Wisata Batu Anjlok 2,5 Juta Kunjungan, DPRD Bongkar Masalah Data hingga Event yang Sepi

SUARAMALANG.COM, Kota Batu – Penurunan tajam jumlah wisatawan ke Kota Batu sepanjang 2025 memantik sorotan serius dari DPRD setempat. Kota yang selama ini dikenal sebagai ikon pariwisata Jawa Timur itu tercatat kehilangan sekitar 2,5 juta kunjungan dalam setahun terakhir.

Data yang dipaparkan menunjukkan, angka kunjungan wisata yang sebelumnya berada di kisaran 11 juta orang kini menyusut menjadi sekitar 8,5 juta wisatawan. Kondisi ini membuat DPRD Kota Batu memanggil Dinas Pariwisata (Disparta) untuk meminta penjelasan menyeluruh.

Anggota DPRD Kota Batu, Sujono Djonet, menyebut rapat evaluasi tersebut menghasilkan sejumlah catatan krusial. Salah satu yang paling disorot adalah soal validitas dan sumber data kunjungan wisata.

“Yang pertama kami soroti adalah sumber data. Ini perlu dievaluasi. Karena data tersebut belum tentu sepenuhnya akurat, atau berapa persen tingkat error-nya,” ujar Djonet.

Menurutnya, penurunan angka kunjungan tersebut terasa janggal jika dibandingkan dengan kondisi lapangan. Ia menilai, pascapandemi, geliat wisata di Kota Batu sebenarnya mulai kembali terasa meski daya beli masyarakat sempat melemah.

“Kalau dilihat secara kasat mata, pascapandemi kunjungan wisata sudah mulai meningkat. Daya beli memang agak menurun, tapi sekarang sudah mulai bergairah,” katanya.

Atas dasar itu, DPRD mendorong pemerintah daerah untuk tidak sekadar menerima data mentah, tetapi melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pariwisata yang selama ini dijalankan. Salah satu yang ikut disorot adalah efektivitas kalender event pariwisata yang rutin diluncurkan Pemkot Batu.

Djonet mempertanyakan apakah deretan agenda tersebut benar-benar memberi dampak signifikan terhadap peningkatan kunjungan wisatawan.
“Kami melihat, tanpa kalender event pun, wisatawan tetap datang ke Kota Batu karena tertarik ke destinasi wisatanya. Bukan ke event yang sifatnya temporer,” tuturnya.

Ia menilai, dari sekian banyak event yang digelar, hanya beberapa yang benar-benar memiliki daya tarik kuat dan mampu mendongkrak kunjungan. Di antaranya Festival 1.000 Banteng dan Batu Art Flower Carnival.

“Event-event lain harus dievaluasi. Bagaimana caranya agar lebih menarik dan mampu menjadi ruang sinergi antara pemerintah dan swasta,” tegasnya.

Djonet mencontohkan praktik di daerah lain, di mana event pariwisata justru berkembang pesat karena kolaborasi yang solid dengan pihak swasta. Pemerintah hanya menjadi pemantik di awal, sementara keberlanjutan event dijaga oleh sponsor dan pelaku usaha.

“Karena event itu memang berkualitas dan punya daya tarik. Di Kota Batu, kami masih menuju ke arah sana,” paparnya.

Lebih jauh, DPRD juga mengingatkan posisi strategis Kota Batu sebagai kota wisata. Ia menilai kondisi menjadi alarm serius ketika jumlah kunjungan hampir sejajar dengan daerah lain yang sebelumnya tidak dikenal sebagai destinasi utama.

“Ini sangat aneh untuk kota yang sudah lama dikenal sebagai Kota Wisata. Apalagi sekarang, kota-kota di sekitar Kofa Batu berkembang sangat cepat. Yang dulu belajar ke Kota Batu, sekarang justru melesat,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa evaluasi tidak hanya menyangkut event dan promosi, tetapi juga menyentuh penataan kota serta jaminan kenyamanan wisatawan. Meski berbagai pembangunan fisik seperti trotoar, taman kota, dan fasilitas publik sudah berjalan, menurutnya hal tersebut belum cukup.

“Yang tidak kalah penting adalah keramahan kota ini. Itu harus terus diperjuangkan agar menjadi layanan publik yang benar-benar berkualitas,” tutup Djonet.

Sumber: Malang post

Exit mobile version