SUARAMALANG.COM,Kabupaten Malang – Padepokan Seni Mangun Dharma kembali menjadi pusat perhatian jagat seni pertunjukan dengan digelarnya Kembul Topeng #3 pada Sabtu–Minggu (30–31/8) Agenda budaya ini menghadirkan para maestro topeng lintas generasi, akademisi seni, serta komunitas rakyat dari berbagai daerah di Indonesia.
Sabtu malam, acara dibuka dengan Joget Sepuh, sebuah pertemuan sakral para maestro tari topeng yang rata-rata bersahabat dekat dengan Ki Soleh Adi Pramana, dalang sekaligus pimpinan Padepokan Mangun Dharma. Dalam sambutannya, Ki Soleh menegaskan pentingnya merawat tradisi topeng di tengah gempuran modernitas.
“Peristiwa langka ini mari kita khidmatkan pada kesenian topeng agar tidak punah, sekaligus menyampaikan pesan ke generasi muda perlunya meruat dan merawat topeng sebagai warisan hidup,” ujarnya.
Deretan maestro dari Malang, Surabaya, Indramayu, hingga Losari tampil mempersembahkan mozaik seni topeng. Mulai dari topeng samba, kelana, hingga tujuh wanda topeng Losari ditampilkan secara bergantian. Malam ditutup dengan Joget Bareng Maestro, menghadirkan suasana kebersamaan lintas daerah.
Budayawan Romo Sindhunata yang turut hadir menilai peristiwa ini bukan sekadar nostalgia. “Ini bukan sekadar romantika, tetapi jembatan lintas generasi yang menyampaikan estafeta seni topeng agar tidak punah tergerus zaman,” ungkapnya.
Puncak acara pada Minggu (31/8) menghadirkan skala lebih luas. Kampus seni seperti ISI Surakarta, ISI Yogyakarta, ISI Denpasar, ISBI Bandung, STKW Surabaya, UNESA, Universitas Negeri Malang, hingga IKJ ikut berpartisipasi. Komunitas rakyat dari Jakarta, Cirebon, Majalengka, Surakarta, hingga Banyuwangi juga turut meramaikan.
Budayawan Surabaya, Dr. Arif Rofiq, menegaskan bahwa dukungan pemerintah mutlak diperlukan agar seni topeng tidak sekadar bertahan lewat inisiatif komunitas. “Negara wajib mengambil peran dengan pembinaan dan dukungan dana abadi kebudayaan. Jika tidak, warisan budaya tak benda Indonesia berupa seni topeng perlahan akan musnah,” tegasnya.
Kembul Topeng #3 menunjukkan bahwa seni topeng bukan hanya tradisi lokal, melainkan bahasa budaya lintas wilayah dan lintas generasi. Dari panggung sakral Joget Sepuh hingga puncak Nusantara, festival ini menegaskan pesan yang sama: topeng adalah identitas, warisan, sekaligus jembatan menuju masa depan kebudayaan bangsa.
Pewarta :*Solihin