengan suara yang terdengar seperti anggota keluarga dan meminta transfer karena mengaku sedang mengalami keadaan darurat. Meski suara tersebut terasa familiar, penerima telepon sebaiknya tidak langsung mengambil keputusan.

Cara yang lebih aman adalah menghubungi orang tersebut melalui nomor yang sudah dikenal atau saluran komunikasi lain untuk memastikan kebenaran permintaan.

Peringatan Komdigi mengenai risiko tersebut dapat dibaca melalui situs resmi Kementerian Komunikasi dan Digital.

Jangan Hanya Mengandalkan Mata dan Telinga

Selama ini, sebagian orang mencoba mengenali video palsu dengan memperhatikan gerakan bibir, ekspresi wajah, pencahayaan, atau suara yang terdengar janggal.

Cara tersebut dapat membantu menemukan keanehan, tetapi tidak selalu cukup untuk memastikan sebuah konten merupakan hasil rekayasa AI. Teknologi yang semakin berkembang mampu menghasilkan materi digital yang terlihat dan terdengar semakin realistis.

Karena itu, pemeriksaan sebaiknya tidak berhenti pada tampilan video.

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan sebelum mempercayai atau membagikan konten yang meragukan.

Pertama, periksa sumber awalnya. Cari tahu siapa yang pertama kali mengunggah video, kapan konten tersebut diterbitkan, dan apakah sumbernya dapat dipercaya. Video yang beredar luas belum tentu memiliki informasi yang benar.

Kedua, bandingkan dengan sumber lain. Jika video memuat pernyataan tokoh publik, pengumuman pemerintah, atau kejadian penting, periksa apakah informasi serupa juga disampaikan melalui kanal resmi atau diberitakan media tepercaya.

Ketiga, waspadai pesan yang mendesak. Permintaan transfer uang, pembagian kode OTP, kata sandi, atau data pribadi harus diperiksa terlebih dahulu, meskipun disampaikan melalui suara atau video orang yang dikenal.

Keempat, konfirmasi melalui saluran berbeda. Jika menerima panggilan yang mencurigakan, tutup panggilan dan hubungi orang yang bersangkutan menggunakan nomor yang sudah tersimpan. Jangan hanya mengandalkan nomor atau tautan yang diberikan oleh pihak yang menghubungi.

Kelima, jangan terburu-buru menyebarkan konten. Jika keasliannya belum jelas, hindari meneruskan video atau pesan tersebut. Membagikan konten tanpa verifikasi dapat memperluas penyebaran informasi yang keliru.

Aturan Label Konten AI Masih Dikaji

Untuk menghadapi risiko manipulasi informasi, Komdigi sedang mengkaji regulasi yang mengatur pelabelan konten hasil AI. Penanda tersebut diharapkan membantu masyarakat membedakan konten sintetis dari materi digital yang autentik.

Pemerintah juga menyiapkan Peta Jalan Nasional Kecerdasan Artifisial untuk periode 2026–2029 sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola AI di Indonesia.

Namun, penting dipahami bahwa rencana pelabelan tersebut masih dalam tahap kajian sebagaimana disampaikan Komdigi. Artinya, masyarakat tidak seharusnya menganggap aturan khusus itu sudah berlaku hanya berdasarkan pengumuman mengenai rencana penyusunannya.

Pelabelan juga bukan satu-satunya cara untuk memeriksa keaslian informasi. Konten yang tidak memiliki label belum tentu asli, sedangkan penggunaan AI tidak otomatis berarti suatu konten merupakan penipuan atau hoaks.

Konteks, sumber, tujuan penggunaan, serta bukti pendukung tetap perlu diperiksa sebelum menarik kesimpulan.

Tetap Kritis saat Menggunakan AI

Perkembangan AI membuat pembuatan gambar, suara, dan video menjadi semakin mudah diakses. Teknologi ini dapat membantu berbagai pekerjaan dan aktivitas kreatif, tetapi manfaatnya perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai risiko penyalahgunaan.

Bagi masyarakat, termasuk pengguna media sosial di Malang Raya, kebiasaan memeriksa informasi menjadi salah satu perlindungan paling penting. Tidak semua video viral harus langsung dipercaya, dan tidak semua pesan yang terdengar meyakinkan layak ditindaklanjuti.

Jika telanjur menerima atau menyebarkan konten yang mencurigakan, pengguna dapat menyimpan bukti yang relevan, melaporkan konten melalui fitur pelaporan platform, serta menghubungi pihak berwenang jika terdapat indikasi penipuan.

Pada akhirnya, menghadapi deepfake bukan berarti harus menghindari seluruh teknologi AI. Hal yang lebih penting adalah menggunakan teknologi secara bijak, memeriksa informasi dari sumber tepercaya, dan tidak mengambil keputusan penting hanya berdasarkan video, suara, atau pesan yang belum terverifikasi.

Exit mobile version