SUARAMALANG.COM, Jakarta – Bencana banjir dan longsor yang terjadi secara bersamaan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat kembali menunjukkan dampak yang semakin luas dengan bertambahnya jumlah korban jiwa berdasarkan laporan resmi BNPB pada Sabtu malam.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menyampaikan bahwa total korban meninggal dunia telah mencapai 303 orang, sementara 279 orang lainnya masih dinyatakan hilang setelah proses pendataan intensif di lapangan dilakukan oleh tim gabungan.
Tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI-Polri, BNPB, dan relawan disebut terus bekerja tanpa henti untuk memverifikasi data korban serta menembus berbagai titik bencana yang terisolasi akibat akses yang terputus.
Provinsi Sumatra Utara tercatat sebagai wilayah dengan dampak paling parah, dengan peningkatan data korban meninggal yang signifikan sesuai pembaruan dari BNPB.
Dalam konferensi pers, Suharyanto menyampaikan kutipan resmi, “Saya akan uraikan dari Sumut, korban jiwa yang kemarin 116 korban jiwa, sekarang menjadi 166 jiwa meninggal dunia. Kemudian 143 jiwa yang masih hilang,” yang menunjukkan eskalasi bencana yang terjadi di provinsi tersebut.
Kondisi geografis yang sulit, jembatan yang rusak, serta banyaknya jalur utama yang terputus membuat proses pencarian dan evakuasi di Sumatra Utara berlangsung lebih menantang sejak awal bencana.
Situasi di Provinsi Aceh juga mencatatkan perkembangan data dengan 47 orang meninggal dunia, 51 orang masih hilang, dan 8 orang mengalami luka-luka, dengan daerah Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Tenggara sebagai lokasi terdampak terparah.
Tim SAR di Aceh masih menghadapi kendala besar karena banyak wilayah yang berada di lereng curam, akses jalan yang rusak, serta cuaca yang tidak stabil yang memperlambat proses penjangkauan.
Sementara itu, di Sumatra Barat, BNPB melaporkan 90 korban meninggal dunia, 85 orang hilang, dan 10 orang luka-luka akibat banjir-longsor yang melanda beberapa kabupaten dan kota secara bersamaan.
Padang Panjang, Tanah Datar, Kabupaten Solok, dan Kota Padang tercatat sebagai titik bencana yang menghadapi hambatan longsor serta kerusakan infrastruktur paling serius sehingga pendataan korban diperkirakan masih dapat berkembang.
BNPB menegaskan bahwa seluruh angka korban bersifat dinamis karena proses pencarian terus dilakukan selama 24 jam dengan prioritas pembukaan akses jalan, percepatan evakuasi, serta pendistribusian bantuan logistik.
Kementerian dan lembaga terkait bersama pemerintah daerah juga bergerak cepat menyalurkan bantuan berupa makanan, air bersih, obat-obatan, serta kebutuhan darurat lainnya untuk para penyintas di pos-pos pengungsian.
Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan keprihatinan mendalam atas bencana tersebut dan memastikan pemerintah terus mengirim bantuan melalui jalur darat dan udara meski cuaca buruk menjadi tantangan utama.
Beberapa armada pesawat seperti tiga Hercules C-130 dan satu A-400 telah dikerahkan untuk mempercepat distribusi logistik dan memperkuat operasi penanganan darurat di tiga provinsi terdampak.
Presiden turut menyampaikan pesan resmi melalui akun @presidenrepublikindonesia, “Mari kita senantiasa bersatu dan bergotong royong, mendoakan serta membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana. Semoga masa yang sulit ini dapat segera kita lewati,” sebagai bentuk solidaritas nasional.
Hingga kini, pemerintah terus mengimbau masyarakat di wilayah rawan bencana untuk tetap waspada, mengikuti arahan petugas, dan mengutamakan keselamatan mengingat potensi cuaca ekstrem dan longsor susulan yang masih dapat terjadi.
