Dari Botol Bekas hingga Modul Lingkungan, FBD Arcapada 2026 Dorong MI Anbaul Ulum Menuju Sekolah Adiwiyata

SUARAMALANG.COM, Kabupaten Malang – Kepedulian terhadap lingkungan tidak harus dimulai dari langkah besar. Setidaknya dari ruang kelas, botol plastik bekas, kebiasaan sederhana membuang sampah pada tempatnya, penyadaran menjaga lingkungan dapat ditanamkan sejak anak-anak duduk di bangku sekolah.

Semangat itulah yang dibawa Kelompok 2 Program FISIP UB Bakti Desa (FBD) Arcapada 2026 dalam kegiatan pendampingan menuju sekolah Adiwiyata di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Anbaul Ulum, Desa Pakiskembar, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Koordinator Kelompok 2 Program FBD Arcapada 2026 Farrel Christian menyampaikan, pendampingan menuju Sekolah Adiwiyata dikemas melalui sejumlah kegiatan edukatif dan kreatif. Tidak hanya memberikan sosialisasi mengenai lingkungan, para mahasiswa FISIP UB juga menyusun modul pendamping serta mengajak siswa mempraktikkan langsung pengelolaan dan pemanfaatan kembali barang bekas.

“Modul pendamping menuju sekolah adiwiyata menjadi salah satu bagian penting. Modul dirancang agar dapat secara berkelanjutan digunakan oleh pihak sekolah meskipun masa pengabdian mahasiswa telah selesai,” ungkap Farrel, Selasa (28/7/2026).

Ia menjelaskan, di dalam modul tersebut terdapat panduan berbagai program lingkungan. Mulai dari latar belakang, tujuan, kebutuhan alat dan bahan, hingga tahapan pelaksanaan. Dua program utama yang dimuat dalam modul tersebut adalah GERSANG (Gerakan Stop Buang Sampah Sembarangan) dan Kreasi Bahan Bekas.

“Program ini tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan kegiatan selama mahasiswa berada di desa. Kami ingin meninggalkan panduan yang dapat diteruskan oleh sekolah sehingga kebiasaan peduli lingkungan bisa tetap berjalan,” ujar Farrel.

Salah satu kegiatan yang menyasar siswa kelas III MI Anbaul Ulum adalah GERSANG atau Gerakan Stop Buang Sampah Sembarangan. Melalui program ini, mahasiswa mengajak siswa mengenali jenis-jenis sampah sekaligus memahami pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Materi yang diberikan mencakup pengenalan sampah organik, anorganik, serta bahan berbahaya dan beracun (B3).

Agar pesan lingkungan lebih mudah diterima anak-anak, kegiatan dikemas dengan pendekatan yang menyenangkan. Penyampaian materi menggunakan power point dipadukan dengan permainan ice breaking pemilahan sampah dan lomba mewarnai bertema lingkungan.

“Suasana belajar pun dibuat tidak kaku. Siswa tidak sekadar mendengarkan penjelasan, tetapi diajak berinteraksi dan mengenali jenis sampah melalui aktivitas yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari,” kata Farrel.

Pihaknya berharap, melalui Porgram Gersang ini, pemahaman tentang pemilahan sampah sejak dini dapat berkembang menjadi kebiasaan. Sebab, budaya sekolah yang peduli lingkungan tidak dibangun dalam satu kegiatan, melainkan melalui perilaku sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Selanjutnya Program Kreasi Bahan Bekas yang dikenalkan kepada para siswa. Menurutnya, melalui program Kreasi Bahan Bekas, para siswa kelas VI MI Anbaul Ulum diajak untuk memanfaatkan kembali barang yang sudah tidak terpakai.

Pihaknya menyebut, para mahasiswa mengajak siswa mengubah sejumlah barang bekas, seperti galon plastik, gelas plastik, dan ember cat, menjadi pot tanaman. Para siswa dibagi dalam kelompok kecil untuk membersihkan, memotong, menghias, hingga mengisi pot dengan bibit tanaman hias.

Selama kurang lebih dua jam, siswa mendapatkan pengalaman langsung mengenai konsep reuse dan recycle. Melalui Program Kreasi Bahan Bekas, sampah anorganik yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah justru diubah menjadi benda yang memiliki nilai guna.

“Pot hasil kreativitas siswa kemudian ditempatkan di lingkungan sekolah. Selain memberikan ruang bagi siswa untuk berkreasi, kegiatan ini turut mendukung upaya penghijauan MI Anbaul Ulum,” kata Farrel.

Selain itu, para mahasiswa dari Kelompok 2 FBD Arcapada 2026 juga mengajak para siswa untuk memanfaatkan botol plastik bekas yang sudah tidak terpakai menjadi celengan. Melalui kegiatan tersebut, terdapat dua kebiasaan positif yang diperkenalkan. Yakni memanfaatkan kembali barang bekas dan membangun budaya menabung sejak dini.

Botol plastik bekas yang sudah tidak digunakan diberi fungsi baru sebagai celengan. Siswa dapat menghias dan mengembangkan kreativitasnya untuk menghasilkan celengan yang menarik dan memiliki nilai guna.

“Pesan yang ingin ditanamkan pun sederhana: menjaga lingkungan dapat dimulai dari hal-hal kecil. Barang yang dianggap tidak berguna masih dapat dimanfaatkan apabila diolah dengan kreativitas,” beber Farrel.

Lebih lanjut, serangkaian kegiatan pendampingan yang dilakukan Kelompok 2 FBD Arcapada 2026 pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai upaya meraih predikat Sekolah Adiwiyata. Lebih dari itu, kegiatan pendampingan diarahkan untuk membangun kebiasaan dan kesadaran warga sekolah agar kebersihan lingkungan menjadi bagian dari keseharian proses pendidikan.

Melalui modul pendamping, edukasi pemilahan sampah, pemanfaatan barang bekas, penghijauan, hingga kebiasaan menabung, mahasiswa berupaya menghadirkan program yang sederhana tetapi dapat diteruskan secara berkelanjutan.

“Dengan demikian, jejak pengabdian mahasiswa tidak berhenti ketika program FBD Arcapada 2026 berakhir. Pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan yang telah diperkenalkan diharapkan dapat terus berkembang menjadi budaya di MI Anbaul Ulum,” tutur Farrel.

Dari sebuah botol bekas, pot tanaman, hingga kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, perubahan lingkungan memang dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana. Namun ketika dilakukan bersama dan secara konsisten, langkah kecil tersebut dapat menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar.

Sementara itu, Kepala Sekolah MI Anbaul Ulum Ahmad Samsudin, S.Pd.I menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kelompok 2 FBD Arcapada 2026 yang telah memberikan dedikasinya terhadap tumbuh kembang karakter anak-anak agar lebih peduli terhadap lingkungan.

“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kelompok 2 FBD Arcapada 2026 yang telah memberikan edukasi bermanfaat terkait kepedulian terhadap lingkungan kepada para siswa MI Anbaul Ulum. Semoga apa yang telah diberikan terus bermanfaat ke depannya,” tandas Samsudin.

Exit mobile version