SUARAMALANG.COM, Kabupaten Malang – Dinamika pemilihan Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Malang kian menguat menjelang Musyawarah Olahraga Kabupaten Luar Biasa (Musorkablub) yang dijadwalkan pada Februari 2026. Sejumlah nama mulai mencuat sebagai kandidat pengganti Rosyidin, yang mengundurkan diri dari jabatan Ketua KONI periode 2024–2028 pada 20 Desember 2025 lalu.
Kekosongan kursi pimpinan KONI tersebut membuka ruang kontestasi baru. Selain figur internal, bursa calon juga diwarnai kemunculan nama dari luar struktur kepengurusan olahraga. Situasi ini menandai fase krusial bagi arah pembinaan dan prestasi olahraga Kabupaten Malang ke depan, terutama setelah hasil Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur IX 2025 dinilai belum memenuhi target.
Sejauh ini, Mulyono selaku pelaksana tugas sekaligus Wakil Ketua KONI Kabupaten Malang disebut sebagai salah satu kandidat kuat. Nama lain yang juga ramai diperbincangkan adalah Ahmad Sharoni, Kepala Desa Mendalanwangi, Kecamatan Wagir, yang saat ini menjabat Sekretaris PSSI Kabupaten Malang. Di tengah dua figur tersebut, muncul Zia’ul Haq, Sekretaris DPC Partai Gerindra Kabupaten Malang, yang mulai dipandang sebagai alternatif baru dengan potensi kejutan.
Dukungan Cabor dan Isu Pembinaan Atlet
Nama Zia’ul Haq belakangan mengemuka di kalangan pengurus cabang olahraga (cabor) yang memiliki hak suara dalam Musorkablub. Sejumlah cabor menilai pengalaman politik dan jejaring yang dimilikinya dapat menjadi modal untuk memperkuat posisi KONI, terutama dalam hal penganggaran dan keberpihakan terhadap atlet.
Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kabupaten Malang, Choirul Sholeh, menyatakan dukungannya secara terbuka. “Pak Zia cukup mumpuni dan kami yakin akan mampu memajukan KONI untuk membawa prestasi para atletnya nanti,” ujarnya pada Senin (19/1/2026). Pernyataan itu dilatarbelakangi pengalaman Porprov IX 2025, di mana IMI Kabupaten Malang mampu menyumbang empat medali emas dan satu perak.
Zia’ul Haq sendiri tidak menampik adanya dorongan dari sejumlah cabor agar dirinya maju. Ia menilai pembenahan KONI tidak hanya soal target prestasi, tetapi juga menyangkut pemenuhan hak dasar atlet. “Kami memang ingin mengembalikan kejayaan dunia olah raga di Kabupaten Malang, yang pernah jaya,” kata Ketua Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Malang tersebut. Ia juga menyinggung kasus atlet binaraga yang sempat viral karena keterbatasan dukungan anggaran menjelang Porprov lalu, sebagai pengingat pentingnya tata kelola yang lebih serius.
Klaim Dukungan Sharoni dan Agenda Musorkablub
Di sisi lain, Ahmad Sharoni menyatakan kesiapan bersaing, meski harus berhadapan dengan figur berlatar belakang politik. Ia mengklaim telah mengantongi dukungan mayoritas awal dari cabor. Menurut pengakuannya, sekitar 35 dari total 69 ketua cabor disebut telah menyatakan dukungan.
Musorkablub menjadi forum penentu arah kepemimpinan KONI Kabupaten Malang selanjutnya. Pengunduran diri Rosyidin, yang disebut berkaitan dengan evaluasi hasil Porprov IX 2025, mendorong pengurus dan cabor mendesak percepatan musyawarah. Saat ini, roda organisasi dijalankan oleh pelaksana tugas hingga Musorkablub yang direncanakan berlangsung pada 14 Februari 2026.
Kontestasi ini tidak sekadar soal siapa yang terpilih, melainkan bagaimana KONI Kabupaten Malang mampu menjawab tantangan pembinaan atlet, tata kelola anggaran, serta target prestasi jangka panjang. Dengan beragam latar belakang kandidat, Musorkablub mendatang diperkirakan menjadi momentum penting bagi masa depan olahraga daerah.
