SUARAMALANG.COM, Nasional – Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam program imunisasi dasar. Lebih dari 2 juta anak tercatat belum menerima vaksin sama sekali atau disebut “zero dose”. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular.
Situasi menjadi semakin rawan karena satu kasus saja dapat memicu penyebaran luas. Hal ini terutama terjadi di komunitas dengan tingkat imunisasi rendah. Tanpa perlindungan kolektif, penyakit mudah menyebar cepat.
Campak Jadi Contoh Paling Mengkhawatirkan
Ketua Satgas Imunisasi IDAI, Hartono Gunardi, menyoroti campak sebagai penyakit yang sangat menular. Ia menjelaskan satu penderita bisa menularkan ke 12 hingga 18 orang lain.
“Komplikasinya pun tidak ringan, mulai dari radang paru-paru hingga gangguan otak yang bisa menyebabkan kecacatan permanen,” ujarnya, mengutip CNBC Indonesia.
Penyakit ini menjadi indikator penting rendahnya cakupan imunisasi. Ketika vaksinasi tidak merata, potensi wabah meningkat drastis.
Imunisasi Ulang Aman dan Dianjurkan
Menanggapi keraguan masyarakat, Prof Hartono menegaskan imunisasi tambahan tetap aman. Bahkan bagi anak yang sudah pernah menerima vaksin sebelumnya.
Ia menyebut tidak ada istilah “kelebihan vaksin” dalam konteks ini. Justru vaksin ulang membantu meningkatkan kadar antibodi tubuh.
“Kalau ragu sudah pernah atau belum, lebih baik diimunisasi lagi. Itu memperkuat perlindungan tubuh,” katanya.
Hoaks Jadi Tantangan Besar
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menyoroti maraknya misinformasi soal vaksin. Banyak masyarakat masih meragukan manfaat imunisasi.
Sebagian bahkan percaya vaksin hanyalah kepentingan tertentu. Padahal, fakta ilmiah menunjukkan sebaliknya.
“Vaksin adalah investasi paling efektif untuk mencegah kematian di masa depan,” tegasnya.
Imunisasi, Investasi Kesehatan Global
Perwakilan UNDP, Sujala Pant, menegaskan pentingnya vaksinasi dalam skala global. Setiap tahun, imunisasi mampu mencegah sekitar 4 juta kematian anak.
Ia juga menekankan nilai ekonominya sangat tinggi. Setiap 1 dolar investasi imunisasi bisa menghasilkan manfaat hingga 52 dolar.
Hal ini menjadikan imunisasi sebagai intervensi kesehatan paling hemat biaya. Terutama bagi negara berkembang seperti Indonesia.
Faktor Sosial dan Budaya Ikut Berperan
Kepala Desk Humaniora Harian Kompas, Evy Rachmawati, menyebut imunisasi bukan sekadar isu medis. Banyak faktor lain turut memengaruhi keputusan orang tua.
Lingkungan keluarga menjadi salah satu penentu utama. Keputusan tidak hanya diambil oleh ibu, tetapi juga anggota keluarga lain.
“Dalam beberapa kasus, keluarga besar bisa memperkuat atau justru menghambat keputusan imunisasi,” ujarnya.
Media Sosial Percepat Penyebaran Hoaks
Evy menambahkan, era digital mempercepat penyebaran informasi keliru. Hoaks sering kali lebih cepat viral dibandingkan fakta ilmiah.
Akibatnya, banyak orang tua menjadi ragu. Bahkan ada yang menolak imunisasi karena terpengaruh informasi tidak valid.
Kondisi ini memperumit upaya pemerintah dalam meningkatkan cakupan vaksinasi nasional.
Perspektif Orang Tua: Imunisasi Adalah Bentuk Cinta
Aktris Maudy Koesnaedi turut membagikan pandangannya sebagai ibu. Ia menilai imunisasi adalah bentuk tanggung jawab dan kasih sayang.
“Ini bukan cuma soal anak kita, tapi juga dampaknya ke orang lain,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi jujur kepada anak. Termasuk menjelaskan manfaat imunisasi meski ada rasa tidak nyaman.
Perubahan Iklim Perburuk Risiko Penyakit
Selain faktor sosial, perubahan iklim turut memengaruhi penyebaran penyakit. Wilayah yang sebelumnya aman kini mulai terdampak.
Kasus demam berdarah, misalnya, mulai muncul di daerah baru. Hal ini menunjukkan ancaman penyakit semakin luas.
Dalam situasi ini, imunisasi menjadi perlindungan jangka panjang yang semakin penting.
Kolaborasi Jadi Kunci Kepercayaan Publik
Pemerintah, tenaga kesehatan, dan media perlu bekerja bersama. Tujuannya untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi.
Informasi medis yang kompleks harus disampaikan secara sederhana. Dengan begitu, masyarakat lebih mudah memahami manfaat vaksin.
“Keputusan melengkapi imunisasi bisa menjadi langkah kecil yang berdampak besar,” tutup Dante.
Kesimpulan
Masalah “zero dose” bukan sekadar angka statistik. Ini adalah ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat.
Tanpa intervensi serius, risiko wabah akan terus meningkat. Imunisasi tetap menjadi solusi paling efektif untuk melindungi generasi masa depan.
