SUARAMALANG.COM – Menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Kota Malang menawarkan banyak pengalaman menarik, mulai dari berburu kuliner, mengerjakan tugas di kafe, hingga menghabiskan akhir pekan bersama teman. Namun, jika tidak diimbangi pengelolaan keuangan yang baik, berbagai aktivitas tersebut bisa membuat uang bulanan habis sebelum waktunya.
Di tengah tren gaya hidup dan budaya nongkrong yang dekat dengan kehidupan anak muda, frugal living dan slow living bisa menjadi pilihan untuk menjalani hari dengan lebih bijak. Kedua konsep ini mengajak mahasiswa mengatur pengeluaran, menentukan prioritas, serta menikmati kehidupan tanpa harus selalu mengikuti tren konsumsi.
Frugal living bukan berarti meniadakan kesenangan atau memilih segala sesuatu yang paling murah. Gaya hidup ini lebih menekankan keputusan belanja yang sadar, sesuai kebutuhan, dan sebanding dengan manfaat yang diperoleh.
Sementara itu, slow living mengajak seseorang menjalani kehidupan dengan ritme yang lebih seimbang, tidak terus-menerus terburu-buru, dan menyediakan waktu untuk beristirahat. Jika diterapkan bersama, keduanya dapat membantu mahasiswa menikmati kehidupan di Kota Malang tanpa mengabaikan kondisi keuangan maupun kesehatan diri.
1. Mengatur Uang Makan Tanpa Mengorbankan Kebutuhan Gizi
Pengeluaran untuk makan sehari-hari menjadi salah satu pos yang perlu diperhatikan mahasiswa, terutama mereka yang tinggal di kos. Kebiasaan membeli makanan melalui layanan pesan-antar atau makan di kafe berkali-kali dalam seminggu dapat membuat anggaran konsumsi membengkak.
Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan warung makan, kantin kampus, dan tempat makan dengan harga yang sesuai anggaran. Mahasiswa juga dapat memilih menu yang mengombinasikan sumber karbohidrat, protein, dan sayuran agar kebutuhan gizi tetap diperhatikan.
Selain itu, memasak sendiri bisa menjadi alternatif untuk mengendalikan pengeluaran. Mahasiswa dapat merencanakan menu mingguan, berbelanja bahan makanan sesuai kebutuhan, dan menyiapkan bekal untuk dibawa ke kampus.
Aktivitas memasak bersama teman kos juga bisa menjadi cara sederhana untuk menghabiskan waktu tanpa harus selalu mengeluarkan uang untuk hiburan. Kuncinya bukan sekadar menekan biaya makan, melainkan mengatur pengeluaran agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.
2. Belajar Nyaman Tanpa Harus Selalu ke Kafe
Kafe dengan suasana nyaman memang kerap menjadi pilihan mahasiswa untuk mengerjakan tugas, membaca, atau berdiskusi. Namun, kebiasaan work from cafe (WFC) dapat menambah pengeluaran apabila setiap kunjungan selalu diikuti pembelian kopi, makanan ringan, atau menu lainnya.
Mahasiswa dapat menyiasatinya dengan memanfaatkan fasilitas belajar yang tersedia di kampus, seperti perpustakaan, ruang baca, dan area belajar bersama. Fasilitas tersebut dapat menjadi alternatif ketika ingin fokus menyelesaikan tugas tanpa perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk makanan dan minuman.
Ruang publik juga bisa menjadi pilihan untuk mencari suasana baru. Taman Merbabu, Hutan Kota Malabar, dan kawasan taman kota lainnya dapat dimanfaatkan untuk membaca atau menikmati waktu luang, selama aktivitas yang dilakukan sesuai dengan fasilitas dan ketentuan di lokasi.
Sebelum berkunjung, mahasiswa sebaiknya memeriksa jam operasional, ketersediaan fasilitas, serta aturan penggunaan ruang publik. Dengan begitu, kegiatan belajar dan bersantai tetap nyaman tanpa bergantung pada tempat komersial.
3. Menikmati Akhir Pekan dengan Hiburan yang Lebih Terjangkau
Akhir pekan tidak harus selalu diisi dengan berbelanja di pusat perbelanjaan atau mengunjungi tempat wisata berbayar. Kota Malang memiliki sejumlah ruang publik yang dapat menjadi pilihan untuk berjalan santai, berbincang bersama teman, atau sekadar menikmati suasana kota.
Mahasiswa dapat mengagendakan jalan kaki di kawasan Jalan Ijen, menikmati suasana Alun-Alun Tugu dari area yang diperbolehkan untuk pengunjung, atau menyusuri kawasan Kayutangan Heritage sambil mengenal sisi historis Kota Malang.
