Jatim Dilanda Cuaca Ekstrem, 3.000 Hektare Sawah Puso tapi Produksi Padi Tetap Aman

SUARAMALANG.COM, Jawa Timur – Cuaca ekstrem yang melanda Jawa Timur dalam beberapa waktu terakhir sempat memicu kekhawatiran petani. Tak sedikit lahan pertanian terdampak banjir dan hujan intens, bahkan tercatat sekitar 3.000 hektare sawah mengalami gagal panen atau puso di sejumlah daerah seperti Pasuruan dan Bojonegoro.

Meski begitu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan kondisi tersebut tidak menggoyang capaian produksi padi sepanjang 2025. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Heru Suseno, menegaskan puso yang terjadi justru tidak berdampak signifikan terhadap hasil panen.

Menurut Heru, sebagian besar lahan yang terdampak puso berada pada fase akhir masa tanam, bahkan sudah melewati periode panen. Dengan kondisi tersebut, kerugian produksi dapat ditekan.

“Puso kemarin itu 3.000 hektare tapi kan tersebar, itu total di Jawa Timur. Itu kemudian sudah dipenuhi bantuan,” ujar Heru, Rabu (14/1/2026).

Ia juga menjelaskan bahwa tidak semua hujan deras berujung pada kerusakan tanaman. Di beberapa wilayah, genangan air dilaporkan cepat surut sehingga tidak mengganggu pertumbuhan padi secara berarti.

“Kalau banjir, tidak semuanya melanda sawah. Ada hujan deras, besoknya sudah surut, sehingga tidak banyak mengganggu tanaman,” tuturnya.

Kendati demikian, Heru mengaku pihaknya tetap meningkatkan kewaspadaan menyusul peringatan BMKG terkait potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga awal Februari 2026. Terlebih, periode tersebut cukup dekat dengan jadwal panen padi yang diproyeksikan berlangsung pada Maret 2026.

Sebagai langkah antisipasi, Dinas Pertanian Jatim terus melakukan pendataan di lapangan untuk mengidentifikasi kemungkinan munculnya puso baru akibat cuaca ekstrem. Heru memastikan, petani yang terdampak tidak akan dibiarkan menanggung kerugian sendiri.

“Kalau ada puso, pasti ada penggantian benih. Kami komunikasi dengan Kementerian Pertanian. Petani jangan khawatir, bisa tanam kembali,” tegasnya.

Bantuan yang diberikan meliputi penggantian benih serta fasilitasi tanam ulang bekerja sama dengan Kementerian Pertanian. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas produksi pangan di tengah tantangan iklim.

Lebih jauh, Heru justru optimistis produksi padi Jawa Timur pada 2026 akan mengalami peningkatan. Optimisme itu didasarkan pada luas tanam pada periode Oktober hingga Desember 2025 yang tercatat lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Kalau kita melihat, maka tahun 2026 nanti produksinya kira-kira akan meningkat karena kita melihat bulan Oktober, November, Desember (luas tanam 2025) lebih besar dibanding tahun 2024,” tutup Heru.

Sumber: Bisniscom

Exit mobile version