SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Sebanyak 13.465 rumah dan bangunan di Kota Malang masuk dalam kategori rawan terdampak bencana hidrometeorologi dan cuaca ekstrem. Data tersebut diperoleh dari hasil pemetaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang sebagai langkah mitigasi menghadapi potensi cuaca buruk yang masih mengancam sejumlah wilayah.
Pemetaan Dilakukan di 57 Kelurahan
Pemetaan dilakukan di seluruh wilayah Kota Malang yang mencakup 57 kelurahan. Dari jumlah itu, sebanyak 40 kelurahan tercatat memiliki titik kerawanan dengan tingkat risiko tinggi dan detail hingga level RT/RW.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Malang, Prayitno mengatakan, pemetaan dilakukan untuk mempercepat penanganan saat terjadi kondisi darurat sekaligus menjadi dasar pengurangan risiko bencana di lingkungan masyarakat.
“Dari 57 kelurahan, sebanyak 40 kelurahan memiliki titik-titik lokasi yang sangat spesifik potensinya, bahkan hingga data tingkat RT/RW dan jumlah kepala keluarga yang terdampak,” ujar Prayitno, Kamis (14/5/2026).
BPBD Kota Malang juga menggandeng tim ahli dari Universitas Negeri Malang (UM) dalam penyusunan data kerawanan tersebut. Dari hasil kajian, terdapat sekitar 53.860 jiwa yang masuk kategori rentan terdampak bencana di Kota Malang.
Ancaman Banjir Masih Dominan
Ancaman paling dominan masih berasal dari banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem. Menurut Prayitno, kondisi geografis Kota Malang yang berbentuk cekungan menjadi salah satu faktor utama tingginya potensi banjir saat curah hujan meningkat.
“Ancaman tertinggi tetap banjir. Kota Malang ini bentuknya cekungan. Dari arah utara yaitu Pakis, Tumpang, dan selatan, air mengalirnya ke sini,” jelasnya.
Karena itu, optimalisasi sistem drainase menjadi fokus penanganan perangkat daerah teknis. Sementara relawan kebencanaan diarahkan memperkuat langkah pencegahan dan pengurangan dampak saat terjadi bencana di lingkungan permukiman warga.
Pohon Tumbang Masih Jadi Ancaman
Selain banjir dan longsor, BPBD Kota Malang juga mengingatkan ancaman pohon tumbang akibat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi. Meski perempesan pohon dilakukan secara berkala, hujan deras disertai angin kencang dinilai tetap dapat memicu patahnya batang maupun dahan pohon besar.
Data kerawanan tersebut kini telah diserahkan kepada masing-masing lurah agar proses mitigasi dan penanganan darurat dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran. Data itu juga memuat informasi detail warga prioritas untuk kebutuhan evakuasi saat kondisi darurat.
“Jadi Pak Lurah sekarang sudah punya peta. Jika ada ancaman bencana, tanggapnya bisa langsung ke titik sasaran,” pungkas Prayitno.
