Iklan

Viral Nikah Muda Diromantisasi, Dosen Psikologi UB Ingatkan Remaja Jangan Telan Mentah-mentah

Iklan

SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Fenomena konten media sosial yang belakangan ramai mempromosikan pernikahan dini kembali menjadi sorotan. Narasi yang menampilkan nikah muda seolah jalan keluar dari berbagai persoalan hidup dinilai berisiko menimbulkan kesalahpahaman, terutama di kalangan remaja.

Dosen Psikologi Universitas Brawijaya (UB), Naila Kamaliya, S.Psi., M.Psi., mengingatkan pentingnya sikap kritis dalam menyikapi tren digital yang berkembang di masyarakat.

Iklan

“Fenomena yang sedang terjadi saat ini bukan semata peningkatan angka, tetapi bagaimana pernikahan dini dipromosikan seolah-olah menjadi solusi dari berbagai persoalan hidup,” ujarnya.

Naila menjelaskan, jika melihat data, angka pernikahan dini di Indonesia sebenarnya cenderung menurun. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pernikahan pada 2024 tercatat 1.478.302, turun dibanding 2023 yang mencapai 1.577.255.

Namun, ia menilai yang menjadi persoalan saat ini bukan sekadar angka, melainkan bagaimana pernikahan dini kembali dikemas secara romantis lewat konten digital.

Di sisi lain, pemerintah bersama lembaga seperti BKKBN telah lama mengampanyekan batas usia minimal pernikahan untuk mencegah dampak negatif yang lebih luas. Bahkan, di beberapa daerah mulai diterapkan kebijakan konseling psikologis bagi calon pengantin di bawah usia tertentu untuk mengukur kesiapan mental dan sosial.

Naila menegaskan bahwa keputusan menikah di usia terlalu muda bukan tanpa konsekuensi. Pernikahan dini kerap berkaitan dengan meningkatnya risiko perceraian, ketidaksiapan dalam mengasuh anak, hingga menurunnya kesejahteraan psikologis keluarga.

“Banyak penelitian menunjukkan bahwa pernikahan yang dilakukan sebelum kesiapan mental dan sosial tercapai berpotensi menimbulkan dampak negatif jangka panjang,” jelasnya.

Ia juga menyoroti media sosial yang sering kali hanya menampilkan sisi indah pernikahan, tanpa membicarakan realitas tanggung jawab besar di dalamnya.

“Yang dikampanyekan sering kali hanya enaknya saja, tanpa membicarakan realitas dan tanggung jawab besar dalam pernikahan,” kata Naila.

Menurutnya, remaja yang kapasitas kognitifnya belum matang rentan menerima informasi secara mentah jika tidak dibarengi kemampuan berpikir kritis.

Selain romantisasi nikah muda, Naila turut menanggapi narasi viral lain yang menyebut bahwa kuliah tidak penting, bahkan dianggap merugikan.

Ia menilai pandangan tersebut tidak berdasar dan berpotensi menurunkan motivasi generasi muda untuk melanjutkan pendidikan. “Pendidikan adalah salah satu cara paling efektif untuk meningkatkan kualitas hidup dan memutus rantai kemiskinan,” tegasnya.

Naila menekankan, pendidikan tinggi tidak hanya soal mengejar kesuksesan material. Kuliah juga membentuk cara berpikir kritis, kemampuan sosial, serta kesiapan individu menghadapi tantangan kehidupan.

Lingkungan pendidikan, lanjutnya, justru menjadi ruang aman bagi anak muda untuk belajar berinteraksi, menyaring nilai, dan mengembangkan potensi diri.

Di akhir pernyataannya, Naila berpesan agar remaja tidak tergesa-gesa mengambil keputusan besar, baik soal pernikahan maupun pendidikan. “Menikah adalah pilihan, kuliah juga pilihan, tetapi belajar adalah keharusan. Setiap keputusan perlu disertai refleksi diri, kesiapan mental, serta dukungan keluarga,” pungkasnya.

Iklan
Iklan
Iklan