Wamen Diktisaintek Sebut Perguruan Tinggi Paling Siap Hadapi AI

SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) Prof. Stella Christie menyebut perguruan tinggi sebagai institusi yang paling siap beradaptasi dengan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Hal itu ia sampaikan di hadapan Senat Akademik Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya (UB), Senin (19/10/2026).

Stella mengingatkan bahwa perkembangan AI berlangsung secara eksponensial, bukan linear. Kecepatan perubahan tersebut membuat dampak teknologi ini berpotensi sulit diprediksi jika masyarakat hanya melihat perkembangannya dalam jangka pendek.

“Perkembangan AI itu eksponensial, tidak linear. Terlihat lambat, tetapi sebenarnya berkembang sangat pesat, dan dinamika inilah yang perlu diwaspadai,” kata Stella di Auditorium UB.

Ia menilai belum ada negara, universitas, perusahaan, maupun pemerintah yang benar-benar siap menghadapi laju perkembangan AI, termasuk negara maju seperti Amerika Serikat dan Tiongkok. Meski begitu, perguruan tinggi memiliki modal untuk beradaptasi karena perkembangan awal AI juga berakar dari lingkungan akademik.

Stella merujuk pada pertemuan di Dartmouth pada 1956 yang menjadi salah satu tonggak lahirnya bidang kecerdasan buatan. Menurutnya, perguruan tinggi perlu memikirkan kembali perannya dalam menciptakan, menyebarkan, dan mengkurasi pengetahuan di tengah perubahan teknologi.

Pendidikan Tinggi Perlu Menegaskan Tujuan Pembelajaran

Stella menekankan bahwa respons perguruan tinggi terhadap AI tidak cukup dengan mengajarkan mahasiswa menggunakan berbagai aplikasi. Institusi pendidikan perlu memastikan pemanfaatan teknologi tersebut benar-benar mendukung tujuan pembelajaran dan perkembangan kemampuan individu.

“Bukan aplikasi AI yang menjadi inti. Tujuan utama kuliah adalah memastikan apakah penggunaan AI dapat membantu individu mencapai tujuannya atau justru membuat mereka mundur. Jika pengetahuan kita lebih sedikit dari AI, akan sulit mencapai tujuan yang diinginkan,” ujarnya.

Menurut pandangan tersebut, tantangan pendidikan tinggi bukan hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga menjaga agar proses pembelajaran tetap membangun pengetahuan dan kemampuan berpikir mahasiswa.

Dekan FEB UB Abdul Ghofar mengatakan fakultasnya telah memperbarui misi untuk menjawab tantangan tersebut. Dua fokus utama yang diusung ialah mendidik calon pemimpin di bidang bisnis dan ekonomi yang berwawasan global serta menyiapkan pemimpin yang mampu memadukan kecerdasan manusia, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan.

“Hari ini menjadi momen penting bagi kami untuk merumuskan misi yang lebih terukur dan relevan,” ujar Ghofar.

Rektor UB Prof. Widodo mengapresiasi pembaruan misi FEB UB. Ia menilai langkah tersebut menunjukkan upaya fakultas untuk terus beradaptasi dengan perubahan global dan tantangan masa depan.

“Perubahan misi ini menandakan FEB UB terus bergerak dan tidak statis dalam menghadapi tantangan masa depan,” tutur Widodo.

Exit mobile version