SUARAMALANG.COM, MATARAM – Ketua Umum Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (ASPIKOM), Prof. Anang Sujoko, mengajak akademisi mengkritisi dominasi teori komunikasi Barat yang selama ini kerap dianggap berlaku universal. Menurutnya, teori yang lahir dari konteks sejarah dan institusi Barat belum tentu mampu menjelaskan realitas sosial dan budaya Asia maupun negara-negara Global South.
Gagasan tersebut disampaikan Anang dalam International Conference on Communication Science yang digelar Universitas Mataram (UNRAM), Kamis (15/10/2026). Dalam konferensi bertema Decolonizing Communication Theory itu, ia memaparkan pendekatan relasional-historis-dekolonial untuk memperluas cara pandang dalam pengembangan ilmu komunikasi.
Melalui presentasi berjudul Beyond the West: The Adaptation, Negotiation, and Transformation of Theory from Asian and Global South Perspectives, Anang menyoroti kecenderungan teori Barat mengklaim relevansi universal tanpa selalu mempertimbangkan perbedaan konteks budaya dan sejarah.
“Ilusi universalisme itu nyata. Teori seperti Uses and Gratification Theory, misalnya, sangat bertumpu pada individual agency, message transmission, dan rational persuasion. Itu produk dari perspektif individualistik Barat tentang konsumsi media,” ujar Anang.
Mengkritisi Eurocentrism dan Orientalism
Anang menjelaskan, pendekatan Barat cenderung menitikberatkan pertanyaan what atau apa yang terjadi, sedangkan perspektif Global South perlu memperluas analisis dengan pertanyaan how dan why, yakni bagaimana suatu fenomena berlangsung dan mengapa fenomena tersebut terbentuk dalam konteks budaya tertentu.
Ia mengidentifikasi dua paradigma yang perlu dikritisi, yakni eurocentrism dan orientalism.
Eurocentrism merujuk pada kecenderungan menempatkan pemikiran, filsafat, dan nilai-nilai Barat sebagai ukuran universal. Sementara itu, orientalism menggambarkan cara pandang yang membentuk gambaran tentang Timur melalui konstruksi pengetahuan yang berkaitan dengan relasi kuasa.
Dalam pola tersebut, Barat cenderung ditempatkan sebagai produsen teori, sedangkan masyarakat Timur menjadi objek analisis. Anang menilai ketimpangan ini perlu diatasi agar pengalaman dan pengetahuan dari Asia memperoleh ruang lebih besar dalam perkembangan ilmu komunikasi.
Meski demikian, ia menegaskan dekolonisasi bukan berarti menolak seluruh teori Barat. Kritik tetap perlu dilakukan secara akademis, disertai dialog terbuka dan pengembangan perspektif alternatif.
“Tujuan kita bukan menolak total teori Barat. Tujuan kita adalah melengkapi keterbatasannya dengan perspektif Asia melalui kritik yang ketat dan dialog terbuka,” tegasnya.
Anang juga mengingatkan bahaya esensialisme kultural, yakni anggapan bahwa Asia merupakan kawasan yang seragam, kolektivistis, dan harmonis. Padahal, Asia memiliki keragaman sejarah, agama, filsafat, serta struktur sosial yang tidak dapat disederhanakan ke dalam satu karakteristik tunggal.
“Konsep teoritis harus ditempatkan secara historis, bukan diperlakukan sebagai sifat budaya bawaan yang tetap,” katanya.
Teori Asiasentris sebagai Alternatif
Sebagai salah satu pendekatan, Anang mengangkat metateori Asiasentris yang dikembangkan D. K. Miike. Pendekatan ini menempatkan pengalaman dan tradisi intelektual Asia sebagai sumber aktif dalam pembentukan teori komunikasi.
Ada tiga pilar utama yang disoroti, yakni Center the Culture, Change the Design, dan Embrace Diversity.
Center the Culture menekankan pentingnya menjadikan agama, filsafat, dan sejarah Asia sebagai sumber pengembangan teori. Change the Design mendorong perubahan cara pandang dalam perancangan penelitian, pengumpulan data, dan interpretasi budaya. Sementara Embrace Diversity menggarisbawahi pengakuan terhadap keragaman tradisi, termasuk Hindu, Buddha, Islam, dan Konghucu, yang berkembang di Asia dan Global South.
Anang juga membedakan indigenisasi teori dengan teori indigenous. Indigenisasi cenderung menyesuaikan teori Barat agar sesuai dengan konteks lokal, sedangkan teori indigenous berupaya melahirkan konsep baru dari pengalaman, budaya, agama, dan sejarah masyarakat setempat.
Pembedaan ini menjadi penting agar pengembangan ilmu komunikasi di Asia tidak berhenti pada penyesuaian teori yang sudah ada, tetapi turut menghasilkan pengetahuan baru berdasarkan realitas masyarakatnya.
Gagasan tersebut menempatkan dekolonisasi sebagai upaya memperluas sumber pengetahuan dan memperkaya teori komunikasi melalui dialog lintas budaya, tanpa mengabaikan keragaman maupun ketatnya proses akademik.












