FK UB Perkuat Budaya Keselamatan Laboratorium Lewat Sosialisasi K3 untuk Sivitas Akademika

SUARAMALANG.COM, Kota Malang – Program Studi S2 Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya menggelar sosialisasi penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di laboratorium, Selasa (19/5/2026). Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman sivitas akademika mengenai budaya keselamatan kerja dalam aktivitas pendidikan dan penelitian.

Sosialisasi berlangsung di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya dengan menghadirkan sejumlah narasumber bidang keselamatan kerja dan pengelolaan laboratorium. Selain menyampaikan materi teoritis, panitia juga mengajak peserta memahami mitigasi risiko melalui sesi diskusi dan evaluasi langsung.

FK UB Tekankan Pentingnya Penerapan K3 di Laboratorium

dr. Hikmawan Wahyu Sulistomo, Ph.D membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menegaskan penerapan K3 menjadi bagian penting untuk menciptakan laboratorium yang aman dan produktif.

Menurut Hikmawan, keselamatan kerja bukan hanya tanggung jawab institusi. Seluruh pengguna laboratorium juga wajib menjaga keamanan lingkungan kerja.

“Penerapan K3 di laboratorium tidak hanya menjadi kewajiban institusi,” ujar dr. Hikmawan Wahyu Sulistomo.

Ia menilai budaya keselamatan perlu terus diperkuat karena aktivitas laboratorium memiliki berbagai potensi risiko. Selain itu, penelitian dan praktik pendidikan sering melibatkan bahan kimia maupun alat dengan standar keamanan tinggi.

Peserta Pelajari Konsep K3R Universitas Brawijaya

Prof. Dr. Ir. Qomariyatus Sholihah menyampaikan materi awal mengenai pengantar K3 dan konsep K3R di Universitas Brawijaya. Dalam paparannya, peserta mempelajari prinsip keselamatan kerja serta penguatan budaya aman di lingkungan kampus.

Peserta juga memahami konsep K3R sebagai sistem pengelolaan keselamatan dan keberlanjutan di lingkungan akademik. Menurut pemateri, pendekatan tersebut penting untuk menciptakan laboratorium yang lebih tertib dan minim risiko.

Melalui sesi tersebut, mahasiswa dan peneliti memahami bahwa keselamatan kerja harus menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Karena itu, mereka tidak boleh mengabaikan prosedur laboratorium dalam aktivitas riset.

Pengelolaan Limbah dan Risiko Laboratorium Jadi Fokus

Midia Lestari Wahyu Handayani melanjutkan materi mengenai pengelolaan limbah medis dan penanganan bahan kimia berbahaya.

Penggunaan APD dan Mitigasi Risiko Diperkuat

Dalam pemaparannya, peserta mempelajari tata cara pengelolaan limbah medis sesuai standar keselamatan. Mereka juga memahami prosedur penanganan bahan kimia berbahaya untuk mencegah kecelakaan kerja.

Panitia kemudian membahas manajemen risiko dan penggunaan alat pelindung diri (APD). Materi tersebut mencakup identifikasi bahaya, penilaian risiko melalui metode HIRARC, hingga prosedur pertolongan pertama.

Peserta juga mengenali berbagai potensi bahaya yang sering muncul di laboratorium penelitian. Dengan pemahaman itu, mereka dapat menentukan langkah mitigasi sebelum risiko berkembang menjadi kecelakaan kerja.

“Melalui sesi ini, peserta diharapkan mampu mengenali potensi bahaya di laboratorium,” terang pemateri dalam sesi sosialisasi.

Kegiatan berlangsung interaktif melalui diskusi, wrap up, dan post test untuk mengukur pemahaman peserta. Ke depan, Program Studi S2 Ilmu Biomedik FK UB berharap budaya keselamatan kerja dapat diterapkan secara konsisten dalam seluruh aktivitas laboratorium.

Exit mobile version