Hari Pers Nasional 2026_970 x 250 px

Viral MBG Isi Pisang Mentah di Donomulyo, SPPG Akui Salah Supplier

Iklan

SUARAMALANG.COM, Kabupaten Malang – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Malang menuai sorotan. Warga Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, mengeluhkan paket makanan yang dibagikan ke siswa karena dinilai belum layak konsumsi. Salah satu menu bahkan disebut berisi pisang mentah.

Keluhan itu viral setelah salah satu wali murid, Dewi Nawang Sari, mengunggah video ulasan di media sosial. Dalam video tersebut, ia memperlihatkan isi paket MBG yang dibawa pulang anaknya pada Senin (23/2/2026).

Iklan

“Saya kira pisangnya sudah matang, ternyata masih sangat muda. Kentang juga begitu, cuma dipotong tanpa dikupas dan hanya ditepungi, sehingga tengahnya masih mentah,” jelas Dewi, dikutip Times Indonesia, Selasa (24/2/2026).

Menurut Dewi, ini bukan kali pertama ia kecewa dengan kualitas menu MBG. Ia mengaku anaknya sempat muntah usai menyantap menu sebelumnya yang berisi sayuran.

“Anak saya pernah muntah-muntah makan MBG itu kemarin. Tapi waktu itu saya masih diam saja, mungkin anakku telat makan atau faktor lain,” katanya.

Ia pun mengaku sempat mendapat tekanan agar video tersebut dihapus. “Aku malah diancam-ancam sama salah satu guru, katanya boleh mengkritik tapi videonya dihapus, di-takedown-kan. Sebelumnya sudah saya upload di semua media sosial saya, di TikTok, di grup komunitas Donomulyo Story, di Malang Raya,” ujar Dewi.

Dewi juga menyayangkan kejadian itu terjadi di wilayah yang dikenal sebagai sentra pisang di Malang Selatan.
“Donomulyo ini daerah penghasil pisang, tapi yang dibagikan justru pisang mentah,” tegasnya.

Ia mengaku sudah melaporkan persoalan tersebut kepada Bupati Malang, Sanusi, agar segera ada evaluasi.

Menanggapi polemik tersebut, Kepala SPPG Kedungsalam Donomulyo, Angeline Berlian Christiana Telaumbanua, membenarkan adanya pisang yang belum siap konsumsi dalam paket MBG hari itu.

“Untuk menu kami hari ini, ada pentol bakar, potato wedges, mix vegetable parcel, dan buah pisang,” jelasnya.

Ia mengakui kondisi pisang mentah berasal dari kesalahan pemasok. “Terkait kritik soal pisang yang masih mentah, memang ini adalah kesalahan dari supplier. Informasi yang diberikan kepada kami, pisang sudah bisa dikonsumsi dalam satu hari. Tapi ternyata ketika kami distribusikan, kondisinya memang masih belum bisa dikonsumsi langsung,” katanya.

Angeline menjelaskan, selama Ramadan menu MBG dikonsep dalam bentuk makanan kering agar bisa dibawa pulang dan disantap saat berbuka. “Kami perlu mengonfirmasi bahwa menu kami ini adalah menu kering yang targetnya dikonsumsi saat berbuka puasa. Jadi kami menyesuaikan menu yang bisa bertahan sampai waktu berbuka,” ujarnya.

Ia juga menyebut variasi menu berbeda dengan SPPG lain. “Kami mencoba variasi menu yang memang bertahan sampai waktu berbuka puasa,” imbuhnya.

Terkait anggaran, ia menjelaskan satu porsi MBG bernilai Rp10 ribu, termasuk kemasan. “Rp10.000 itu bukan hanya bahan baku, tapi termasuk packaging. Untuk kemasan mika saja sekitar Rp1.500,” katanya.

Menurutnya, penggunaan kemasan mika sudah sesuai petunjuk teknis Ramadan. “Memang untuk menu Ramadan, petunjuknya bukan menggunakan ompreng, tapi kemasan yang bisa dibawa pulang,” jelasnya.

Angeline menegaskan pihaknya terbuka terhadap kritik, mengingat operasional SPPG Kedungsalam baru berjalan sekitar tiga minggu.

“Hari ini adalah hari pertama kami mendistribusikan menu puasa. Ini menjadi pelajaran bagi kami agar ke depan bisa memberikan menu puasa yang lebih baik,” tutup Angeline.

Iklan
Iklan
Iklan