SUARAMALANG.COM, Nasional – Indonesia kini menempati posisi kedua dunia dalam kasus campak. Data Ikatan Dokter Anak Indonesia mencatat 10.744 kasus.
Jumlah itu hanya berada di bawah Yaman dengan 11.288 kasus. Situasi ini menjadi sinyal peringatan bagi sektor kesehatan.
Keraguan Orang Tua Jadi Sorotan
Ketua IDAI, dr Piprim Basarah Yanuarso, menyoroti faktor sosial di balik lonjakan kasus. Ia melihat masih ada keraguan orang tua.
“Sejak 2012 saya sering debat dengan kelompok penolak vaksin. Ternyata sampai 2026 masih ada yang takut,” ujarnya.
“Ini kemunduran, karena Indonesia kini jadi juara kedua kasus campak dunia,” jelasnya melansir republika.co.id.
Campak Bukan Penyakit Ringan
Campak dapat memicu berbagai komplikasi serius pada anak. Risiko meningkat pada anak dengan kondisi tubuh lemah.
“Campak bisa menyebabkan pneumonia, diare berat, hingga radang otak,” kata Piprim melansir republika.co.id.
Komplikasi tersebut dapat berdampak jangka panjang jika tidak tertangani dengan baik.
Penularan Sangat Cepat
Virus campak memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi. Satu penderita bisa menularkan ke banyak orang sekaligus.
Angka reproduksi dasar mencapai 12 hingga 18. Angka ini melampaui tingkat penularan Covid-19.
Kondisi ini membuat penyebaran campak sulit dikendalikan dalam waktu singkat.
Ancaman Saat Mobilitas Tinggi
Peningkatan mobilitas masyarakat memperbesar risiko penularan campak. Momentum libur panjang menjadi perhatian penting.
Pergerakan orang dalam jumlah besar mempercepat penyebaran virus. Situasi ini membutuhkan kewaspadaan semua pihak.
“Ini masalah serius. Kita harus bersama meningkatkan perlindungan anak,” kata Piprim melansir republika.co.id.
