SUARAMALANG.COM, Jakarta – Pengabdian mantan Panglima TNI Laksamana (Purn) Widodo Adi Sutjipto atau Widodo AS kembali dikenang sebagai bagian dari perjalanan kepemimpinan militer Indonesia, terutama saat negara menghadapi krisis politik 1998.
Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyebut Widodo sebagai prajurit, patriot, pemimpin, sekaligus negarawan yang memiliki jasa besar bagi bangsa. Kenangan itu disampaikan SBY setelah menghadiri pemakaman Widodo di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu (25/10/2026).
Menurut SBY, Widodo berada dalam jajaran kepemimpinan TNI ketika Indonesia melewati krisis 1998. Setelah itu, Widodo dipercaya menduduki sejumlah jabatan strategis, termasuk Panglima TNI dan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan.
“Pada saat negara mengalami krisis 1998, Pak Widodo sudah pada posisi kepemimpinan bersama kami semua. Setelah itu menjadi panglima TNI, Menko Polkam, juga bersama-sama untuk menjaga keutuhan republik ini,” kata SBY, dikutip Antara.
SBY juga mengenang Widodo sebagai sosok yang bekerja tanpa mengenal lelah dan berpegang pada konstitusi serta kepentingan bangsa. Keduanya pernah menjalankan tugas bersama selama bertahun-tahun, termasuk ketika Widodo dipercaya menjadi Menko Polkam pada kabinet pertama pemerintahan SBY.
Upacara militer sebagai penghormatan terakhir
Pemakaman Widodo AS dilaksanakan melalui upacara militer kenegaraan yang dipimpin Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto selaku inspektur upacara. Prosesi berlangsung dengan rangkaian penghormatan, penurunan jenazah, tabur bunga, peletakan karangan bunga, dan doa.
Upacara tersebut dihadiri sejumlah pejabat negara dan pimpinan TNI, antara lain Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Dudung Abdurachman, Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto, serta para kepala staf angkatan.
Agus Subiyanto menyampaikan belasungkawa atas nama bangsa, negara, dan TNI. Ia mengenang Widodo sebagai pemimpin profesional yang menjadi panutan bagi generasi prajurit muda.
“Saat beliau menjadi Panglima, saya masih pangkat kapten-mayor dan beliau menjadi panutan kami,” ujar Agus.
Widodo meniti karier di lingkungan TNI Angkatan Laut, mulai dari Kepala Staf TNI AL, kemudian Wakil Panglima TNI, hingga menjabat Panglima TNI. Pengalaman tersebut menempatkannya dalam sejumlah posisi penting di lingkungan pertahanan dan keamanan nasional.
Profesionalisme dan konstitusi menjadi warisan kepemimpinan
Kesaksian SBY dan Agus menempatkan profesionalisme serta kesetiaan terhadap konstitusi sebagai bagian penting dari warisan kepemimpinan Widodo AS. Pengalaman ketika Indonesia menghadapi krisis 1998 juga menjadi konteks yang membentuk kenangan para tokoh terhadap perannya dalam menjaga keutuhan negara.
Penghormatan terakhir melalui upacara militer sekaligus menandai pengakuan institusi terhadap pengabdian seorang mantan pimpinan TNI. Bagi generasi prajurit berikutnya, keteladanan kepemimpinan dan tanggung jawab terhadap bangsa menjadi nilai yang terus relevan dalam menjalankan tugas negara.