Kegiatan sederhana seperti piknik, membaca buku di taman, atau berjalan santai pada sore hari juga bisa menjadi cara untuk mengambil jeda dari rutinitas perkuliahan.
Meski demikian, pengeluaran tetap perlu diperhitungkan. Biaya transportasi, parkir, makanan, dan kebutuhan lain sebaiknya masuk dalam anggaran rekreasi agar kegiatan akhir pekan tidak justru mengganggu keuangan pada hari-hari berikutnya.
Melalui pendekatan slow living, mahasiswa juga dapat belajar menikmati waktu tanpa harus selalu mengejar pengalaman baru yang membutuhkan biaya. Terkadang, waktu berkualitas bersama teman atau kesempatan beristirahat di tengah kesibukan kuliah sudah cukup memberikan suasana yang berbeda.
4. Belanja Lebih Bijak, Tidak Mudah Terpengaruh Tren
Media sosial membuat berbagai tren pakaian, aksesori, hingga dekorasi kamar kos mudah menarik perhatian. Jika tidak disertai pertimbangan yang matang, keinginan mengikuti tren dapat berubah menjadi pengeluaran impulsif.
Salah satu strategi yang bisa diterapkan adalah memberi jeda sebelum membeli barang yang bukan kebutuhan mendesak. Misalnya, menunggu 48 jam sebelum memutuskan membeli pakaian atau aksesori yang menarik perhatian.
Jeda tersebut memberi kesempatan untuk mempertimbangkan apakah barang benar-benar dibutuhkan, apakah masih ada barang serupa yang bisa digunakan, dan apakah pembeliannya sesuai dengan anggaran.
Mahasiswa juga dapat mempertimbangkan barang preloved atau produk bekas yang masih layak pakai untuk kebutuhan tertentu. Pasar barang bekas dan komunitas jual-beli antarmahasiswa bisa menjadi alternatif, asalkan kondisi barang, harga, dan keamanan transaksi diperiksa terlebih dahulu.
Prinsip pentingnya adalah mengutamakan fungsi dan kualitas. Barang tidak harus selalu baru untuk dapat digunakan dengan baik, sedangkan barang yang sedang tren belum tentu perlu dimiliki.
5. Terapkan Anggaran Bulanan agar Keuangan Lebih Terkendali
Gaya hidup hemat akan lebih mudah dijalankan jika mahasiswa memiliki gambaran jelas mengenai pemasukan dan pengeluaran. Karena itu, membuat anggaran bulanan menjadi langkah penting untuk mengetahui ke mana uang digunakan.
Mahasiswa bisa memulai dengan mencatat kebutuhan utama, seperti biaya kos, makan, transportasi, kuliah, komunikasi, dan kebutuhan pribadi. Setelah itu, tentukan batas pengeluaran untuk hiburan, nongkrong, serta belanja nonprimer.
Mencatat pengeluaran harian melalui buku atau aplikasi pencatat keuangan juga dapat membantu menemukan kebiasaan yang selama ini tidak disadari. Pembelian kecil yang dilakukan berulang kali, misalnya, bisa menjadi pengeluaran cukup besar jika dijumlahkan dalam sebulan.
Anggaran tersebut tidak harus kaku. Mahasiswa tetap bisa menyediakan dana untuk menikmati kuliner atau berkumpul bersama teman, selama pengeluaran itu tidak mengambil alokasi kebutuhan pokok maupun dana darurat.
Dengan perencanaan yang realistis, mahasiswa dapat tetap bersosialisasi tanpa terus-menerus merasa khawatir setiap kali mengeluarkan uang.
Frugal Living dan Slow Living Bukan Berarti Membatasi Kebahagiaan
Menerapkan frugal living dan slow living bukan berarti mahasiswa harus berhenti nongkrong, menghindari kafe, atau menolak semua tren yang sedang populer. Intinya adalah memahami prioritas dan memilih aktivitas yang benar-benar memberikan manfaat.
Kota Malang menyediakan beragam pilihan untuk menikmati kehidupan mahasiswa, mulai dari kuliner yang beragam hingga ruang publik untuk belajar dan bersantai. Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara bijak agar pengalaman kuliah tetap menyenangkan tanpa harus mengorbankan kestabilan keuangan.
Pada akhirnya, hidup hemat bukan tentang siapa yang paling sedikit mengeluarkan uang. Gaya hidup ini lebih berkaitan dengan kemampuan mengelola sumber daya yang dimiliki, sedangkan slow living mengingatkan bahwa kehidupan tidak harus selalu dipenuhi aktivitas dan tuntutan untuk mengikuti tren.
Bagi mahasiswa, keduanya bisa menjadi langkah sederhana untuk membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat sekaligus menikmati masa kuliah dengan lebih seimbang.












